Mengembalikan Spirit Muhammadiyah dalam Institusi Amal Usaha


Oleh IMMawan Rahman Putra[1]
“Muhammadiyah
pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena
itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan
menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan
ke mana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah.
Jadilah master, insinyur, dan (profesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah
sesudah itu.”
-KH. Ahmad Dahlan-
Paska
revolusi Industri Inggris yang menjadi tonggak modernisasi. Hampir tidak
ditemukan organisasi sebesar Muhammadiyah. Yang amal usahanya berjumlah puluhan
ribu. Terdiri dari TK hingga perguruan tinggi. Terletak di kota hingga di
pelosok desa yang tak mampu dijangkau pemerintah. Bahkan hingga ke luar negeri.
Pencapaian-pencapaian luar biasa ini hanya bisa diperoleh dengan perjuangan
yang luar biasa. Yang dilakukan oleh kader-kader luar biasa. Yang dengan
segenap jiwa raganya memperjuangkan Muhammadiyah melalui amal usaha. Keringat,
air mata dan tetesan darah sudah tak lagi terhitung. Semua dihibahkan hanya
untuk memajukan Islam melalui gerakan Muhammadiyah.
Jika
kita menilik kembali sejarah. Melacak asal muasal pendirian Amal Usaha
Muhammadiyah (AUM). Betapa kemudian kita lihat generasi awal Muhammadiyah
memotong kayu sendiri. Menyiapkan meja dan kursi. Menyumbangkan barang pribadi
mereka. Bahkan berpartisipasi dalam pengajaran. Mereka bahkan tak segan untuk
menyubsidi AUM dengan harta pribadi. Yang saat itu menjadi tujuan, adalah
bagaimana umat Islam bisa maju. Bagaimana agar Muhammadiyah bisa berperan
mengembalikan nilai-nilai Islam yang berkemajuan.
Titik
awal pembangunan AUM menjadi begitu penting. Mengingat kader-kader Muhammadiyah
yang tulus ikhlas inilah yang kemudian membuat AUM menjadi besar, berlipat
ganda dan tak terhitung jumlahnya. AUM menyebar ke pelosok negeri. Membangun
daya tawar terhadap pemerintah. Hingga suka tidak suka. Mau tidak mau.
Pemerintah kemudian harus menyokong pergerakan AUM. Agar kebutuhan dasar bangsa
Indonesia dapat terpenuhi. Kebutuhan atas pendidikan yang bebas dan
membebaskan.
Internalisasi
ideologi Muhammadiyah, Islam berkemajuan, dilakukan secara seksama oleh
kader-kader millitan. Yang dengan dibayar seadanya, namun mendidik tanpa
pamrih. Pemahaman atas Islam berkemajuan yang membebaskan ditransfer kepada
peserta AUM bukan hanya lewat ceramah-ceramah di ruangan. Namun juga dengan
nilai-nilai nyata. Dengan menjadi panutan yang dapat disaksikan setiap hari.
Jikalau boleh mengambil contoh sederhana dari novel Laskar Pelangi. Yang memang
cerita fiksi, namun penulis yakini terinspirasi dari kejadian nyata. Betapa
kepala sekolah dan guru SD Muhammadiyah. Selalu menjadi inspirasi untuk
murid-muridnya dan memberi yang  terbaik.
Tanpa meninggalkan pesan-pesan Muhammadiyah sebagai inti nilai yang mesti
diajarkan. Maka AUM dahulu, begitu mencerminkan tujuan keberadaannya.
Muhammadiyah
kini telah berusia 102 tahun Hijriyah dan 105 tahun Miladiyah. Umur yang tidak
lagi muda. Jika diibaratkan manusia. Muhammadiyah adalah manusia yang tua dan
renta. Yang mungkin tidak lagi mampu berpikir dan berjalan dengan benar.
Untungnya Muhammadiyah adalah sebuah gerakan yang selalu diisi oleh orang-orang
baru. Yang penuh dengan gagasan baru yang cemerlang. Namun 20 tahun terakhir.
AUM menjadi salah satu bahasan menarik di internal Muhammadiyah. AUM dianggap
telah bergeser dari cita-cita Muhammadiyah dan sibuk menjadi ladang bisnis.
Hingga menafikkan tujuannya. Meng(k)ader penerus gerakan dan menjadi solusi
permasalahan bangsa dan umat manusia.
AUM
hanya disibukkan persoalan keuntungan. Sibuk menghitung berapa pendapatan tiap
bulannya. Bagaimana supaya semakin banyak kas yang diterima. Hingga persoalan
kapasitas SDM dalam hal kemapanan ideologi mulai ditinggalkan. Betapa kemudian,
pelajaran Muhammadiyah dan Al-Islam hanya sekadar menjadi formalitas. Dan
diberikan begitu saja. Bahkan ditemukan pengajarnya tak memahami Muhammadiyah.
Pelajaran-pelajaran lainpun diajarkan terpisah, tanpa ada nilai-nilai
Muhammadiyah. Sehingga berada di AUM tak menjamin seseorang berMuhammadiyah.
Ternyata
setelah ditelusuri. Ditemukan dibeberapa wilayah. Bahwa lebih dari 90% pegawai
di AUM bukanlah warga apalagi kader Muhammadiyah. Sebagian besar tidak memahami
Muhammadiyah dan pergerakannya. Bahkan ada yang membenci Muhammadiyah. Hingga
ditemukan ada yang membawa ideologi lain ke dalam AUM. Pelan-pelan, AUM hanya
menjadi alat untuk mencari uang dan keuntungan bagi segelintir orang yang bukan
warga Muhammadiyah. Memasang tarif seenaknya dan mengesampingkan tujuan dan
cita-cita Muhammadiyah.
“Kita
tidak punya kader”
“Kita
krisis kader”
“Kader
kita belum siap.”
Selalu
kalimat-kalimat itu yang diucapkan. Padahal ada banyak kader yang dibiarkan
hilang. Tidak diberdayakan atau  bahkan
disisihkan. Bagaimana mungkin mau memiliki kader yang siap. Jika tidak
disiapkan?! Berharap ada orang hebat yang tiba-tiba turun dari langit, masuk ke
AUM lalu memperjuangkan Muhammadiyah? Betapa naifnya.
Maka
kemudian menjadi wajar ketika AUM mulai dicela masyarakat. Biayanya mahal. Tak
berpihak kepada masyarakat. Jauh dari cita-cita Muhammadiyah. Karena memang AUM
dikelola oleh mereka yang bukan kader Muhammadiyah. Dan mungkin hari ini, dari
dalam kubur. KH. Ahmad Dahlan dan generasi awal Muhammadiyah sedang menangis
dan menjerit keras. Karena AUM tak lagi Muhammadiyah. Semoga tidak begitu.
Samarinda,
20 Desember 2014.

[1] Direktur
Pena
Merah Institute
(Lembaga Pengembangan Intelektual Kader DPD IMM
KALTIM-RA)