Penulisan Sejarah Muhammadiyah Lewat Penelitian Dokumen

Catatan dari Workshop Penulisan Sejarah dan Profil Muhammadiyah se-Sulsel (3-habis):

Oleh: Asnawin Aminuddin
(Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel. – NBM: 857299)

———

Ilmu sejarah sesungguhnya tidak mempelajari masa lampau, tetapi ilmu
sejarah mempelajari sumber sejarah atau peninggalan dari masa lampau,
seperti dokumen-dokumen, arsip, dan kesaksian lisan.

Untuk merekonstruksi sejarah perkembangan organisasi Muhammadiyah dalam
suatu bentuk karya sejarah ilmiah yang objektif dan terverifikasi,
dibutuhkan sejumlah sumber data dari masa lalu.

Data-data dari masa lalu itu dapat diperoleh terutama melalui penelitian
dokumen, berupa arsip atau berita sezaman (koran atau majalah masa lalu
yang bersifat ilmiah), yang memiliki bobot integritas dan originalitas
tinggi.

Sejarawan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Prof A Rasyid Asba,
mengatakan, data arsip yang memuat informasi tentang Muhammadiyah selama
era kolonial, antara lain disimpan di Arsip Nasional RI (ANRI),
Jakarta.

Sumber terpenting yang memuat informasi primer tersebut adalah Politiek Verslag dari koleksi Memorie van Overgave seri
4e. Laporan politik per semester yang dimulai tahun 1927 hingga 1941,
memuat sejumlah informasi tentang organisasi massa (politik dan sosial),
elite tradisional, intelektual, pers, dan kegiatan orang asing.

“Untuk Sulawesi Selatan, laporan politik mengupas kegiatan semua
organisasi, termasuk Muhammadiyah. Laporan yang ditulis oleh Kepala
Dinas Inteligen Keresidenan Celebes en Onderhoorigheden ini
menguraikan tentang aktivitas Muhammadiyah, termasuk juga dialognya
dengan aliran-aliran Islam lainnya, dan kegiatannnya di bidang
organisasi umat,” tutur Rasyid, saat jadi pembicara pada Workshop
Penulisan Sejarah dan Profil Muhammadiyah se-Sulsel, di Kampus
Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar), Ahad, 16 November 2014.

Mengenai aktivitas Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kegiatan sosial lainnya, katanya, koleksi Memorie van Overgave seri 1e, terutama untuk rol nomor 32-33, memberikan banyak informasi.

Koleksi arsip tersebut merupakan laporan setiap kepala daerah pada akhir
masa jabatannya. Rel nomor 32-33 merupakan koleksi laporan kepala
daerah tiap distrik di Sulawesi Selatan, misalnya Distrik Sungguminasa,
Distrik Bone, Distrik Takalar, Distrik Bulukumba, Distrik Bontain,
Distrik Mamasa, Distrik Palopo, dan sebagainya.

“Pada bagian laporan yang membahas tentang pendidikan, terdapat
informasi mengenai aktivitas organisasi Muhammadiyah dan
perkembangannya di tiap distrik,” ungkap Rasyid.

Selain bentuk laporan dari kedua khasanah tersebut, arsip yang mencakup Muhammadiyah juga bisa ditelusuri dari koleksi Algemeen Secretarie, yaitu kumpulan arsip Sekretaris Umum yang terdiri atas berkas-berkas (besluit) yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal.

Dari koleksi tersebut, kata Rasyid Asba, dapat diketahui adanya
keputusan pemerintah yang berkaitan dengan Muhammadiyah di Sulawesi
Selatan, selama periode sampai dengan 1942.

——————–
PEMATERI. Prof A Rasyid Asba MA membawakan materi “Teknik
Pengumpulan Data dan Kritik Sumber dalam Penulisan
Sejarah”, pada Workshop Penulisan Sejarah dan Profil Muhammadiyah
se-Sulsel, di Kampus Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar), Ahad, 16
November 2014. (Foto: Asnawin

————————

Surat Kabar dan Majalah

Sumber informasi lainnya, yaitu sumber sezaman yang perlu digali untuk
melengkapi data yang berasal dari pemerintah. Sumber arsip sezaman ini
adalah berita surat kabar yang terbit pada periode penelitian, terutama
di daerah yang menjadi objek spasialnya.

Sebelum mengadakan penelusuran dan penelitian atas surat kabar dan
majalah, terlebih dahulu dibuka melalui katalog. Caranya adalah
menemukan artikel dalam surat kabar atau majalah langka dengan membuka
Reportorium van Nederlandsch Indie (periode 1595 – 1932), dan Indisch
Pers Overzicht (IPO) pada periode 1920 hingga 1942.

“Di antara surat kabar ini terdapat dua klasifikaosi besar, yaitu
berbahasa Belanda, dan berbahasa Melayu. Koleksi surat kabar ini
tersimpan di Perpustakaan Nasional RI,” papar Rasyis.

Beberapa surat kabar seperti Het nieuws van den dagAlgemeens HandelsbladJava BodeDe Indische Courant, dan lain-lain, merupakan salah satu sumber informasi non-pemerintah tentang Muhammadiyah, meskipun dari sudut pandang Belanda.

“Beberapa surat kabar yang terbit sezaman di Makassar dan berbahasa
Melayu, juga memberikan informasi tentang organisasi Muhammadiyah,” kata
Rasyid.

sumber: khittah.com