7 Jalan untuk Kerukunan dan Toleransi

Fathurrahman Kamal, Lc, M.SI
( Wakil Majlis Tabligh PP Muhammadiyah )

Pertama, sebagai muslim yang baik kita meyakini bahwa setiap manusia
dari sudut pandang penciptaannya (ontologis) memiliki kemuliaan
(karâmah), apapun ras, warna kulit, suku, bangsa termasuk agamanya,
sesuai dengan firman Allah : “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan
anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri
mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan“(Al-Isra’ : 70). Maka hak kemuliaan sebagai manusia ciptaan
Allah wajib untuk dilindungi dan dipelihara, kecuali dengan pelanggaran
yang telah ditentukan dalam syariat Islam. Ini pula yang ditunjukkan
Nabi ketika melihat jenazah yang diusung di hadapannya lalu beliau
berdiri. Seorang sahabat menyampaikan bahwa itu adalah jenazah orang
Yahudi. Dengan tegas beliau menjawabnya, “Bukankah dia seorang (manusia
juga) ?” (HR Muslim).

Kedua, bersikap apresiatif terhadap fakta
keragaman dan berlapang dada, karena perbedaan keyakinan dan agama
merupakan sesuatu yang qodrati dari Allah SWT : “Dan Kami telah turunkan
kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu
ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara
mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.
Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang
terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu
umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya
kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada
Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa
yang telah kamu perselisihkan itu”( Al-Ma’idah : 48). Karenanya,
tidaklah mungkin bagi seorang muslim melakukan intimidasi, pemaksaan,
apalagi teror terhadap orang lain untuk masuk ke dalam Islam.Firman
Allah, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang
yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia
supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (Yunus : 99).
Juga firmanNya, ““Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada
Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat
kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (Al-Baqarah : 256). Juga firmanNya, Katakanlah: “Hai
orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan
kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi
penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi
penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah,
agamaku.” (Al-Kafirun : 1-6).

Ketiga, memahami bahwa perintah
dakwah dalam Islam bertujuan terwujudnya transformasi dan perubahan
kepada kebaikan dan kebenaran, baik pada level pribadi dan masyarakat,
dilakuan dengan cara persuasif dan komunikasi yang elegan, bukan
indoktrinasi, apalagi dengan pola-pola radikal. Disertai sebuah
pemahaman bahwa, Allah tidak membebani kita untuk bertanggungjawab atas
kekufuran orang-orang kafir atau kesesatan orang-orang yang sesat.
Masalah terpenting ialah, dakwah telah kita sampaikan, sebagaiman firman
berikut : “Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang
sebelum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain
hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya”(
Al-‘Ankabut : 18). Juga firmanNya,” Dan jika mereka membantah kamu,
maka katakanlah: “Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan.
Allah akan mengadili di antara kamu pada hari kiamat tentang apa yang
kamu dahulu selalu berselisih padanya. Firman lainnya, “Maka karena itu
serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana
diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan
katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan
aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan
kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal
kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan
antara kita dan kepada-Nyalah kembali.” (Syura:15). Dengan demikian,
seorang muslim akan hidup secara nyaman dengan kelapangan dada dan
kerelaan hati.

Keempat, bahwa Allah memerintahkan dan mencintai
keadilan; berlaku proporsional, menyeru kepada kemuliaan akhlaq serta
mengharamkan kezaliman, meskipun terhadap orang-orang musyrik. ” Hai
orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu
untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat
kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ma’idah : 8). Imam Bukhari
meriwayatkan pidato dan pesan bersahaja Khalifah Umar Ibn Khathab,
“Wahai umat Islam, aku berpesan agar kalian berbuat baik kepada ahli
dzimmah, mereka itu merupakan janji dan jaminan Allah dan rasulNya, juga
dari mereka kalian mendapatkan rizki untuk orang-orang yang kalian
tanggung.” 

Demikian pula seorang sahabat Abdullah Ibnu Rawahah,
ketika beliau ditugaskan Nabi SAW untuk menimbang buah-buahan yang
dihasilkan oleh orang-orang Yahudi di Khaibar. Tampak mereka hendak
menyogok Ibnu Rawahah, serentak beliau berkata,”Hai masyarakat Yahudi,
sungguh anda adalah makhluk Allah yang paling aku benci; kalian telah
membunuh para Nabi dan berdusta atas nama Allah. Meskipun demikian,
sungguh kebencianku ini takkan membuatku berlaku zalim atas kalian. Maka
berkatalah orang-orang Yahudi itu, ‘Sikap seperti inilah yang membuat
(kehidupan) langit dan bumi menjadi tegak berdiri.”(HR Ahmad). Imam
Muslim meriwayatkan, suatu ketika, seorang sahabat, Hisyam ibn Hakim
ibn Hizam, berkunjung ke Himsh (Syria). Ia menyaksikan seseorang yang
sedang menjemur beberapa orang yang sedang bermasalah dalam urusan
jizyah di bawah terik matahari. Ia pun berkata, “aku bersaksi, sungguh
Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya Allah menyiksa
orang-orang yang menyiksa orang lain (apapun ras dan agamanya) di dunia
(tanpa sebab yang dibenarkan agama).

Kelima, dalam konteks dialog
antar agama, tidak mengklaim bahwa semua agama benar (pluralisme),
dengan dalih apapun, termasuk teori kesatuan transenden agama-agama
Schoun yang dielaborasi lebih lanjut oleh pemikir muslim, Nurcholish
Madjid dengan gagasan-gagasan inklusif-pluralisnya. Karena pemikiran
seperti ini merupakan bagian dari kekerasan dan teror teologis (al-‘unfu
wa al-irhab al-‘aqadiy) yang sesungguhnya di lawan oleh semua agama di
dunia.

Keenam, berpegang pada sikap amanah serta jujur dalam
beragama; tidak saja pada ritual-ritual murni, tapi juga dalam hal-hal
yang potensial mencampur-adukkan ajaran agama-agama seperti natalan dan
do’a bersama atas nama kebersamaan, kebangsaan atau kearifan lokal dan
seterusnya. Toleransi tidak bermakna kesediaan mengikuti ritual dan
peribadatan di luar keyakinan masing-masing umat beragama. Dus dengan
demikian, masing-masing pemeluk agama merasa legowo dan tidak ada yang
merasa tidak dihormati, apalagi dilecehkan, hanya karena sesama anak
bangsa berpegang teguh dengan keyakinan dan keimanannya masing-masing.

Ketujuh, di luar wilayah keimanan (akidah), Islam mengajarkan tentang
komitmen persaudaraan kemanusiaan (al-musâwâh, bukan humanisme sekuler)
secara adil dan penuh hikmah dalam wujud kerjasama dalam urusan-urusan
dunia (mu’amalat dunyawiyah). Tanpa mencampur-aduk ajaran agama-agama.
Fakta sejarah kehidupan Nabi dan masyarakat Madinah menjadi tauladan
tasamuh yang sesungguhnya. Bukan seperti klaim pluralisme agama yang
berorientasi kepada penyamaan agama-agama di dunia serta menafikan
karakter yang khas pada masing-masing agama tersebut. Hal demikian,
selain bertentangan dengan syariat Allah SWT, juga telah mengabaikan dan
menistakan hak asasi manusia untuk meyakini agamanya masing-masing.
والله أعلم بالصواب
= = = = = = = = = =
Catatan : Proposisi tersebut sebagai catatan penutup penulis pada
makalah bertajuk “Kemajemukan dalam Tinjauan Islam : Mendiskusikan
Kembali Problema Pluralisme Agama dan Proposisi untuk Kerukunan antar
Umat Beragama di Indonesia”, yang kami presentasikan pada acara workshop
penyusunan “Modul Dakwah Berwawasan Multikultural bagi Penyuluh Agama”
yang diselenggarakan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama
Jakarta, pada tanggal 27-29 Juni 2011 di Hotel Horison Bekasi Jawa
Barat.