Hypermart Paksa Karyawan Muslim Pakai Atribut Natal

Menjelang menyambut perayaan natal ada saja tingkah pelaku dari pengusaha yang memaksakan kehendaknya untuk memakai atribut natal terutama bagi karyawan muslim. Salah satun pengusaha adalah yang bergerak di supermarket seperti supermarket Hypermart Pejaten Village. Hal ini seperti yang diakui oleh Manager on Duty Hypermart Pejaten Village, Dindin Wandani.
Dia memberikan penjelasan bahwa seluruh karyawan Hypermart termasuk karyawan muslim diharuskan menggunakan atribut natal. kewajiban tersebut merupakan aturan yang berlaku di Hypermart Pusat.
“Kami hanya melaksanakan aturan pusat,” ujarnya, Rabu (16/12/2014).
Untuk hal seperti ini sebenarnya MUI dan Menteri Agama telah menghimbau untuk melarang perusahaan guna memaksa karyawan muslim memakai atribut natal, Didin mengaku baru mengetahuinya.
Didin sendiri sebenarnya tidak memaksa karyawan lain untuk menggunkan atribut natal, namun itu merupakan kebijakan perusahaan.
Didin mengatakan kalau dia yang menjadi pemilik peruhaan tentunya dia tidak akan menyuruh karyawannya untuk memkai atribut tesebut, “Kalau saya yang punya perusahaan, sebagai seorang muslim, saya tidak mau karyawan muslim pakai atribut natal.”
Fahira Idris selaku senator DKI Jakarta,  mengungkapkan, bahwa dia memperoleh ratusan email serta sms dari berbagai wilayah yang melaporkan masih ada perusahaan yang mewajibkan pekerjanya untuk mengenakan atribut natal.
Fahira menegaskan, perlakuan pemaksaan terhadap muslim guna memakai atribut natal ini adalah bentuk intoleransi karena tidak menghargai hak dan keyakinan agama mereka dan bertentangan dengan pasal 29 UUD 1945.
menurutnya, yang selama ini  terjadi justru memutarbalikan isu di mana umat muslim yang tidak meau menggunakan atribut natal dianggap tidak toleran.
Padahal, menurutnya, toleransi itu adalah, kita menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan selama tindakan itu tidak menyimpang dari aturan baik hukum maupun agama. (sp/islampos)