Kisah Para Pesepak Bola Muslim di Eropa


Sangpencerah – Sudah menit ke delapan puluh. Ketegangan kian merubung stadion raksasa itu. Stamford Bridge, di ibu negeri yang sering disebut sebagai nenek moyangnya sepakbola. London. The Blues Chelsea seperti berdiri di tubir jurang. Hidup mati klub raksasa ini di Liga Champion ditentukan dalam 10 menit tersisa.

Meski bertanding dengan semangat super, skuad Chelsea terengah-engah melawan waktu. Serangan susul menyusul.  Bola muntah Etoo kini disambar pemain anyar Chelsea, Alex. Melesakkan tembakan dari luar kotak penalti, Alex ingin mengubah nasib. Tembakannya tampak lemah. Dan tak ada yang yakin bola itu bisa menusuk jala.

Tapi keajaiban datang dari pemain yang tidak disangka para juru gerbang PSG.  Demba Ba, penyerang  Chelsea tengah berdiri bebas. Tak ada yang mengawal, apalagi mengatup lubang ke gawang. Bola lemah Alex seolah menjadi tipuan tak sengaja.

Demba Ba tak stabil. Badannya linglung menahan beban bek PSG. Setengah badannya sudah begitu miring. Namun ini kesempatan emas. Tak ada kata menyerah. Kaki kirinya masih bisa mengayuh. Dengan sedikit dorong, Demba  menendang bola itu.

GOOLLL ………….  Bergetarlah gawang PSG.

Gemuruhlah Stamford Bridge. Ketegangan selama 87 menit berubah menjadi kebahagiaan tiada kira. Demba Ba berlari kegirangan. Pinggir lapangan jadi tempatnya berpesta. Bukan bergaya ayun tangan atau menari ala Roger Mila, Demba Ba bersujud mencium rumput sebagai perayaan.

Selebrasi sujud syukur telah menjadi ciri khas Demba Ba. Gawang tim manapun yang dibobolnya, Demba Ba tak lupa bersujud. Kadang di tengah lapangan, namun lebih banyak di sudut. Dekat sepak pojok. Seperti sedang shalat, lutut Demba Ba selalu tertekuk di rumput hijau. Diikuti seluruh badannya. Bersujud.

*****

Cara Demba Ba merayakan gol, ramai dibicarakan orang. Sebagai seorang Muslim yang saleh, Demba Ba seolah membawa pesan ke dalam lapangan. Bahwa identitas muslim takkan pernah lepas, segirang apapun kemenangan itu. Termasuk di lapangan hijau itu.

Dan Demba Ba bukan seorang diri. Liga sepakbola ternama dunia, khususnya Eropa, perlahan-lahan mulai diramaikan para pemain muslim.  Bukan hanya Liga Primer Inggris. Puluhan pesepakbola muslim kini bisa ditemukan di Bundesliga, Liga BBVA Spanyol, bahkan liga di negara sekuler, Ligue 1 Perancis.

Siapa tak kenal penyerang haus gol Real Madrid, Karem Benzema atau gelandang bertahan Sami Khedira. Lihatlah dari tanah Jerman. Penggila sepakbola dunia sudah lama dibuai gocekan maut Franck Ribery.

Jangan sebut jumlah pesepakbola muslim di Tanah Inggris. Di Negeri Ratu Elizabeth itu, puluhan pemuda muslim menyuguhkan aksi tiki-taka di lapangan hijau. Di Manchester City saja kini bercokol pesepakbola muslim macam Samir Nasri, Yaya Toure, Edin Dzeko, dan Basari Sagna.

Teranyar, pesepakbola muslim kelahiran Turki Mesut Ozil menjajal atmosfir panas Liga Primer Inggris. Dengan keahlian olah bolanya, Ozil bergabung dengan Arsenal usai bermain di Liga Spanyol bersama Real Madrid.

Menjadi pesepakbola profesional muslim di negeri non muslim tidak mudah. Gaya hidup serba glamor para pesepakbola jadi penggoda iman paling besar. Bahkan sebelum menjadi bintang, tantangan besar sudah dihadapi pesepakbola muslim.

Kontrak dengan permintaan khusus jadi syarat wajib klub pengontrak pemain muslim. Mulai dari makanan halal, kamar mandi terpisah dari tim, hingga waktu khusus menjalankan shalat adalah contohnya. Inilah klausal-klausal khusus yang tak boleh hilang.

Dan godaan bagi pesepakbola muslim kian berat usai kontrak ditandatangani. Tengok saja di Liga Inggris. Semua pemain terbaik di setiap pertandingan Liga Utama Inggris akan dianugerahi sebotal sampanye.

Islam sama sekali melarang alkohol. Tak heran jika pemain tengah Manchester City, Yaya Toure, dengan halus menolak hadiah pemain terbarik tersebut.

Tak cuma Yaya Toure, pemain utama Perancis juga menyimpan kisah yang takkan pernah dilupakan soal urusan botol ini. Disiram minuman beralkohol dalam perayaan kemenangan Bayern Munich menjadi kampiun Bundesliga, Ribery marah besar.

Larut dalam perayaan juara Bundesliga 2012/2013, pemain FC Hollywood, Ribery murka usai segelas bir tumpah ke tubuhnya hingga basah kuyup. Jerome Boateng tertawa lepas. Ribery tertegun, wajahnya memerah. Berang.

“Saya sangat kesal. Saya tidak akan bicara lagi dengan  Boateng. Dia tahu agamaku (tapi dia tetap menyiram bir ke badanku),” ujar Ribery ngambek usai bubaran pesta.

Sihir sepakbola Eropa yang sanggup menyita perhatian penduduk seantero bumi, juga tak lepas dari perhatian sejumlah perusahaan raksasa. Beratus miliar rupiah rela dibenamkan demi menjadi sponsor utama. Targetnya, logo perusahaan terpampang dalam kaos tim yang bertabur prestasi.

Dunia bisnis sepak bola memang tak peduli asal muasal uang.  Mensponsori hajatan sepakbola atau klub adalah cara jitu memperkenalkan produk. Yang pada ujungnya mendongkrak pendapatan. Dari perusahaan ternama dunia hingga rumah judi ada di deretan kaos tim sepakbola.

Penetrasi para sponsor itulah  yang kerap kali menyulitkan para pemain muslim.Tim dengan dukungan sponsor dari perusahaan judi membuat pesepakbola muslim serba salah. Bagi para pemain ini,  mempromosikan aktivitas yang bertentangan dengan ajaran Islam tentu saja sulit dilakukan.

Djibril Cisse, misalnya, mendesak untuk berbicara dengan manajemen Newcastle United, usai mendapat sponsor dari perusahaan judi, Wonga.

Meski banyak bersikap keras dan tegas,  sebagian pesepakbola muslim Inggris memilih langkah moderat terhadap terhadap kasus seperti ini. “Kami adalah pemain dan hal ini adalah keputusan manajemen klub. Kami tak dapat melakukan apapun soal ini, kami hanya menjalankan tugas kami,” kata Kiper Wigan Athletic, Ali Al-Habsi.

Tantangan terbaru terjadi di ajang Piala Dunia, Brasil, 2014. Di tengah suhu panas dan jadwal pertandingan, pesepakbola muslim harus menjalankan puasa. Ya, jadwal Piala Dunia yang dihelat beberapa bulan lalu itu, memang bertepatan dengan Ramadan.

Dan para pemain muslim harus melewati tantangan ini. Tidak boleh minum selama 18 jam dan diminta menunjukkan penampilan terbaik selama 90 menit. Pertanyaan inilah yang terus menjadi perdebatan selama World Cup berlangsung.

Toh, tantangan ini tidak menjadi hambatan. Para pemain muslim tetap menjalankan puasa. Bagi yang tidak, fatwa ulama dari negaranya telah menjamin keputusan tak menjalankan puasa itu.

Dengan segenap tantangan itu, pesepakbola muslim pada keramaian Liga Eropa seperti Demba Ba itu, telah menjelaskan banyak hal. Kemenangan bisa dirayakan dengan cara sederhana. Sujud syukur.(drm/sp)