Muhammadiyah, Jihad Fi Sabilillah

Oleh: Prof. Dr. Thohir Luth. M.A (Ketua Muhammadiyah Jawa Timur)

Bermuhammadiyah sejatinya adalah “berjihad fi sabilillah. Karena apa yang dilakukan pimpinan Persyarikatan, maupun warga besar Muhammadiyah adalah melanjutkan risalah Islam melalui Persyarikatan Muhammadiyah. Apa-apa yang dipertaruhkan oleh para pejuang Muhammadiyah bernilai jihad fi sabilillah. Artinya begitu mulianya keberadaan kita dalam Muhammadiyah sebagai “Mujahid”, dan sudah barang tentu mendapat penghargaan lebih disisi Allah swt.

Allah swt dalam beberapa ayat, maupun Rasulullah dalam hadistNya memberikan penghargaan yang kepada para mujahid. Diantaranya pada QS. Al-Nisa: 95 dan 100, yang memberikan kemuliaan lengkap pada para mujahid. Yaitu berupa keutamaan dan kemuliaan dalam berjuang, maupun keutamaan dan kemuliaan ketika ajal menjemput. Demikian oleh Rasulullah juga memasukkan “berjihad fi sabilillah” sebagai salah satu amal yang paling afdhal (utama). Kedua ayat tersebut dan hadist itu membuat kita semakin yakin bahwa perjuangan kita ternyata dibalas lebih oleh Allah swt. Lantas kita bertanya pada semua pimpinan Muhammadiyah dan keluarga besarnya: apalagi yang kita cari, kalau bukan kemuliaan sebagai mujahid melalui Muhammadiyah? Muhammadiyah telah menyediakan lahan perjuangan bagi para pimpinan, warganya dan simpatisannya. Satu lahan yang menjanjikan kemuliaan abadi. Sehingga bagaimana kita menjadi pejuang-pejuang yang baik dan tulus karena Allah melalui Persyarikatan Muhammadiyah. Hemat saya menjadi pejuang tulus itu secara kasat mata bisa dideteksi gejalanya. Yaitu terpanggil mengurus dan berjuang dalam Muhammadiyah dengan senang hati, tanpa merasa terpaksa, merelakan sebagian waktu, pemikiaran dan harta benda untuk perjuangan Muhammadiyah. Biasanya para pejuang Muhammadiyah seperti mereka selalul bertanya: What can I do for Muhammadiyah, not what can Muhammadiyah do for me. Sayangnya kelompok-kelompok pejuang seperti ini tidak sebanyak anggota Muhammadiyah. Mereka tergolong kelompok minoritas dalam Muhammadiyah yang terus dan selalu berkomitmen pada apa yang harus saya berikan pada Muhammadiyah, bukan apa yang saya peroleh dari Muhammadiyah. Kelompok pejuang ini mengedepankan penghargaan dan kemuliaan dari Allah swt, ketimbang penghargaan dan kemuliaan dari manusia. Niat mereka berjuang dalam Muhammadiyah hanya ingin mencari Ridha Allah swt, bukan mendapatkan pujian dari manusia. Mereka ini sesungguhnya para Sufi Muhammadiyah yang sedang menikmati kebahagiaan mengurus Islam melalui Persyarikatan Muhammadiyah. Sehingga Muhammadiyah kedepan memerlukan banyak Sufi Muhammadiyah untuk berjuang meretas, merawat dan mengembang-luaskan Islam melalui Muhammadiyah. Kita butuh sosok pribadi dan figur seperti mereka untuk perjuangan Muhammadiyah jangka panjang sejalan denga pengaruh hidup hedonisme, Kapitalisme, Neo Liberalisme dan Individualisme dalam era post modern sekarang ini. Sebab ditangan merekalah Muhammadiyah terus memantulkan sinar mentari dakwahnya kepada ummat, kendati sesekali dipotong awan mendung disiang hari. Bahkan hemat saya ditangan para Sufi Muhammadiyah ini keberadaan Muhammadiyah terjaga martabat dan kewibawaannya sebagai gerakan Islam, dakwah Amar Ma’ruf, Nahi Munkar. Tanpa mereka, rasanya Muhammadiyah dalam perjalanan dakwahnya bukan mustahil bisa berada pada tikungan sosial yang membahayakan.
Kita mencatat banyak pelajaran sebagai ibrah dalam perjalanan dakwah Muhammadiyah, terlebih dalam usianya yang ke (101 M, 104 H). Jujur kita katakan bahwa perkembangan dakwah Muhammadiyah memang spektakuler, tetapi bukan berarti tanpa hambatan dan ancaman. Hanya karena Muhammadiyah cerdas merespon tantangan dan ancaman tersebut, sehingga berubah menjadi berkah baru bagi Muhammadiyah. Oleh karena itu budaya cerdas merespon tantangan tersebut hendaknya selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan kita dalam ber-Muhammadiyah. Muhammadiyah kedepan akan semakin banyak bertemu dengan kekuatan-kekuatan, baik perorangan maupun kelompok yang genit merayu dan memprovokasi Muhammadiyah bahkan menghasut dan mengadu-dombanya.
Alhasil berjihad fi sabilillah dalam ber-Muhammadiyah untuk menggapai ridha Allah itu menjadi target kita. Berusaha mewujudkan harapan menjadi kenyataan dalam berjihad melalui Persyarikatan Muhammadiyah harus menjadi bagian dari hidup kita sebagai pejuang Muhammadiyah. Dengan demikian kita dapat merasakan kebahagiaan hakiki dalam hidup ini. Insyaallah.. (saif/sp/athohirluth.ub.ac.id)