Merayakan Cinta Dengan Menikah

oleh : Gonda Yumitro, 
Perasaan cinta merupakan perkara besar dan banyak dibicarakan. Adapun Islam bukanlah agama yang menentang fitrah manusia. Islam adalah agama kasih sayang dan cinta. Hanya saja Islam mengajarkan bagaimana agar cinta tersebut sesuai dengan syariat Allah ta’ala, yaitu pernikahan.
Dengan pernikahan, maka akan sempurnalah rasa cinta tadi, karena Allah akan memberikan ketentraman bagi mereka yang menjadikan menikah sebagai luapan cinta yang halal. Allah ta’ala berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Dan di antara tanda kekuasaan-Nya Dia telah menciptakan dari dirimu istri-istri agar kalian tentram hidup bersamanya dan dijadikan di antara kalian mawaddah dan rahmah. Yang demikian itu merupakan tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Q.S. Arrum: 21)
Mereka yang menikah, tidak hanya menemukan cintanya, tetapi juga mendapatkan pahala. Rasulullah sholallahu’alaihi wasalam bersabda,
وفي بُضع أحدكم صدقة يعني الجماع. فقالوا: أيأتي أحدنا شهوته ويؤجر على ذلك؟ فقال: أريت إن وضعها في حرام أيكون عليه وزر؟ فكذلك إن وضعها في حلال يكون له أجر
Dan jima’ kepada istri kalian adalah shodaqoh. Para sahabat berkata: Kita mendatangi mereka dan menumpahkan syawat kita mendapatkan pahala atasnya? Rasulullah berkata; apakah jika kalian menumpahkannya pada yang haram akan menjadi dosa? Maka demikian juga jika kalian melakukannya pada yang halal maka baginya ganjaran (Allah). (HR Muslim)
Maka dari sini terlihat bahwa cinta sejati yang datang dari dalam hati adalah cinta yang terikat dalam maghlia pernikahan. Adapun cinta yang datang sebelum pernikahan merupakan perasaan yang bisa menipu dan menyebabkan dirinya jatuh pada kemaksiatan dan kerusakan.
Cinta setelah pernikahan adalah cinta yang dicontohkan oleh rasulullah sholallahu ‘alaihi wasalam. Dimana dengan cinta ini, nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasalam memperlakukan para istrinya dengan akhlak yang mulia. Tidak hanya dengan tindakan, tetapi juga dengan lisan yang meninggalkan kesan mendalam bagi para istrinya.
Maka sebagai pengikut beliau sholallahu ‘alaihi wasalam, kita (para suami) perlu sering menyampaikan ungkapan cinta kepada sang istri. Adapun terhadap yang bukan menjadi istri, kita perlu berhati-hati menjaga lisan. Wanita mudah luluh karena lisan, sementara laki-laki lemah karena pandangan.
Adapun jika perasaan cinta itu sudah muncul dalam hati mereka yang masih bujangan, maka tidak ada cara yang paling menyelamatkan kecuali merayakan cintanya dengan pernikahan. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
لم نرَ للمتحابَّيْن مثل النكاح
Aku tidak melihat (yang lebih utama) dari dua orang yang saling mencintai selain menikah (Riwayat Ibnu Majah: 1847)
Dengan pernikahan ini maka diharapkan perasaan cinta kedua pasangan tersebut semakin menguat dalam meniti ketaatan kepada Allah ta’ala. Adapun jika hal tersebut belum memungkinkan, maka memisahkan mereka dari semua yang bisa mengikat cinta perlu dilakukan. wallahu ta’ala a’lam.

Malang, 29 Desember 2014