Sejarah Sulaiman Al-Qanuni, Sulaiman The Magnificent

Sultan Sulaiman Al-Qanuni merupakan negarawan Islam yang terulung di
zamannya, dikagumi kawan dan lawan. Sultan Sulaiman berjaya menyebarkan
Islam sehingga ke rantau Balkan di Eropa meliputi Hungaria, Belgrade,
Austria, Benua Afrika, dan Teluk Persia.

Pada usia 7 tahun, ia
telah dididik dengan ilmu kesusastraan, sains, sejarah, teologi, dan
taktik ketentaraan di Istana Topkapi, Istanbul. Di Barat ia dikenal
dengan sebutan Sulaiman The Magnificent (Sulaiman yang Hebat).

Sulaiman
Al-Qanuni dilahirkan kota Trabzun. Saat itu ayahnya menjabat sebagai
gubernur di wilayah tersebut. Ayahnya sangat peduli padanya. Perhatian
inilah yang membuatnya tumbuh dalam suasana keilmuan yang dalam,
menyenangi sastra, dekat dengan para ulama, sastrawan, dan para ahli
fikih. Sejak muda dia dikenal sebagai sosok anak muda yang serius dan
tenang menghadapi masalah.

Dia naik ke singgasana kekuasaan saat
baru berusia 26 tahun (1520-1566 M). Sulaiman dikenal sebagai sosok yang
sangat hati-hati dan tidak terburu-buru dalam semua tindakan yang akan
ia lakukan. Sebelum mengambil tindakan apa pun, ia akan memikirkannya
secara mendalam. Selanjutnya, dia tidak akan pernah menarik keputusan
yang dia ambil.

Di awal-awal pemerintahannya, Sultan Sulaiman
mendapat cobaan dengan adanya empat pemberontakan sekaligus. Tak syak
lagi, pemberontakan ini membuat energinya terkuras, sehingga tidak mampu
meneruskan gerakan jihad.

Para gubernur yang ambisius mengira,
saat memerdekakan diri telah tiba. Pemberontakan pertama dilakukan oleh
Jan Bardi Al-Ghazali, Gubernur Syam. Dia menyatakan memberontak pada
pemerintahan Sultan Sulaiman dan terang-terangan berusaha menguasai
Aleppo (Halb), Suriah.

Namun pemberontakannya gagal. Sultan
Sulaiman langsung memerintahkan agar gerakan separatis segera
dipadamkan, dan langsung berhasil dalam sekejap. Kepala pemberontak
dipenggal dan dikirimkan ke Istanbul sebagai bukti.

Sedangkan
pemberontakan kedua dilakukan oleh Ahmad Syah, sang pengkhianat di
Mesir. Peristiwa ini terjadi pada 930 H/1524 M. Orang ini dikenal sangat
tamak kekuasaan dan ingin memegang tampuk pimpinan. Namun aksinya tidak
berhasil menuai apa pun.

Pada mulanya, ia meminta bantuan sultan
agar dapat menduduki jabatan gubernur di Mesir. Sultan pun
menobatkannya sebagai gubernur Mesir. Namun tatkala sampai di Mesir, dia
berusaha menarik dukungan publik dan menyatakan diri sebagai sultan
yang independen. Namun para ahli syariah dan pasukan khusus Utsmani
dengan sigap melakukan pencegahan. Mereka membunuh Ahmad Syah. Dalam
buku-buku sejarah dia dicatat sebagai pengkhianat.

Pembangkangan
ketiga dilakukan oleh Syiah Rafidhah yang dipimpin oleh Bab Dzunnun pada
1526 M di wilayah Yuzaghad. Baba ini mengumpulkan sekitar 3.000 sampai
4.000 pemberontak dan mewajibkan pajak atas wilayah yang dikuasainya.
Gerakan ini semakin lama semakin kuat, hingga berhasil mengalahkan
beberapa komandan pasukan Utsmani yang berusaha memadamkan usaha mereka.
Pemberontakan ini pun berakhir dengan terbunuhnya Baba, yang kemudian
dipenggal kepalanya dan dikirim ke Istanbul.

Adapun pemberontakan
keempat, juga dilakukan kalangan Syiah Rafidhah  yang dipimpin Qalandar
Jalabi di dua wilayah; di Qawniyah dan Mar’asy. Jumlah pengikutnya
berkisar 30.000 orang Syiah. Mereka melakukan kejahatan dengan membunuh
orang-orang Sunni yang berada di dua wilayah tersebut. Sebagian ahli
sejarah menyebutkan, Qalandar Jalabi mempunyai slogan bahwa siapa pun
yang berhasil membunuh Muslim Sunni, berarti mendapatkan pahala yang
paling besar.

Untuk menghadapi pemberontakan ini, maka dikirimlah
Bahram Pasya, namun dia berhasil dibunuh oleh pasukan pemberontak.
Namun pada akhirnya mereka bisa ditumpas, tatkala Ibrahim Pasya berhasil
membujuk orang-orang Qalandar memihak padanya. Akhirnya kekuatannya
dihancurkan dan Qalandar Jalabi pun berhasil dibunuh.

Setelah masalah dalam negerinya beres, Sultan Sulaiman segera mengatur siasat bagaimana melancarkan jihad ke Benua Eropa.

Ia
mendapat gelar Al-Qanuni karena jasanya dalam mengkaji dan menyusun
sistem undang-undang Kerajaan Turki Utsmani dan penerapannya secara
teratur dan tanpa kompromi. Padahal kala itu keadaan masyarakat Islam
mempunyai latar belakang dan sosio budaya yang berbeda.

Sumber : Sejarah Para Khalifah 
karya Hepi Andi Bastoni