Ulama Muda Muhammadiyah Jadi Narasumber SILATNAS ASWAJA di Tengah Para Kyai NU

Depok- Silaturahim Nasional Penguatan Aswaja di Pesantren Al-Hikam II Depok digelar di hari Ahad (7/12/2104) kemarin. Acara ini dimotori KH. Hasyim Muzadi sebagai tuan rumah di Pondok Pesantren yang diasuhnya. Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin ikut hadir memberikan sambutannya.  Ada sekitar 5 narasumber dari kalangan ulama Indonesia yang memaparkan tentang paham keaswajaan. Narasumber tersebut adalah KH.Afifuddin Muhajir, Dr.KH. Malik Madani (Katib ‘Am PBNU), KH.Marzuqi Mustamar, Dr.KH.Abdullah Syamsul Arifin dan Ust.Fahmi Salim,Lc,MA.  Ada satu hal yang menarik, Ust.Fahmi Salim yang merupakan anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menjadi satu-satunya narsum dari kalangan Muhammadiyah ditengah Kyai – kyai NU

Acara ini juga turut mengundang Ketua BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme), Komjen Pol.Saud Usman. Dalam kesempatan Ust.Fahmi Salim menyampaikan makalah Gerakan Liberalisasi Islam di Indonesia Dari Hermeneutika Hingga Penistaan Akidah ASWAJA.

Berikut cuplikan makalah beliau:

Sejarah liberalisme termasuk juga liberalisme agama adalah tonggak baru bagi sejarah kehidupan masyarakat Barat dan karena itu, disebut dengan periode pencerahan. Perjuangan untuk kebebasan mulai dihidupkan kembali di zaman renaissance di Italia. Paham ini muncul ketika terjadi konflik antara pendukung-pendukung negara kota yang bebas melawan pendukung Paus.

Prinsip dasar liberalisme adalah keabsolutan dan kebebasan yang tidak terbatas dalam pemikiran, agama, suara hati, keyakinan, ucapan, pers dan politik. Di samping itu, liberalisme juga membawa dampak yang besar bagi sistem masyarakat Barat, di antaranya adalah mengesampingkan hak Tuhan dan setiap kekuasaan yang berasal dari Tuhan; pemindahan agama dari ruang publik menjadi sekedar urusan individu; pengabaian total terhadap agama Kristen dan gereja atas statusnya sebagai lembaga publik, lembaga hukum dan lembaga sosial.

Pemikiran Islam liberal sebenarnya berakar dari pengaruh pandangan hidup Barat dan hasil perpaduan antara paham modernisme yang menafsirkan Islam sesuai dengan modernitas; dan paham posmodernisme yang anti kemapanan. Upaya merombak segala yang sudah mapan kerap dilakukan, seperti dekonstruksi atas definisi Islam sehingga orang non-Islam pun bisa dikatakan Muslim, dekonstruksi Al-Qur’an sebagai kitab suci, dan sebagainya. Islam liberal sering memanfaatkan modal murah dari radikalisme yang terjadi di sebagian kecil kaum Muslimin, dan tidak segan-segan mengambil hasil kajian orientalis, metodologi kajian agama lain, ajaran HAM versi humanisme Barat, falsafah sekularisme, dan paham lain yang berlawanan dengan Islam.

*redaksi Sang Pencerah