Beredar Buku Pemurtadan dan Menyudutkan Nabi Muhammad di Aceh

Banda Aceh – Beredarnya buku-buku yang menyudutkan Nabi Muhammad SAW meresahkan masyarakat Aceh. Sedikitnya ada lima buku yang diedarkan orang tak dikenal di tengah malam. Apa saja isinya?
Buku dalam bentuk salinan disebar ke rumah-rumah warga, warung kopi, bahkan pesantren pada tengah malam, sehingga pelakunya belum diketahui. “Antara satu daerah dengan daerah lain bukunya beda-beda,” kata Faisal yang juga Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Rabu (3/12/2014).
Dari lima jenis buku yang kini diamankan MPU, jelas Faisal, di antaranya berjudul Yesus, Muhammad dan Saya, Sebutir Intan di Pengujung Alquran: ‘Menangkal Serangan Setan’, dan Jalan Menuju Surga.
“Isinya pemurtadan semua, menyerang Islam, menyudutkan nabi kita (Muhammad SAW), sangat disayangkan. Ini upaya pendangkalan akidah,” ujarnya.
Dalam buku tersebut disebutkan Nabi Muhammad SAW menikah 23 kali. Kemudian, ajaran yang dibawanya dituduh memperbolehkan tindakan terorisme.
“Ini jelas-jelas menyudutkan Nabi kita. Terorisme juga hal yang sangat bertentangan dengan Islam, sangat tidak benar apa yang ditulis buku itu,” kata Faisal.
Dalam tulisan lain, Alquran disebut bukanlah murni produk Tuhan. Alquran juga dikatakan telah memutarbalikkan fakta dari Alkitab. Kitab suci itu dinyatakan hanya untuk orang Arab, tak bisa digunakan untuk semua generasi, dan cacat sejarah.
Selanjutnya isi buku tersebut mengajak umat Islam meninggalkan ajaran-Nya dan beralih ke agama lain. “Ini jelas upaya pemurtadan,” terangnya.
Faisal meminta masyarakat yang menemukan buku tersebut untuk tak menyimpannya, karena dikhawatirkan memengaruhi pemahamannya jika tak kuat iman. “Serahkan saja kepada pihak terkait, baik polisi maupun ulama-ulama terdekat atau kepada MPU setempat,” ujarnya.
Kepolisian diminta segera mengusut kasus ini, sebab sangat meresahkan masyarakat. Jika dibiarkan, Faisal khawatir muncul kecurigaan berlebihan dari masyarakat sehingga dikhawatirkan mengganggu keamanan di Aceh.
Terlebih lagi dalam beberapa pekan ke depan, Aceh akan banyak dikunjungi wisatawan asing yang ingin menyaksikan refleksi 10 tahun tsunami. “Jangan sampai masyarakat mencurigai berlebihan orang-orang yang datang ke Aceh,” tutur Faisal.
Dia meminta masyarakat untuk tidak bersikap curiga berlebihan atau terlalu represif terkait beredarnya buku-buku pendangkalan akidah tersebut. “Curiga berlebihan kepada orang lain juga tidak baik dalam Islam. Tapi, kita tetap harus waspada,” pungkasnya. (sp/mch/okezone)