Pesbuker, Mark Zuckerberg dan Ilmuwan Muslim

oleh : Aris Moenandar
Media facebook (fb) sering digunakan orang untuk berbagi cerita,
menyampaikan gagasan, memberikan informasi dan pengetahuan kepada pengguna fb
(pesbuker). Melalui fb kita bisa mendapatkan tulisan-tulisan bagus yang
bermanfaat dan mencerahkan, meski terdapat pula tulisan tidak mendidik. Bahkan,
di fb kerap kita baca kata-kata kotor, kasar dan tendensius yang dilontarkan
oleh pesbuker yang tidak bertanggung jawab dan biasanya orang-orang
model ini “pengecut” menutupi identitas dirinya di fb.
Seperti pesbuker lainnya melalui fb saya juga sering memposting
tulisan-tulisan yang dianggap bermanfaat bagi para pesbuker. Tapi tidak selalu
niat baik kita berbagi pengalaman dalam tulisan itu bisa dipersepsi dan
diapresiasi secara benar dan bagus oleh sebagian pesbuker. Saya pernah
mengalami sendiri respon tidak menyenangkan dari seorang pesbuker ketika saya
menuliskan pengalaman buruk bekerja menjadi karyawan dari kelompok pengusaha
Yahudi di Amerika Serikat. Berbagai sikap tidak jujur, diskriminasi, perlakuan
tidak menyenangkan dan merendahkan dari Bos Yahudi itu saya ceritakan secara
apa adanya dengan harapan bisa diambil hikmahnya oleh pembaca. Meski tak
sedikit yang menyukai cerita saya ini yang merupakan kisah nyata, namun ada
pula pesbuker yang menyerang saya dan beranggapan bahwa saya hanya ingin
menjelek-jelekkan Yahudi. Orang itu tidak suka dengan tulisan saya yang
menyudutkan Yahudi, mengingat sosial media fb ini  ditemukan
oleh  Mark Zuckerberg, seorang Yahudi, jadi, menurutnya
kita harus berterimakasih kepada orang Yahudi.
Mungkin orang itu berpandangan saya tidak perlu mencantumkan
kata Yahudi karena perbuatan buruk bisa dilakukan oleh siapapun yang beragama
apapun. Justeru saya yang dapat merasakan dan berinteraksi langsung dengan
merek,a sehingga bercerita apa adanya, tidak menutup-nutupi apa yang dialami
menjadi bentuk pertanggungjawaban saya atas kebatilan yang dilihat. Apalagi
sebagai Muslim yang hidup di Indonesia saya belum mengetahui sesungguhnya
seperti apa watak, tabiat dan perilaku orang Yahudi yang banyak diceritakan
dalam al Quran untuk pelajaran kaum beriman. Saya merasakan dan melihat dengan
mata kepala sendiri eksklusivitas tingkah perilaku mereka, sehingga saya
memandang perlu mengungkap apa adanya sebagai bahan pelajaran dan masukan
bermanfaat bagi semua termasuk Muslim di Indonesia. Keyakinan terhadap agama
Islam membuat saya wajib mengingatkan sesama agar lebih
berhati-hati  (lihat QS al Baqarah: 120).
Adapun terkait penemuan fb oleh orang Yahudi, sehingga orang
yang menggunakan fb mesti “tahu diri” atau berterima kasih kepada Mark
Zuckerberg dan kaumnya itu menurut saya sesuatu yang berlebihan. Hal ini bisa
saya jawab bahwa penemuan sebuah teknologi itu bukan milik orang per orang.
Sejarah ilmu pengetahuan di dunia hingga kita merasakan dampak positifnya
sekarang ini ternyata juga tidak terlepas dari kontribusi berharga dari kaum
cendekiawan Muslim masa lalu antara abad 10-13 M dalam meletakkan dasar-dasar
pengembangan ilmu dan teknologi. Sebut saja Al Khawarizmi ilmuwan Muslim
peletak dasar matematika melalui aljabar dan ergonomi. Lalu juga ada al Biruni,
yang diakui Barat sebagai ilmuwan pelopor, penemu alat astrolabe mekanik
pertama dan menggunakan prinsip komputer analog pertama (lihat A History of
Calculating Machines, D. De S. Price, 1984). Masih banyak lagi kiprah ilmuwan
Islam tersohor terhadap perkembangan ilmu dan teknologi yang bisa diperoleh
dari referensi-referensi Barat sekalipun. Pihak Barat pun tidak bisa
menutup-nutupi kebenaran ini karena umat Islam dulu pernah jaya dalam
pembentukan peradaban manusia yang oleh pengamat disebut sebagai masa kejayan
Islam atau lebih dikenal “the Golden Age of Islam“. 
Para cendekiawan Muslim terkemuka itu umumnya hafal al Quran dan
menguasai bahasa Arab sebelum mendalami ilmu pengetahuan (teknologi), mereka
tawadhu, melakukan kajian semata-mata ingin lebih mendekatkan diri kepada Tuhan
yang menciptakannya, oleh karena itu mereka ikhlas, tidak perlu orang lain
berterima kasih kepadanya karena bagi mereka upah dari hasil karya-karyanya
yang fenomenal itu hanyalah dari Allah Yang Maha Kuasa semata. Karya-karya
besar mereka diakui Barat dan sangat berjasa dalam pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi selanjutnya. Sehingga jika mengikuti jalan pikiran sang
pesbuker yang menuntut kita berterima kasih kepada penemu fb orang Yahudi itu,
maka kita juga bisa mengatakan bahwa seharusnya kita (termasuk penemu fb itu)
juga harus berterima kasih kepada para ilmuwan Muslim peletak dasar ilmu
teknologi. Tanpa jasa, kiprah dan kontribusi mereka (ilmuwan Muslim dunia) apa
mungkin orang Yahudi itu bisa menemukan fb? Wallahu a’lam