SMK Muhammadiyah di Dalam Gang Sempit, Meraih Predikat SMK Rujukan Nasional

Sang Pencerah – Berlokasi di tempat yang cukup terpencil, tak membuat SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi luntur kepercayaan dirinya. Justru di lokasi yang agak menjorok tersebut, SMK yang lebih dikenal dengan julukan SMK Mutu tersebut baru-baru ini mendapat predikat sebagai SMK Rujukan Nasional.

Jalan sempit masuk gang dengan panjang sekitar 300 meter harus terlebih dahulu dilalui sebelum tiba di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi. Perkebunan tebu yang ada di sekitar sekolah itu juga menjadi penyambut seluruh siswa dan guru yang hendak berkunjung ke sekolah di Jalan KH Ahmad Dahlan 20 Gondanglegi tersebut.

Namun, lokasi yang agak terpencil dari perkotaan itu justru membuat para civitas academica-nya berlomba-lomba untuk mendapatkan prestasi terbaik. Yang terbaru, sekolah itu mendapat predikat sebagai SMK Rujukan Nasional.

Pemberian predikat itu merupakan program terbaru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Penghargaan itu diberikan untuk memaksimalkan sumbangsih SMK dalam dunia kerja. ”Pengukuhan predikat langsung dilakukan oleh Direktur PSMK (Pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan) Kemendikbud RI,” terang H. Pahri, Kepala Sekolah SMK Mutu.

Di awal pemberian predikat itu, hanya ada 36 SMK di seluruh Indonesia yang menerimanya. Menjadi berkesan bagi SMK Mutu, karena dari total sekolah itu, hanya ada 4 sekolah yang berpredikat swasta. Sisanya merupakan SMK negeri.

”Kalau di Jawa Timur, hanya ada dua SMK swasta yang dapat predikat itu. Yakni SMK Mutu dan SMK PGRI Madiun,” terang dia.

Sedangkan dua SMK swasta lainnya yang mendapatkan penghargaan bergengsi tersebut adalah SMK dari Rembang dan Bandung. Dari perwakilan sekolah di Malang, tak hanya SMK Mutu saja yang mendapatkannya. SMK Negeri 1 Singosari dan SMK Negeri 4 Kota Malang juga mendapat predikat SMK Rujukan Nasional.

Namun kembali lagi, bahwa predikat yang disandang SMK Mutu lebih prestisius. Sebab, sebagai sekolah swasta yang mandiri, mereka bisa mensejajarkan dan bahkan menyaingi sekolah negeri yang sudah cukup lama terkenal.

Dikukuhkannya predikat itu juga memberikan beberapa manfaat bagi SMK Mutu. Dijelaskan Pahri bahwa pihaknya mendapat bantuan sebesar Rp 1,4 M tiap tahunnya dari Kemendikbud RI. Bantuan itu ditujukan untuk pembangunan sarana dan prasarana pendidikan yang ada di sekolah tersebut.

Saking besarnya bantuan tiap tahun itu, tim audit dari Kemendikbud RI diturunkan untuk melakukan pemantauan di sekolah-sekolah yang mendapat predikat sekolah rujukan. Predikat tersebut juga tak selamanya disandang 36 sekolah yang kini mendapatkannya.

”Predikat itu diberikan tiap 5 tahun, setiap tahunnya akan dinilai kembali. Bila dirasa tak layak, predikat bisa ditarik kembali,” lanjut dia.

Dasar-dasar penarikan predikat itu didasarkan dari perkembangan prestasi sekolah tiap tahunnya. Baik prestasi guru atau siswa-siswinya di level nasional dan internasional. Selain prestasi, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah juga menjadi bahan pertimbangan tersendiri.

Dikatakan Pahri, sekolah yang mendapat predikat sekolah rujukan harus memiliki kelengkapan laboratorium yang bisa menunjang pembelajaran dan prestasi siswa-siswinya.

Beberapa syarat itu lah yang harus dilakukan jika predikat SMK Rujukan Nasional ingin dipertahankan dalam beberapa tahun mendatang. Untuk mendapatkan predikat prestisius tersebut, beberapa syarat juga harus dipenuhi dan dilewati SMK Mutu. Mereka harus menjalani seleksi bertahap untuk meyisihkan ribuan SMK yang ada di Indonesia.

Dipaparkan Pahri, di seleksi tingkat kabupaten/kota, sekolah yang akan ikut seleksi harus memiliki minimal 1.000 siswa dan guru produktif berjumlah 72 orang. Untuk tata letak bangunan sekolah juga menjadi salah satu prasyaratnya. Bangunan sekolah harus berdiri di atas lahan minimal seluas 1,5 hektare.

Sedangkan untuk akreditasi seluruh program studi yang ada di sekolah, minimal harus berpredikat A. Seleksi di tingkat kabupaten dilakukan SMK Mutu pada Maret lalu. Lolos dari seleksi itu, kemudian berlanjut di tingkat nasional. Hanya ada 78 sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia yang melaju ke seleksi tingkat nasional.

Pada seleksi tingkat nasional, kepala sekolah diharuskan mempresentasikan profil sekolahnya di hadapan Kemendikbud RI. ”Presentasi dilakukan 19 hingga 25 Agustus lalu,” kata Pahri.

Materi presentasi yang dihadirkan meliputi visi misi sekolah, prestasi sekolah, dan warga sekolahnya. Seleksi tak berhenti di situ. Tim penilai dari Kemendikbud RI juga diturunkan untuk melihat langsung kondisi sekolah. Setelah itu, 36 sekolah akhirnya dipilih untuk mendapat predikat SMK Rujukan Nasional. Pada tanggal 11 hingga 12 September lalu, Pahri terbang ke Jakarta untuk menerima predikat bergengsi tersebut. Ketetapan itu tertuang di surat bernomor 3102/D3.4/TU/2014 Kemendikbud RI. Predikat yang juga berbuah bantuan sebesar Rp 1,4 miliar itu nantinya akan digunakan untuk melengkapi fasilitas yang ada di SMK Mutu.

Seperti yang dijelaskan Pahri, bahwa seluruh bantuan itu akan dipergunakannya untuk membangun teaching factory, yakni sebuah tempat yang dikhususkan bagi penelitian siswanya. Khususnya penelitian mobil listrik.

SMK Mutu memang pernah mencengangkan publik dengan me-launching mobil listrik yang dinamakannya Suryawangsa I. Kini, sekolah itu sedang mempersiapkan diri untuk me-launching mobil bertenaga surya lagi. Terasa spesial, karena mobil itu dirancang untuk bisa menampung lebih banyak penumpang. Sekitar 6 hingga 8 penumpang.(rdrmlg/sp)