Wejangan Saleh di Muktamar PM, “Sekali Muhammadiyah Selamanya Muhammadiyah”

Padang- Tantangan Pemuda Muhammadiyah ke depan sangat kompleks. Karena
itu, pengurus organisasi otonom Muhammadiyah itu pada periode berikutnya
harus sigap menghadapi dan memberikan solusi.

Demikian
disampaikan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah 2010-2014 DR. Saleh
Partaonan Daulay saat menyampaikan pidato iftitah pada pembukaan
Muktamar XVI Pemuda Muhammadiyah “Meneguhkan Dakwah dan Meninggikan
Moral untuk Indonesia yang Berkemajuan” di GOR Universitas Negeri
Padang, Sumatera Barat, Jumat (21/11).

Tantangan pertama
terjadinya krisis ideologi di kalangan umat Islam. Saat ini banyak umat
yang salah dalam memaknai Islam Rahman Lilalamin. “Selain itu juga
terjadi pendangkalan akidah umat Islam secara masif, misalnya lewat
acara-acara televisi,” ujar Saleh.

Tantangan berikutnya,
merebaknya liberalisasi dalam berbagai sektor kehidupan. Mulai dari
liberalisasi politik, ekonomi bahkan secara sosial. “Saat ini sikap
hidup individualis berkembang, banyak orang yang memikirkan diri
sendiri,” ungkap Saleh.

Saleh juga menyoroti ketimpangan sosial
lainnya. Dia mengungkapkan, dalam Sumpah Pemuda disebutkan tanah air
satu tanah Indonesia. Faktanya saat ini, ada banyak orang Indonesia yang
tidak memiliki tanah. “Tapi banyak orang punya ratusan bahkan ribuan
hektar tanah. Luar biasa. Ini adalah ketimpangan sosial,” tegasnya.

Terhadap
semua tantangan tersebut, dia menegaskan, Muhammadiyah terutama Pemuda
Muhammadiyah harus hadir. Apalagi, Muhammadiyah selama ini sudah
menjalankan peran-peran kebangsaannya mulai dari sebelum kemerdekaan,
masa kemerdekaan, peristiwa 1965 hingga era reformasi.

“Sekarang
banyak orang yang termarjinalkan. Muhammadiyah harus hadir dan
memberikan bantuan yang bisa kita beritakan. Mari kita sama-sama
membangkitkan kejayaan Indonesia,” tegas Ketua Komisi VIII DPR RI ini.

Saleh
mengakui, masa jabatan pengurus PP Pemuda Muhammadiyah periode
2010-2014 akan segera berakhir. Namun begitu, bukan berarti para
pengurus saat ini akan berpangku tangan setelah tidak menjabat lagi. 
Pasalnya, ada banyak tugas kebangsaan, keummatan dan kemuhammadiyahan
lainnya yang menanti.

“Nilai-nilai yang sudah kita dapatkan
selama ini di Muhammadiyah tidak boleh ditinggalkan. Sekali Muhammadiyah
akan selamanya Muhammadiyah,” tandasnya.(sp/rmol)