Sunni Biang Perpecahan dan Diberhalakan ? Catatan untuk Prof. A. Syafii Maarif

Oleh: Fahmi Salim, MA 
(Anggota Majelis
Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah 2010-2015)
Di kolom Resonansi Harian Umum
Republika tanggal 9 Desember 2014, Buya Maarif, sapaan akrab Prof. A. Syafii
Maarif, mantan Ketum PP Muhammadiyah, menumpahkan uneg-unegnya seputar sejarah
perpecahan politik dalam Islam yang melahirkan 3 sekte besar yaitu: Sunni,
Syi’ah dan Khawarij. Lihat
http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/14/12/08/ng9s7l-islam-dalam-krisis-1
Beliau, sebagai ahli sejarah,
membentangkan ringkas krisis politik pasca wafatnya Rasulullah SAW terutama
peristiwa Perang Onta (35 H/656 M) yang melibatkan para sahabat dan isteri Nabi
pasca terbunuhnya Khalifah Usman bin Affan, dan Perang Shiffin (657 M) yang
berujung kepada tahkim (arbitrase) di Daumatul Jandal. Beliau lalu menulis,
“Saya rekamkan
kejadian tragis ini bukan untuk membuka luka yang telah berusia belasan abad,
tetapi untuk menyadarkan kita semua bahwa sengketa yang berdarah-darah di atas
sepenuhnya adalah gejala Arab, bukan mewakili Alquran yang dengan tegas
memerintahkan agar orang beriman itu bersaudara dan berdamai. (Al-Ĥujurât: 10)”
Di penghujung Resonansi-nya beliau
menyatakan, “Sunni yang muncul sebagai golongan mayoritas merasa diri selalu
berada di pihak yang benar dengan menuduh kelompok syi’ah dan khawarij sebagai
pihak yang salah. Cara pandang yang semacam ini harus dihalau jauh-jauh
dengan menjadikan Alquran sebagai hakim dan rujukan yang tertinggi
.”
Tak lupa beliau dengan gemas
menyatakan, Sunni, syi’ah, dan khawarij adalah buah dari perpecahan
politik, mengapa kemudian diberhalakan?
Pemberhalaan inilah yang selama
ratusan tahun telah menghancurkan persaudaraan sejati umat Islam,…”
Pertama, saya ingin mengapresiasi buah fikiran
Buya Maarif sebagai seorang pakar sejarah dan politik Islam, yang telah
meluangkan waktunya untuk menuliskan kegundahannya seputar sejarah konflik
sekte-sekte Islam sejak awal kemunculannya, yang kemudian direfleksikan beliau
dalam konteks saat ini. Konteks sejarah modern yang masih pula melanjutkan dan
mewarisi konflik sektarian masa silam. Kita semua tentu berkeinginan agar
seluruh muslim bersatu, apa pun sektenya di dunia ini. Tak ada lagi mengusung
sunni, syiah atau khawarij dan saling menuduh pihak-pihak lain sebagai sesat
atau keluar dari Islam. Namun sejarah dan alur pemikiran Islam tidak
sesederhana yang kita bayangkan, dan kadang tidak sesuai dengan yang kita
idealkan.
Kedua, saya juga mengapresiasi pernyataan
Buya Maarif yang masih kental “kesunnian-nya”, meski beliau bersikeras tidak
ingin diasosiasikan kepada aliran Islam tertentu. Bukti kesunnian Buya adalah
pernyataannya dalam bagian Resonansi itu, “Menurut hadist, sebagai sahabat
nabi, mereka yang terlibat dalam peperangan ini telah dijamin masuk surga.”
.
Juga yang ini, “Adapun mereka itu dijamin masuk surga sepenuhnya adalah
urusan Allah dengan mereka, kita tidak tahu.”
Kedua pernyataan itu hemat
saya yang bodoh ini, mencerminkan alam fikiran Sunni yang memegang teguh
hadis-hadis Nabi Muhammad SAW yang menjamin beberapa orang sahabat Nabi masuk
sorga. Artinya sebenarnya beliau sangat menghormati para sahabat Nabi itu,
meskipun terlibat dalam konflik politik sesama mereka. Dan tidak saya dapatkan
cacian ataupun celaan Buya terhadap fakta sejarah Islam itu, sebagaimana yang
khas di kalangan Syi’ah maupun Khawarij yang suka mencela, melaknat dan
mengkafirkan para sahabat Nabi bahkan istri Nabi Aisyah RA. (Berbagai bukti
yang melimpah soal celaan dan pengkafiran yang dilakukan Syi’ah dan Khawarij
itu bisa dibaca dalam buku Khawarij dan Syi’ah dalam Timbangan Ahlussunnah
wal Jamaah
karya Prof. Dr. Ali Muhammad al-Shallabi [Pustaka al-Kautsar:
2012] dan Panduan MUI Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di
Indonesia
[Formas: 2013], pen)
Ketiga, saya sepakat dan mendukung 100 persen
lontaran positif Buya Maarif yang menyatakan, ” Cara pandang yang semacam
ini (menyalahkan syi’ah dan khawarij, pen.) harus dihalau jauh-jauh dengan
menjadikan Alquran sebagai hakim dan rujukan yang tertinggi.”
Kenapa
demikian? Karena memang para Ulama Islam (ahlussunnah/sunni) yang berwibawa
sepanjang sejarah ketika mengkritisi dan menyalahkan doktrin dan pola pikir
aliran Syi’ah dan Khawarij selalu menjadikan Al-Qur’an dan sunnah Nabi sebagai
hakim dan rujukan yang tertinggi. Tidak pernah para ulama sunni berlaku
semena-mena ketika menyalahkan (baca: menyesatkan) doktrin Syi’ah dan Khawarij,
tanpa dalil-dalil yang kuat dan tegas. 
Dengan fikiran positif seperti inilah,
pada tahun 1997 Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. M. Amien Rais menuliskan kata
pengantar untuk buku “Mengapa Kita Menolak Syi’ah?” sebagai berikut,
“Kami berpendapat bahwa ada kelemahan dan kekurangan dari golongan Syi’ah itu.
Oleh sebab itu kepada segenap ummat Islam dianjurkan untuk mempelajari Syi’ah
secara kritis dengan tetap menjadikan Al-Qur’an dan Al-Sunnah Al-Shahihah
sebagai alat dan standar penelitiannya”. (Penerbit LPPI: 1997, hlm.xiv).
Jadi lontaran Buya di kolom Resonansi
tak jauh berbeda dengan apa yang dianjurkan oleh Dr. M. Amin Rais, Ketua PP
Muhammadiyah (1995-2000). Hal ini pula yang melandasi keluarnya 4 butir poin
hasil Pleno PP Muhammadiyah menyikapi Syi’ah sebagai berikut,
Pertama: Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad  yang
ma’shum. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep kesucian Imam-imam
(ma’shumnya imam-mam) dalam ajaran Syi’ah.
Kedua: Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad tidak
menunjuk siapa pun pengganti beliau sebagai Khalifah. Kekhalifahan setelah
beliau diserahkan kepada musyawarah umat, jadi kekhalifahan Abu Bakar
Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu anhum adalah sah. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep
Rafidhahnya Syi’ah.
Ketiga: Muhammadiyah menghormati Ali bin Abi Thalib
sebagaimana sahabat-sahabat yang lain, tetapi Muhammadiyah menolak kultus
individu terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.
Keempat: Syi’ah hanya menerima hadis dari jalur Ahlul
Bait, ini berakibat ribuan hadis shahih –walaupun diriwayatkan Bukhari Muslim-
ditolak oleh Syi’ah. Dengan demikian, banyak sekali perbedaan antara Syi’ah dan
Ahlussunnah baik masalah Aqidah, Ibadah, Munakahat, dan lain-lainnya.
Sikap tersebut hendaknya menjadi pedoman bagi warga
Muhammadiyah khususnya dan umat Islam pada umumnya, sehingga dengan demikian
kita bersikap waspada terhadap ajaran dan doktrin Syi’ah yang memang sangat
berbeda dengan faham Ahlussunnah yang banyak dianut oleh mayoritas umat Islam
Indonesia.
Sumber: Majalah
Tabligh No. 7/IX/ Jumadal Awal-Jumadil Akhir 1433 H, hal 5. (lihat http://koepas.org/index.php/berita/372-sikap-resmi-muhammadiyah-terhadap-syi-ah)
Tentu saja 4 butir sikap
resmi PP Muhammadiyah itu keluar setelah mengkaji doktrin dan ajaran Syi’ah
Imamiyah (Rafidhah, yang berkembang di Indonesia) dengan menjadikan
Al-Quran dan Sunnah Shahihah sebagai alat dan standar penelitiannya. Apalagi,
Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah sekaligus Ketua MUI Pusat bidang
Pengkajian telah mensupervisi langsung buku Panduan MUI tentang Penyimpangan
Syi’ah di Indonesia.
Ijinkan saya yang bodoh
ini bertanya kepada Buya Maarif yang mumpuni ilmunya melebihi kapasitas saya
yang fakir ilmu. Apakah ada di dalam Al-Qur’an, ada ayat yang menyatakan bahwa
imam (pemimpin politik dan agama) itu maksum (infallible, suci dari dosa)? Adakah
ayat Qur’an atau satupun hadis Nabi yang sahih menegaskan penunjukan Ali bin
Abi Thalib dan 11 keturunannya sebagai imam pasca wafatnya Rasulullah SAW? Adakah
ayat Qur’an atau hadis shahih yang menyatakan imamah Ali dan keturunannya itu
adalah salah satu pokok ajaran agama Islam (termasuk Rukun Iman yang Enam)? Adakah
ayat Qur’an atau hadis Nabi yang membolehkan bahkan menganjurkan kita mencela
dan mengkafirkan para Sahabat dan istri Nabi sebagaimana yang diamalkan oleh
kaum Syi’ah [plus Khawarij]? Adakah ayat Qur’an atau hadis sahih yang
membenarkan doktrin bahwa Al-Qur’an yang di tangan muslimin se-dunia sejak
wafatnya Nabi hingga saat ini dan nanti adalah palsu, tidak lengkap dan tidak
orisinil, juga telah hilang karena turut hilangnya (ghaib) Imam Mahdi yang
ditunggu kaum Syi’ah itu? Sebagaimana yang diimani dan didoktrinkan Syi’ah
selama ini, sehingga meresahkan umat Islam di tingkat akar rumput, dengan
penyebarannya yang massif. 
Pertanyaan
sederhana saya itu adalah dalam rangka memverifikasi doktrin-doktrin Syi’ah itu
dengan Al-Qur’an dan Sunnah Shahihah yang menjadi pedoman akidah Muhammadiyah,
sebagaimana keinginan Buya Maarif.
Keempat, benarkah Sunni lahir
karena perpecahan politik? Tentu saja hemat saya, tidak benar seperti itu.
Sunni adalah doktrin dan ajaran Islam yang diyakini dan dipraktekkan oleh
Rasulullah dan para Sahabatnya pada masa Nabi hidup maupun sesudah wafatnya,
bahkan jauh berpuluh tahun sebelum terjadinya konflik politik (Perang Onta dan
Perang Shiffin) seperti yang diuraikan oleh Buya Maarif. Ia adalah akidah yang
diajarkan langsung oleh Rasulullah yang diturunkan langsung dari Al-Qur’an
berupa penjabaran rukun Iman, Islam dan Ihsan, sikap terhadap keutuhan dan
keaslian Al-Qur’an, sikap terhadap sahabat Nabi dan lain-lain. Berbeda dengan
Sunni, maka Syi’ah dan Khawarij lah yang merupakan produk sejarah konflik
politik tersebut. Ajaran dan doktrin mereka tidak pernah dikenal di jaman Rasulullah,
sebagai puncak sempurnanya ajaran Islam sebagaimana diwahyukan Allah dalam
surah al-Maidah ayat 3.
Lalu apa benar Sunni
diberhalakan? Yang lalu dituding penyebab hancurnya persaudaraan sejati umat
Islam? Apa pernyataan Buya tersebut tidak paradox dan justeru bertentangan
dengan rumusan akidah yang baku dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah?
Apakah pendapat Buya yang khas sunni mengatakan, “Menurut hadist, sebagai sahabat nabi,
mereka yang terlibat dalam peperangan ini telah dijamin masuk surga.”
. itu juga sebagai suatu yang
diberhalakan?
Mari kita lihat pedoman akidah dalam
Kitab Iman HPT Muhammadiyah halaman 22 sebagai berikut:

“Inilah pokok-pokok akidah
[Rukun Iman yang Enam] yang benar sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an dan
Sunnah, serta didukung oleh atsar yang mutawatir. Barang siapa yang meyakini
semuanya itu dengan mantap maka ia adalah termasuk ahlul haq wal sunnah
(golongan yang menetapi kebenaran dan konsisten dengan sunnah Nabi), dan
berlepas dari ahlul bid’ah wal dholal (golongan yang menetapi bid’ah dan
kesesatan)”. (lihat HPT Muhammadiyah, cet. Penerbit Suara Muhammadiyah,
November 2011, hlm.22-23)
Begitu pula teologi
Muhammadiyah menegaskan mengikuti manhaj ahlussunnah yang diistilahkan oleh HPT
Muhammadiyah (hlm.13) sebagai al-Firqoh an-Najiyah min al-Salaf, yaitu
firqoh yang terjamin keselamatannya dari kalangan salaf. Dimana istilah itu
merujuk kepada hadis Abdullah bin ‘Amr RA, yang dimaktubkan pada halaman 23
Kitab Iman HPT, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Niscaya akan datang
kepada ummatku apa yang telah datang kepada Bani Israil, teladan jejak kaki
mengikuti jejak kaki (hadzwan na’li bil-na’li) sampai kalau ada orang yang
menggagahi ibunya dengan terang-terangan pastilah diantara ummatku ada pula
yang berbuat demikian. Dan bahwa Bani Israil telah bercerai-berai menjadi 72
aliran dan ummatku akan bercerai-berai menjadi 73 aliran; semuanya masuk
neraka, kecuali satu aliran
”.
Kata sahabat: “Siapakah aliran yang satu
itu ya Rasulullah?” Jawab beliau: “Ialah mereka yang mengikuti jejakku dan
sahabat-sahabatku
”. (HR. at-Tirmidzi)  
Jika demikian halnya
rumusan akidah dan manhaj Muhammadiyah itu adalah Sunni, apakah Muhammadiyah
yang telah lewat berusia 100 tahun ini pula dianggap memberhalakan Sunni, dan
turut pula dituding sebagai penyebab hancurnya persaudaraan sejati umat Islam?
Pun tokoh besar ulama Muhammadiyah, Buya Prof. HAMKA, dalam artikelnya di
Kompas pada tanggal 11-Desember-1980, telah menulis, “Kita di Indonesia ini
adalah golongan Sunni”, “Dan saya pun tetap seorang Sunni yang tak perlu
berpegang pada pendapat orang syi’ah dan ajaran-ajaran Ayatullah”
. Apakah
lalu Buya Maarif berani dan tega mengatakan bahwa Buya HAMKA dengan ketegasan
ucapannya itu, adalah telah menjadikan Sunni sebagai ‘berhala’, dan karena
afiliasi Sunni-nya lalu dianggap ikut menghancurkan persaudaran sejati ummat
Islam? Insya Allah Buya Maarif tidak setega itu lah. 
Semoga saya tidak
berlebihan menilai Buya Maarif dengan tulisan ringan ini. Dan semoga juga ada
yang berbaik hati menyampaikan guratan pena ini kepada Buya Maarif, tokoh yang
saya hormati. Wallahu a’lam bil-shawab.