Mengulas Tuntas, Sikap Umat Islam Menghadapi Natal

oleh: Rusdianto Samawa Tarano, SIP, M.I.K

Materi ini disampaikan pada Kajian Al Quran dan As Sunnah Lembaga Unit
Kegiatan Mahasiswa DK Ulil Albab Universitas Muhammadiyah Jakarta,
Jakarta, 22 Desember 2014

۞ فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهِ
مَكَانًا قَصِيًّا فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ
قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَنْسِيًّا
فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ
سَرِيًّا وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ
رُطَبًا جَنِيًّا فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا
تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ
صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
Artinya : Maka
maryam mengandung, lalu menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke
tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa (ia
bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata: aduhai,
alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi barang tidak
berarti lagi dilupakan. Maka Jibril menyerunya ketempat yang rendah.
Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak
sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu.
Niscaya pohon kurma akan mengugurkan buah kurma yang masak kepadamu,
maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang
manusia maka katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk
Tuhan yang maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang
manusia siapapun hari ini (QS. Maryam 19 : 22 – 26)
Sabda Nabi Muhammad SAW

Kalian akan mengikuti kebiasaan umat sebelum kalian, sejengkal demi
sejengkal, sehasta demi sehasta, Sehingga kalau (mereka) masuk ke dalam
lubang biawak pun kalian akan tetap mengikuti mereka. Sahabat bertanya,
wahai Rasullullah SAW, apakah yang tuan maksud itu Yahudi dan Nasrani ?.
Nabi Muhammad SAW menjawab: kalau bukan mereka siapa lagi?. (HR.
Bukhari dan Muslim)
PERAYAAN NATAL
1. Setiap tanggal 25 desember
2. Setiap rumah terdapat pohon cemara dengan berbagai hiasan warna warni disertai lampu kela kelipnya.

3. Dibawah pohon cemara terdapat anyak bingkisan yang konon ceritanya
di bawah oleh pastur tua, berbaju putih dan berkumis, sebagaimana di
sebut santa claus atau sinterklas.
4. Hadiah tersebut secara sembunyi diberikan kepada anak-anak

5. Lebih meriah lagi di toko, mall, gedung pemerintahan, pembagian topi
santa dengan berbaga hiasan natal dengan warna merah maupun hijau.
APA YANG DI MAKSUD NATAL
1. Natal berasal dari kata latin yang artinya LAHIR KEMBALI.

2. Maksud dari perayaan natal bagi umat kristiani adalah merayakan
kelahiran yesus kristus yang dianggap Tuhan oleh umat kristen atau
Nasrani
3. Dalam Islam Yesus bukan Tuhan, tapi seorang utusan
Allah bernama Nabi Isa as binti Maryam sedangkan Kristus adalah juru
penyelamat atau sang penebus dosa.
KELAHIRAN YESUS DALAM INJIL
VERSI LUKAS (2) Ayat 1 – 8

Dalam versi lukas kitab injil 2:1-8 bahwa yesus lahir pada kekuasaan
Augustus (tahun 27 SM – 14 Sesudah Masehi). Ini diketahui karena faktor
bersamaan dengan sensus penduduk, bahwa penduduk setempat harus
terdaftar di masing-masing kota tempat mereka tinggal. Demikian juga
maria atau maryam ibu kandung Yesus (Isa) pergi dari nazaret ke betlehem
tempat mereka berasal. Peristiwa itu terjadi pada tahun ke 7 Masehi
dimana pada waktu itu maryam atau Maria sedang hamil tua.
Lukas
memberitakan dalam Injil ketika mereka di beetlehem tibalah saatnya bagi
maria untuk bersalin dan ia melahirkan seorang anak laki-laki
sulungnya. Lalu dibungkusnya dengan lampin (kain) dan dibaringkan dalam
palungan (tempat makanan sapi) karena tidak ada tempat bagi mereka pada
penginapan itu. Didaerah itu ada gembala yang menjaga ternaknya dan
tinggal di daerah itu.
VERSI MATIUS (2) ayat 1, 10, 11

Sesungguhnya Yesus lahir di betlehem di tanah Yudea pada zaman herodes
berkuasa (37 SM – 4 Masehi). Dtanglah orang-lorang majusi dari Timur
Yerussalem. Ketika mereka melihat binatang itu maka bersuka citaah
mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu
Yesus bersama Maria, ibunya.
Berbeda dengan lukas menyebut Yesus
lahir zaman rezim Augustus (27 SM – 14 Masehi) dan zaman herodes
berkuasa (37 SM – 4 Masehi)
VERSI UMAT NASRANI ATAU KRISTIANI

Umat kristani berpendapat bahwa YESUS lahir pada 1 masehi, karena
penganggalan masehi yang dirancang oleh Dyonisius justru di buat
berdasarkan Tahun kelahiran Yesus.
Dalam internal umat kristen
dan yahudi saja terjadi perbedaan sangat mencolok, ada yang menyebut
Yesus lahir tahun 4, 6 dan 8 Masehi. Mana yang benar ?.
TIDAK ADA PERINTAH MERAYAKAN

Didalam KITAB INJIL tidak ada perintah untuk merayakan natal,
memperingati hari kelahiran Yesus. Bahkan Yesus sendiri tidak memberikan
contoh atau memerintahkan muridnya untuk memperingati hari kelahirannya
sebagai Nabi Muhammad SAW
Perayaan natal masuk dalam umat
kristen dan katholik pada abad 4 Masehi. Peringatan inipun berasal dari
upacara adat masyarakat penyembah berhala, yaitu kau paganis Politheisme
yang hidup dizaman imperium Dewa Matahari (Sun God) yang hari
kelahirannya selalu di rayakan. Dengan pesta pora meriah ditanggal 25
desember.
Jadi perayaan natal hanya hasil adopsi upacara adat
kaum Paganisme Politheisme pada 25 desember yakni hari Kelahiran Dewa
Matahari.
Maka oleh sebab itu, 25 desember hanyalah hasil
rekayasa umat kristiani sebagai peryaan hari lahirnya Yesus. Bahkan
mereka saking gemar menyebarkan paham yang salah, sampai menyebut Yesus
itu anak Tuhan atau Son Of God yang ebetulan cara mengucapkan ada
kemiripan.
Di Ensiklopedi manapun bahkan di Chatolic Encyclopedia
secara tegas mengakui bahwa YESUS TIDAK LAHIR PADA 25 DESEMEBER. Juga
di Injil tidak menyebut kapan YESUS DI LAHIRKAN.Tidak seorangpun yang
mengetahui kelahiran Yesus yang sebenarnya.
AL QURAN MENJAWAB
Al Quran mengisahkan pada Al Quran Surat Ali Imron 3:45 :

إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ
بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي
الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ
(Ingatlah ketika
Malaikat berkata: “Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu
(dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang
datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang
terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang
didekatkan kepada Allah dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian
dan ketika sudah dewasa dan dia adalah termasuk orang-orang yang saleh”.
Al-Quran: Aal-i-Imraan (3: 45 – 46)
قَالَتْ رَبِّ أَنَّىٰ
يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ
يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ
فَيَكُونُ
Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku
mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang
laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah
Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak
menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”,
lalu jadilah dia. Al-Quran: Aal-i-Imraan (3:47)
۞ فَحَمَلَتْهُ
فَانْتَبَذَتْ بِهِ مَكَانًا قَصِيًّا فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ
جِذْعِ النَّخْلَةِ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنْتُ
نَسْيًا مَنْسِيًّا فَنَادَاهَا مِنْ تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ
جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ
تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ
فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ
لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Artinya : Maka maryam mengandung, lalu menyisihkan diri dengan
kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan
anak memaksa (ia bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam)
berkata: aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi
barang tidak berarti lagi dilupakan. Maka Jibril menyerunya ketempat
yang rendah. Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah
menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu
ke arahmu. Niscaya pohon kurma akan mengugurkan buah kurma yang masak
kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu
melihat seorang manusia maka katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernazar
berpuasa untuk Tuhan yang maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara
dengan seorang manusia siapapun hari ini (QS. Maryam 19 : 22 – 26)
BAGAIMANA MENYIKAPINYA

SELAMA ini, posisi dan sikap para sahabat Nabi dan ulama terhadap
hal-hal yang berkaitan dengan masalah akidah adalah jelas dan tegas,
begitu pun kaitannya terhadap perayaan hari-hari besar agama lain,
termasuk Natal.
Ibnu Taimiyah dalam kitab “Iqtidhâ’ Shirâti’l
Mustaqîm, Mukhâlafatu Ashâbi’l Jahîm,” (Dar el-Manar, Kairo, cet I,
2003, hal 200) juga melarang untuk ber-tasyabbuh dengan hari besar kaum
kafir, karena hal itu akan memberikan efek ‘lega’, bahwa umat Islam
‘membenarkan’ kesesatan yang mereka lakukan.
Beda lagi dengan
hari-hari kenegaraan, atau hari ibu dan sebagainya, tidak ada unsur
akidah di dalamnya, maka dari itu masih dapat ditolerir.
Qiyas
awla dari firman Allah; “إلا من أكره و قلبه مطمئن بالإيمان” “ kecuali
orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman”
(al-Nahl: 106). Apakah jika kita tidak mengucapkan selamat, kita akan
dibunuh ?.
Toleransi antar umat beragama tidak harus dengan
mengucapkan “Merry Christmas“, dengan berakhlakul karimah dan
memperhatikan hak mereka sebagai manusia, tetangga, masyarakat, dan
lainnya sudah cukup mewakili itikad baik kita untuk hidup damai, bersama
mereka.
Apalagi dalam Islam, masih banyak momentum yg lebih
‘bersahabat’ untuk mengungkapkan pengakuan kita terhadap keberagaman
ini. Sebut saja hadits Nabi yang menganjurkan kita agar melebihkan ‘kuah
sayuran’ untuk diberikan kepada tetangga, atau hadits lainnya yang
menunjukkan amarah Nabi kepada seseorang yang mendapati tetangganya
kelaparan, tapi tidak mengulurkan bantuan. Kebetulan hadits-hadits
tersebut tidak mengkhususkan bagi sesama Muslim saja, tapi umum bagi
sesama manusia, baik Muslim maupun non Muslim. Bagi yang tidak punya
tetangga Nasrani, saya kira dengan menghormati hari raya mereka, tanpa
mengganggu apalagi merusak, adalah lebih dari cukup. Cukup dengan kata
‘silahkan’, bukan dengan kata ‘selamat’.
Bagaimana Pendapat Toleransi dari sisi Sosial Kemanusiaan, Bukan wilayah Aqidah, Kita Bahas ?

Pendapat Saddu al-Dzarî’ah, mencegah diri agar tidak terjerumus kepada
hal yang dilarang. Pendapat yang membolehkan. Beberapa ulama kontemporer
seperti Dr Yusuf Qaradhawi dan Musthafa Zarqa membolehkan hal ini
dengan beberapa pertimbangan;
1) Firman Allah Swt.:“Allah tidak
melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang
yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari
negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
(al-Mumtahanah: 8).
2) Sikap Islam terhadap Ahlul Kitab lebih
lunak daripada kepada kaum musyrikin; para penyembah berhala. Bahkan
al-Quran menghalalkan makanan serta perempuan (untuk dinikahi) dari Ahli
Kitab (al-Maidah: 5).
3) Firman Allah Subhanahu Wata’ala
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka
balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau
balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (al-Nisa: 86).

4). Pada satu riwayat, seorang Majusi mengucapkan salam kepada Ibnu
Abbas “assalamualaikum“, maka Ibnu Abbas menjawab “waalaikumussalam wa
rahmatullah“.
Kemudian sebagian sahabatnya bertanya “dan rahmat
Allah?”, beliau menjawab: Apakah dengan mereka hidup bukan bukti rahmat
Allah. [Dr. Yusuf Qardhawi, Fiqh Aqalliyyât al-Muslimah, Dar el-Syuruq,
cet II, 2005, hal 147-148]
SIKAP UMAT ISLAM
Hal ini pernah
dipermasalahkan, saat beberapa kelompok menggaungkan PNB (Perayaan
Natal Bersama) sebagai wujud toleransi antar umat beragama, seakan-akan
seperti ingin menunjukkan bahwa umat Islam yang tidak merayakan natal
bersama berarti tidak tolerir, tidak menghormati umat Nasrani.

Dalam masalah ini, semua ulama sepakat bahwa menghadiri perayaan hari
besar agama lain adalah HARAM hukumnya. Kemudian bagaimana seharusnya
sikap kita kepada presiden Indonesia ke-4, ke-6 dan Presiden ke 7 Jokowi
jk yang akan menghadiri perayaan Natal di papua, bahkan banyak kiyai
yang salah menafsirkan serta presiden Jokowi dengan anggara 20 Milliar
unyuk melaksanakan natal di PAPUA.
Muhammadiyah selaku salah satu
ormas di Indonesia juga telah membahas masalah ini, dalam buku “Tanya
Jawab Agama Jilid II”, oleh Tim PP Muhammadiyah Majlis Tarjih, yang
diterbitkan oleh Suara Muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah
diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram.
Apalagi
melihat kondisi tauhid umat yang sedang goyah saat ini, oleh arus
pluralisme maupun liberalisme. Maka sudah selayaknya kita membentengi
dulu akidah umat, dengan menjauhi hal-hal yang syubhat. Hal ini juga
dipegang oleh Majlis Tarjih Muhammadiyah, bahwa ”Mengucapkan Selamat
Hari Natal” dapat digolongkan sebagai perbuatan yang syubhat dan bisa
terjerumus kepada haram, sehingga Muhammadiyah menganjurkan agar
perbuatan ini tidak dilakukan.
Selain itu, Komisi Fatwa Majelis
Ulama Indonesia (MUI) yang diketuai K.H.M. Syukri Ghozali dan
Sekretarisnya Drs. H. Masudi pada 1 Jumadil Awal 1401 H / 7 Maret 1981
telah menyatakan; perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya
merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi Natal itu tidak dapat
dipisahkan dari aqidah.
Selain itu, MUI juga menfatwakan,
mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram. MUI
juga mengatakan, agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan
larangan Allah subhanahu wata’ala dan tidak mengikuti kegiatan-kegiatan
Natal.
Wallahu a’lam bi al-Shawab