Anda PNS Atau Ingin Jadi PNS ? Bacalah Potret PNS di Negeri Ini

‘Negara tidak butuh orang pintar, negara butuh orang loyal, monoloyalitas kalau perlu,’


*dulu, pas kuliah, saya nggak percaya tentang pernyataan di atas, tapi saat melihat kenyataan, seorang yang sudah pantas naik pangkat dan jabatan, tapi oleh pimpinan dihambat, hanya dengan alasan: jangan ah, dia orangnya tukang protes.


Atas kenyataan itu, saya kini yakin, ternyata benar kesimpulan di atas: negara hanya butuh orang MONOLOYALITAS..


Di sebuah warung kopi, seorang kawan bercerita tentang doktrin menjadi PNS. Dari tak boleh mengkritik Negara, harus mendukung kebijakan pemerintah hingga tata perilaku. Bahkan, saya tertawapun harus diatur, supaya mencerminkan abdi negara,ujar seorang kawan yang jadi PNS.


Apa benar seperti itu?


Kurang lebih analisanya seperti ini:


NEGARA tidak membutuhkan orang-prang pandai. Negara cuma abdi Negara yang loyali, bahkan monoloyalitas. Karenanya, lembaga birokrasi bukan upaya mendidik PNS tetapi sebagai seleksi orang-orang yang tidak menyimpang: Bertanya jangan aneh-aneh, jika bisa tidak usah; berfikir yang lurus-lurus saja; berpakaian yang ‘rapih’; berperilaku sebaiknya menunduk; daftar hadir harus penuh; pergerakan ditangkar. Lantas, cita-cita diseragamkan: sekolah lagi buat naik pangkat, melihat tanggal gajian, promosi jabatan dll


Supaya Negara tetap terjaga dan tidak diotak-atik, institusi disakralkan. Bahkan lebih suci dari gereja. PNS menjadi peserta sehari-hari: lima hari dalam seminggu, 12 bulan dalam satu tahun. Biasanya tanpa interupsi. Negara tak ubahnya dengan sapi yang disucikan dalam kepercayaan Hindhu. Ia tak boleh diusik, dikritik apalagi dimaki.


Negara telah menjadi simbol sekaligus mitos. Simbol kemenangan kaum the have dan mitos kaum dhuafa menggapai impian. Hirarkinya tegar dan ketat. Terdapat senioritas. Ada stratifikasi yang tak bisa ditinggalkan. Terdapat kelas-kelas social.


Dahulu kala, Machiavelli menganjurkan untuk menutup semua pintu kejujuran. Penguasa yang bijak tak harus memegang janji bila janji akan merugikan dirinya sendiri dan kalau alasan yang mengikat sudah tak ada lagi, tulisnya. Sekarang setelah limaratus tahun ditinggal oleh Machiavelli, manusia lebih bengis dari yang digambarkan Hobbes, manusia adalah serigala bagi yang lain. Seorang novelis Rusia, Dostoyevsky, menyebut bahwa tidak ada perubahan dari manusia sejak ditinggal para nabi sekalipun. Malah semakin licik, semakin edan.

Takut adalah batas. Takut IPK turun. Takut absen. Takut di-Mutasi-kan. Takut di-Non Job-kan. Takut disemprit polisi dipertigaan jalan. Takut kena pentungan petugas saat demonstrasi. Takut ditangkap intelijen dalam diskusi mengutuk pemerintah. Takut dan nervoues menghadapi wawancara. Dan 1001 ketakutan lain. Dimanakah batas itu? Ketika menetapkan apa yang ditakutkan. Bersimpuh pada ketakutannya sendiri. Membisukan diri karena takut diciduk. Mentulikan supaya nampak arif. Tidak mau menggeleng saat semuanya mengangguk. Tunduk pada aturan main yang ngaret, lentur, menginjak. Merunduk, tiarap dan menutup pada alternatif pilihan lain.

Tapi, bagi PNS seharusnya rasa TAKUT bukan untuk ditutupi. Bagai virus, sekali terkena takut ia merambat cepat kemana saja ia mau. Barangkali, tepatnya takut itu untuk disadari. Sadar bahwa manusia terbatas. Pada panca indera, pada batas rasio, religi, keyakinan pshyco, finansial. Kesadaran akan menuntun kejernihan hati, bijak dalam berpeilaku. Terukut dan terarah. Weninging ati kang suwung, nanging sejatining isi, wejang Ronggowarsito yang kurang lebih berarti keheninga nsekaligus kebeningan. Kehampaan yang seharusnya berisi.

Pada akhir pidatonya, Aung San Suu Kyi menjelaskan, takut kehilangan kekuasaan merusak mereka yang memegang kekuasaan. Dan takut dilanda kekuasaan merusak mereka yang dikuasai.

Ini potret PNS yg ditangkap oleh penulis , sebagai sebuah opini tentu ini terkait subyektifitas penulis sehingga penilaian diserahkan kepada pembaca(andisaputra/sp)