Pemimpin Amanah Dalam Konsepsi Al Qur’an

Bagi bangsa Indonesia yang telah memilih bentuk negaranya sebagai negara “republik”, maka pemimpin-pemimpin bangsa ini adalah hasil pemilihan dari publik atau rakyat (dalam bahasa Latin “res” berarti urusan atau kepentingan; “publics” berarti rakyat). Oleh karena itu, konsekuensinya adalah dalam rentang waktu tertentu akan dilakukan pemilihan pemimpin kembali. Rentang waktu yang dipilih di Indonesia, adalah rentang waktu 5 (lima) tahunan. Jadi setiap 5 (lima) tahun akan ada pemilihan pemimpin, entah pemimpin legislatif (pembuat dan pengesah undang-undang atau peraturan), eksekutif (pelaksana undang-undang dan birokrasi), dan judikatif (pelaku pengawas dan hukum). Merekalah yang kemudian disebut “pemerintah”.
Sekalipun dahulu sebelum Proklamasi Kemerdekaan di berbagai daerah Nusantara telah bertebaran “negara kerajaan” namun bentuk negara semacam ini tidak dipilih oleh bangsa Indonesia. Seperti diketahui, dalam negara kerajaan tersebut kekuasaan berpusat pada satu tangan, yaitu “raja”. Karena itu disebut “monarkhi” (dalam bahasa Latin “monos” berarti sendiri atau tunggal; “archein” berarti kekuasaan).

Kita telah melakukan pemilihan pemimpin lewat pemilihan umum, yaitu memilih pemimpin legislatif dan pemimpin eksekutif yang berskala nasional, yaitu presiden. Presiden yang baru telah membentuk kabinet untuk membantu pelaksanaan pemerintahan eksekutif yang diembannya.

Pemerintahan yang ideal adalah pemerintahan yang mampu dan berhasil melayani segala kebutuhan dan tuntutan rakyatnya (people’s needs and demands), kesejahteraan sosial (social welfare), dan perasaan aman (individual and social peacefulness). Tentu saja untuk mewujudkan pemerintahan ideal semacam itu perlu adanya jajaran pemimpin-pemimpin yang memiliki pandangan hidup yang konstruktif, sikap hidup yang diwarnai rasa tanggung jawab yang tinggi, dan bekerja berdasar komitmen pads tugas, program dan janji-janji yang telah dilontarkan. Pertanyaannya adalah, bagaimana konsepsi Al-Qur’an tentang pemimpin yang diharapkan mampu mengemban tugas pemerintahan yang ideal semacam itu?

Kata kunci dalam hal kepemimpinan yang dikonsepsikan Al-Qur’an adalah masalah “amaanah”. Kata “amaanah” ini sampai¬¨sampai dikaitkan dengan masalah wahyu yang berisi keseluruhan ajaran syariat Islam yang sangat besar, multi isi, dan senantiasa tahan dalam menghadapi perjalanan sejarah kemanusiaan dengan segala kemajuan dan tuntutannya. Karena itu tampaknya hanya manusia yang coba-coba menerimanya, sekalipun dalam praktiknya tidak jarang berlaku khianat. 
Sedangkan perbuatan khianat itu pada hakikatnya adalah perbuatan dhalim dan sekaligus merupakan kebodohan (Qs. AI-Ahzab [33]: 72). Dalam Al-Qur’an ditegaskan, bahwa kalau “amaanah” tersebut dijalankan sungguh-sungguh oleh seorang pemimpin, maka akan menghasilkan rasa aman bagi rakyatnya. 
Jadi kata “amaanah” tidak sekadar dimaknai/diartikan “patut dipercayai memegang teguh terhadap apa-apa yang dipercayakan kepada seseorang” saja, melainkan berhasilkah seseorang yang dipercayai tersebut menjalankan tugasnya hingga orang lain yang memercayainya “merasa aman”.
Rasulullah saw sejak muda belia sudah sangat dikenal sebagai seseorang yang hasil tindakannya menyebabkan orang lain merasa aman. Seperti kalau berjanji beliau senantiasa menepatinya, kalau dititipi barang atau pesan, senantiasa barang tersebut terjaga keutuhannya atau pesan tersebut tersampaikan tanpa dikurangi atau ditambahi, kalau dipercayai menyelesaikan suatu masalah yang krusial, beliau pecahkan masalah tersebut secara bijaksana dan sekaligus hasilnya memuaskan semua pihak.
Contoh yang terakhir ini adalah ketika beliau dipercayai memecahkan problem perselisihan pendapat tentang suku mana dan siapa yang layak memasang kembali hajar aswad (batu hitam) di pojok bangunan Kakbah yang baru direnovasi pada waktu itu. Beliau berhasil memecahkan perselisihan pendapat tersebut secara brilian dan memuaskan semua pihak yang sedang bertikai. Karena itulah beliau diberi gelar “al-amiin”, orang yang sangat terpercaya. Sifat “al-amiin” seperti ini tidak bakal melekat erat dalam jiwa dan tidak akan terhayati dari detik ke detik jika tanpa dilandasi “keyakinan yang kuat” (iman) kepada Pencipta Langit dan Bumi, yakni Allah SwT. Jika imannya sangat kuat, maka seseorang tersebut akan senantiasa merasa “diawasi secara terus-menerus” oleh Allah SwT. Karena itu tidak bakal dia akan berbuat khianat.

Jalan masuk menjadi pemimpin, menurut Al-Qur’an, adalah lewat kesanggupan memegang “amaanah” seperti tersebut di atas. Dialah pemimpin yang ‘amiin’ dan pastilah dia merasa senantiasa diawasi berdasar sifat Allah AI-Samii’dan Al-Bashiir” (Qs. An-Nina [4]: 58).

Secara normatif Al-Qur’an mengritik pemimpin yang merasa memperoleh “kekuasaan” lewat koridor ideologi demokrasi yang diwujudkan lewat pemilihan suara (voting), sebagi satu-satunya penyebab dia menjadi “berkuasa”. Justru pads hakikatnya Allah SwT yang sungguh-sungguh memiliki “kekuasaan”; 
Dia akan anugerahkan kepada orang yang dikehendak-Nya dan akan mencabutnya kembali terhadap orang yang dikehendaki-Nya pula bahkan sampai dihinakan-Nya pula, (Qs. Ali Imran [3]: 26). Bahwa sesungguhnya “kekuasaan itu nasib, yaitu anugerah Allah SwT yang tak patut dijadikan topeng atau kebanggaan semu. Perolehan “kekuasaan” justru harus membuat makin rendah hati, yaitu di hadapan Allah SwT merasa bersyukur dan di hadapan manusia sangat khidmat dalam mengemban amanah. Itu “vox populi vox DeF (suara rakyat adalah suara Tuhan) dalam pengertian yang benar. Wallaahu a’lam bishshawaab.- ( sm/sp )

Dr Mohammad Damami, MAg