Hidup itu Bagai Falsafah Roti

oleh: Fahmi Salim, MA 

Hidup itu seperti roti. Berawal dari bagian-bagian kecil yang menyatu dengan baik. Tepung, gula, mentega, telur, ragi, dll


Walaupun diaduk, diputar, diremas, dibanting… Semua itu tak merusaknya, bahkan membuatnya makin menyatu, lembut dan kalis.

Hanya setelah bersatu dengan baik, adonan tadi bisa berkembang. Andai tepung terlalu sombong tak mau bersama ragi, ia tentu tetap jadi tepung.


Individu yang mau bersatu dalam sebuah tim akan berkembang bersama timnya. Yang individualis, akan tetap seperti ia bermula, bukan siapa-siapa.


Setelah mengembang, adonan dipotong, dicabik, digiling, tapi justru proses inilah yg membentuk individu roti jadi long john, kadet atau lainnya. Tak berhenti di situ, roti selanjutnya digoreng atau dipanggang. Ditempa dengan panas, malah membuatnya makin berkembang.


Hanya yang selamat dari ujian bantingan, pemotongan dan tempaan panas, layak dihias topping nan menawan. Yang lain, dibuang. Demikianlah hidup. Ada yang gagal di tahap awal, masih bisa mengulang prosesnya, tapi gagal di ujian akhir, gosong dipanggangan dan dibuang.


Hanya yang sudah melewati ujian akhir terberat dalam panggangan yang dihias dengan cantik dan dihargai dengan nilai berlipat-lipat dari nilai bahannya.


Jadi kalau merasa sedang diputar-putar, dipukuli bertubi-tubi, bahkan dibanting. Bersabarlah, itu tandanya sedang diproses menjadi lebih lembut layaknya adonan roti.
Kalau merasa didiamkan, dikucilkan, bahkan seperti ditutup dengan kain basah yang pengap. Itu tandanya sedang dalam proses berkembang, seperti roti.
Kalau merasa dipotong, dicabik, digilas… Itu tandanya sdg dibentuk menjadi individu unik. Kalau merasa “panas”… Bersabarlah, karena setelahnya akan lebih berkembang dan dihias dengan topping yang cantik, mk nilaimu akan lebih tinggi lagi.


 Semoga bermanfaat…