5 Nasehat Nabi Kepada Abu Hurairah

Oleh: Fahmi Salim, MA

Suatu hari seorang sahabat nabi, Abu Hurairah menyaksikan Rasulullah berpidato. “Siapakah di antara kalian yang sanggup mengambil dari aku beberapa nasehat agar dapat diamalkan dalam hidupnya, atau jika tidak ia dapat mengajarkannya kepada orang yang siap mengamalkannya?” demikian Rasulullah memulai pidatonya.

Kontan saja, Abu Hurairah yang menyaksikan pidato yang tak biasa itu, jadi penasaran terhadap isi nasehat nabi, dan ia pun langsung mengacungkan tangannya. “Saya wahai Rasulullah..” demikian lantang suara Abu Hurairah merespon pertanyaan nabi. Lalu sahabat yang paling banyak merawikan hadis nabi itu menceritakan dan merinci nasehat apa saja yang disampaikan oleh Rasulullah.

Pertama, wahai Abu Hurairah! Jauhilah semua yang Allah haramkan, niscaya engkau adalah manusia yang paling super ibadahnya kepada Allah. Kedua, puaslah dengan apa yang telah Allah bagikan untukmu, niscaya engkau adalah manusia yang paling super kekayaannya. Ketiga, berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau adalah mukmin sejati. Keempat, cintailah orang lain seperti halnya engkau cintai dirimu sendiri, niscaya engkau adalah muslim sejati. Kelima, jangan kau banyak tertawa karena hal itu akan mematikan hati! Demikian petuah nabi.

Konten nasihat nabi kepada Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmidzi itu, sesungguhnya amat relevan dengan kehidupan keseharian kita. Kelima nasihat nabi itu mencakup semua segi hubungan baik seorang hamba Allah kepada Khaliqnya, kepada sesama manusia, sikap terhadap pemberian Allah, dan kiat untuk menghidupkan hati kita.

Sering kita menilai orang yang taat adalah yang rajin beribadah shalat ataupun amaliah lainnya, namun tak jarang orang beribadah sekalipun masih saja melanggar larangan Allah. Banyak yang shalat, bahkan sanggup berzakat dan sudah haji, namun korupsi, sumpah palsu, tuduhan palsu, tender palsu, surat palsu, paspor palsu, dan segala bentuk kepalsuan dan kebohongan masih terus dijalankan dengan efektif baik sendiri maupun berjamaah. Di tingkat individu, keluarga, korporasi maupun penyelenggara Negara.

Banyak juga yang masih korupsi, bukan karena tak cukup gaji dan penghasilan, namun karena rakus dan serakah (by greed). Gemerlap dunia dan hedonistik telah membutakan mata hatinya, sehingga tak pernah puas dengan rezki yang Allah berikan kepadanya. Sungguh benar ungkapan Allah, Bermegah-megahan Telah melalaikan kamu, Sampai kamu masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur: 1-2)

Kesetiakawanan sosial juga ajaran nabi. Peduli kepada tetangga dan mencintai sesama manusia, kata nabi, adalah bukti keimanan dan keislaman yang benar. “Bukan golongan kami, orang yang tertidur pulas karena kenyang sementara tetangganya kelaparan!”, tukas nabi. Menjaga kesantunan dan tawadlu dengan tidak banyak tertawa juga dianjurkan agar jiwa kita sehat.

Kelima nasihat itu adalah cerminan kualitas manusia super. Bukan super karena kepongahan, keserakahan, dan kezaliman. Namun super karena kualitas jiwa yang diisi dengan ketaatan, keikhlasan, kerendah hatian, kecintaan dan kehati-hatian. Wallahu a’lam.