Banjarnegara Nyatakan Darurat Bencana Akibat Longsor dan Banjir

Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo mengeluarkan surat pernyataan kondisi darurat bencana di kabupaten itu, kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara Catur Subandrio.

“Dengan adanya pernyataan darurat bencana tersebut, kami berupaya agar ada bantuan dari pemerintah pusat. Kebetulan dari BPBD Provinsi Jawa Tengah dan Basarnas sudah ada di sini [Banjarnegara],” katanya seperti dikutip Antara, Kamis (11/12/2014)

Menurut dia, pernyataan darurat bencana itu dikeluarkan karena bencana tanah longsor, tanah bergerak, dan banjir melanda berbagai wilayah Banjarnegara.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa pihaknya sebenarnya telah mengagendakan rapat koordinasi penanganan bencana alam di Kabupaten Banjarnegara, Kamis malam.

Akan tetapi, kata dia, pihaknya belum bisa memastikan apakah rapat koordinasi tersebut dapat dilaksanakan malam ini atau ditunda karena bencana alam kembali terjadi.

“Kami terjebak di Karangkobar karena ada tanah longsor yang menutup ruas jalan Karangkobar-Banjarnegara di Desa Sampang. Kalau tadi siang, longsor di Desa Slatri dan Leksono, sekarang di Sampang lebih luas lagi dan tanahnya bergerak terus,” kata dia yang sedang dalam perjalanan menuju Banjarnegara.

Menurut dia, semua akses jalan dari Karangkobar menuju Banjarnegara macet karena selain di Sampang, longsor juga terjadi di ruas Jalan Raya Dieng-Wonosobo, yakni di Desa Sitieng, Kecamatan Kejajar, Wonosobo.

Dalam hal ini, kata dia, longsor di Sitieng menggerus seperempat badan jalan sehingga tidak bisa dilalui kendaraan.

“Semua akses jalan jadi macet semua, kami mau lewat Wonosobo tidak bisa karena di Sitieng ada longsor. Kami juga bingung, Pak Wakil Bupati [Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno] terjebak di atas [Karangkobar], kami terjebak, sedangkan kami mau rapat koordinasi,” jelasnya.

Selain longsor, kata dia, bencana banjir juga melanda Susukan dan Klampok akibat luapan Sungai Serayu.

Catur mengatakan bahwa banjir di Susukan dilaporkan merendam 13 rumah warga, sedangkan di Klampok masih dalam pendataan. (sp/solopos)