Saatnya Muhammadiyah Mengarah ke Pondok Pesantren

Ponpes Muhammadiyah di Jogja

Assalamu’alaikum wr. wb.

Di beberapa bidang Muhammadiyah memang kalah inovatif dengan ormas lainnya. Misalnya di kalangan menengah ke atas perkotaan, Muhammadiyah sangat jauh inovatif. Kalau dahulu kalangan ini merupakan lahan garap Muhammadiyah, maka saat ini dikuasai oleh orang lain (Din Syamsuddin, SM no 20 Okt. 2010 hal. 27)

Dari ungkapan tersebut dapat kami rasakan bahwa masyarakat kini mulai menjauh dari Muhammadiyah. Hal ini banyak hal penyebabnya, di antaranya adalah;

1. Pendidikan Muhammadiyah -melalui sekolah-sekolah umum- tidak mampu membumikan faham Ke~Muhammadiyahan ke dalam sanubari mereka. Sekolah hanya mampu mencetak orang-orang pinter dalam masalah ilmu pengetahuan umum, tetapi masalah akhlak mulia seperti Nabi Muhammad tidak tersentuh dengan mendalam. (Pernah saya tulis, bahwa pendidikan Muhammadiyah itu ibarat ayam mengeram, maka mengeramnya tidak tuntas. Akibatnya, telur-telur itu menetas tidak sempurna. Ada yang kopyor, busuk, bahkan tidak menetas sama sekali)

2. Ulama Muhammadiyah sudah mulai jarang ditemukan (langka). Sehingga jalur komunikasi agama dengan masyarakat menjadi terputus.

3. Pengurus Muhammadiyah kebanyakan dari unsur guru, PNS, dan birokrasi, yang disibukkan dengan bidang kerjanya masing- masing. Jarang dari mereka yang punya bekal wawasan keilmuan keagamaan dan kemuhammadiyahan yang kuat dan mumpuni. Sehingga ketika ada masalah di masyarakat, cenderung pengurus Ranting atau pun Cabang tidak bisa menjawabnya. Dari sini, kesempatan selalu diambil oleh orang lain.

4. Pembelajaran lslam Ke Muhammadiyahan tidak mampu mencerahkan dan memantapkan para peserta didik di sekolah Muhammadiyah untuk memahami Muhammadiyah secara mendalam.

5. Anak keturunan para ‘pejuang` Muhammadiyah enggan menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren Muhammadiyah. Mereka lebih suka ke sekolah umum yang favorit , untuk meloloskan mereka menjadi pegawai pemenntah dengan gaji dan masa depan hidupnya. Sehingga jalur perjuangannya menjadi terputus. Dan sifat keulamaan tidak ‘menitis‘ kepada anaknya.

6. Muhammadiyah terlena dengan urusan dunia usaha dan urusan sosial kemiskinan, dan sekolah-sekolah umum yang jauh dari program yang bersifat pengaderan. Dari pengalaman ini lahan usaha Muhammadiyah sering dimanfaatkan oleh orang lain untuk sekedar ‘numpang nikmat’ dengan menikmati Muhammadiyah hanya sebatas perut, tidak sampai pada pemahaman yang tangguh dan mantap. Sehingga jika mereka keluar dari lokasi sosial Muhammadiyah, mereka tidak punya kekuatan apa-apa. Akidahnya kembali seperti semula, luntur dan tidak Muhammadiyah lagi.

7. Era sekarang ‘bola dunia’ berada di puncak kekuasaan yang sangat represif. Muhammadiyah menjadi sasaran ‘balas dendam’ dikejar dan diusahakan ditenggelamkan dan disingkirkan, Muhammadiyah menjadi barang haram, karena ‘dianggap tidak umum’ oleh entitas masyarakat tertentu. 8. Pengurus Muhammadiyah kurang merakyat dan memasyarakat. Kecuali hanya dalam acara formal pemerintah dan kenegaraan. Sementara gerakan sosial yang menarik masyarakat banyak untuk mendengarkan kajian semacam ‘yasinan’ belum ada. Muhammadiyah perlu meniru Pondok Gontor. Di sana ada ustadz yang ditugaskan untuk konsumsi masyarakat umum sehingga pondok punya perekat dengan masyarakat. Materi yang disampaikan pun diusahakan sesuai dengan pemahaman masyarkat saat itu. Sehingga antara pondok dengan masyarakat tidak terjadi gab. Dapat hidup harmonis.

9. Dakwah Muhammadiyah kurang luwes, masih banyak yang di- tangkap selalu ‘menyakiti hati’ orang lain, sehingga ruang gerak kita makin dipersempit.

10. Muhammadiyah belum punya pondok pesantren di masing-masing daerah kabupaten atau kecamatan. Seandainya ada umumya tidak bisa bertahan lama. Penyebabnya, kharisma ulamanya belum kualifait, alias biasa-biasa saja. Atau kalau tidak begitu inten/ensi yayasan masih terlalu dominan, sehingga ‘kiai` yang mengasuh merasa terpasung.

Berkenaan dengan hal tersebut perlulah Muhammadiyah dan seluruh jajarannya, mulai dari Ranting hingga Pimpinan Pusat untuk memikirkan dan merealisasikan Pondok Pesantren untuk mencetak kader-kader Islam yang mumpuni, tangguh, tawadu’, cerdas dan uswatun hasanah. Sehingga bumi ini kembali mendapatkan sinar terang yang menerangi seluruh hati dengan pancaran kedamaian, kebahagiaan dengan Islam yang sebenar-benarnya, dan dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Khusus untuk majalah Suara Muhammadiyah, tolong tampilkan rubrik aspirasi yang berisi suara dari masyarakat Muhammadiyah. Jangan monoton penulisnya itu-itu saja. Berikan penulis lain untuk berceloteh, tentang wawasan mutahir kepada masyarakat. Usahakan gaya bahasa yang dipakai sederhana dan mudah dipahami oleh rakyat biasa. Jangan tampilkan bahasa seperti bahasanya orang kampus, sulit dimengerti dan kelihatan (maaf) hanya pamer ketinggian intelektual saja. Dan yang lebih penting lagi adalah pedoman hidup Muhammadiyah, tolong ditampilkan selalu dalam Suara Muhammadi- yah secara simultan dan bertahap.

WassaIamu’a/aikum wr wb.

*Sumber SUARA MUHAMMADIYAH 23/ 99 | 1 – 15 DESEMBER 2014 5