Muhammadiyah Telah Berubah Jadi Organisasi Profit ?

Oleh: IMMawan Rahman Putra

Kader Muhammadiyah Kalimantan Timur
Ini
bukan tulisan ilmiah yang dibangun atas dasar kajian sejarah yang mendalam.
Bukan pula hasil riset dan wawancara kepada tokoh-tokoh Muhammadiyah kekinian.
Juga bukan hasil kajian terhadap jurnal dan buku-buku Muhammadiyah yang
jumlahnya tak terhitung banyaknya. Tulisan ini hanyalah tentang apa yang
dirasakan oleh kader biasa. Yang mengaku-aku sebagai Angkatan Muda
Muhammadiyah. Yang terseok-seok berusaha menjadi intelektual-Ulama yang
digadang-gadang Muhammadiyah. Yang hingga hari ini, haus kajian teori sosial
dan (juga) tentunya aksi sosial yang nyata.
Muhammadiyah
dikenal sebagai gerakan sosial. Gerakan yang amat peduli terhadap orang-orang
yang dimiskinkan oleh sistem. Yang bagi sebagian masyarakat, mereka dianggap
orang-orang malas yang tidak mau belajar. Tidak mau bersaing. Tidak mau
membaca. Dianggap mereka terbelakang, bodoh dan tertinggal karena ulah mereka
sendiri. Bukan karena sistem yang tidak memberi kesempatan kepada mereka. Untuk
menjadi manusia yang lebih baik dan lebih mampu.
Tiga
gerakan utama Muhammadiyah. Pendidikan, kesehatan dan keagamaan.  Ketiganya selalu didengungkan dalam tiap
perkaderan Muhammadiyah. Dari level TM 1-IPM hingga DA Muhammadiyah.
Universitas dan sekolah yang melimpah ruah. Rumah sakit dan klinik yang luar
biasa banyaknya. Masjid yang tak terhitung. Hingga panti sosial yang jumlahnya
puluhan. Hal-hal ini menjadi penarik perhatian dalam perkaderan Muhammadiyah.
Bahkan menjadi sorotan yang tajam baik dari eksternal maupun internal
Muhammadiyah. Hal yang patut disyukuri memang. Sayangnya, belum ada data
terkait berapa sekolah dan perguruan tinggi yang menjalankan cita-cita
Muhammadiyah. Yang memberi pendidikan murah meriah dan gratis kepada rakyat miskin.
Begitupun rumah sakit dan klinik. Dalam diskusi AMM Muhammadiyah, kajian
tentang bagaimana AUM tak lagi menjadi media untuk mecapai perkaderan dan cita
Muhammadiyah telah menjadi isu yang mendarah daging. Muhammadiyah sedikit
banyak telah berubah wajahnya menjadi organisasi profit. Yang sibuk mengurusi
keuntungan AUM. Dan mulai kehilangan “tajinya” dalam pergerakan sosial. Paska
100 tahun Muhammadiyah, hampir tidak ditemukan inovasi selain menjalankan
pemikiran kakanda KH. Ahmad Dahlan.
Muhammadiyah
mulai menjadi organisasi yang lamban. Yang gerakannya mirip seperti siput yang
kesulitan membawa rumahnya yang besar. Hal ini diperkirakan karena pengurusnya
adalah orang-orang tua yang berusia 45 tahun ke atas. Ditinjau dari ilmu
Kedokteran. Memang semakin tua suatu organisme, maka kekuatan fisiknya akan
semakin melambat.
Hanya
saja jika kita menilik sejarah. Nabi Muhammad SAW baru diangkat menjadi rasul
ketika berusia 40 tahun. Perjuangan di Mekah hingga ia berusia 53 tahun. Dan
perjuangan di Madinah hingga umur 63 tahun. Jika kita perhatikan, itu bukanlah
usia yang muda. Usianya tak jauh berbeda dengan ayahanda-ayahanda tercinta
pengurus Muhammadiyah.
Sempat
tergelitik di benak saya sebuah pertanyaan. Dimana bedanya? KH. Ahmad Dahlanpun
banyak bergerak dan berkarya ketika usianya bukan usia yang muda. Hal ini
mengingatkan saya terhadap pengajian Muhammadiyah di awal-awal pendiriannya.
Pengajian ini begitu terkenal. Semenjak film Sang Pencerah dipublikasikan.
Pengajian ini selalu menjadi bagian penting film yang diputar di perkaderan
Muhammadiyah dan ortomnya.
Dimulai
dengan surah Al-Maun yang dibaca berulang-ulang. Lalu dikritik oleh muridnya.
Lalu kemudian Ahmad Dahlan dan muridnya turun ke jalan. Mencari anak-anak miskin.
Memandikan mereka. Memberi pakaian, makanan lalu memberikan pengajaran. Lalu
murid Ahmad Dahlan paham apa sebenarnya makna surah Al-Maun.
Kakanda
KH. Ahmad Dahlan adalah orang yang cerdas. Ia telah mengenal ilmu falak, kompas
dan peta dunia sebelum ulama yang lain mengenalnya. Maka sempat terpikir di
benak saya. Ketika beliau menjelaskan surah Al-Maun. Beliau juga menjelaskan
teori-teori sosial yang relevan terkait konstruksi sosial masyarakat. Mengaji
sosiologi Ibnu Khaldun, August Comte hingga Emile Durkheim. Mengaitkan
pemahaman akan makna surah Al-Maun terhadap konstruksi sosial. Lalu saya terkekeh sendiri. Hal ini
bukannya tidak mungkin. Jika dilihat bagaimana KH. Ahmad Dahlan menjelaskan
arti agama dengan biola kepada muridnya. Hal yang rumit seperti agama, bisa ia
terjemahkan ke dalam penjelasan singkat yang penuh makna. Dalam teori perubahan
prilaku, bagaimana penggunaan biola sebagai media untuk menjelaskan agama telah
mendobrak teori presentasi kekinian. Dimana penggunaan musik dan media menjadi
penguat dalam internalisasi nilai maupun pengetahuan. Dan sebelum 1910 beliau
telah melakukannya. Bayangkan! Motivator nasional saja kemungkinan belum mampu
menerjemahkan teori ke dalam presentasi yang luar biasa seperti itu.
Sayangnya,
pengajian Muhammadiyah kekinian begitu suram. Diisi ustadz yang membosankan.
Yang tidak peduli jamaahnya mendengarkan atau tidak. Duduk rapi dengan mikrofon
dihadapan. Dan seringkali tidak menggunakan media. 1,5 jam duduk di pengajian
Muhammadiyah terasa setahun. Rasanya ingin segera meninggalkan area pengajian. What a boring activity! Tema tidak
relevan, ngajinya sekadar begitu-begitu saja. Anak-anak muda tentunya akan
lebih memilih tidur. Daripada terkantuk-kantuk dengan posisi duduk.
Begitu
jauhnya gap antara pengajian Muhammadiyah hari ini. Sayangnya ketika anak-anak
mudanya tidak hadir. Maka ia akan dicap sebagai anak muda yang hanya sekadar
berorganisasi namun belum berMuhammadiyah. Bahkan ada pernyataan, ketika
anak-anak muda Muhammadiyah melakukan kajian sosial. Dianggap bukan sebuah
pengajian. Mungkin karena tidak ada bahasa Arabnya. Angkatan Muda cenderung
menyukai kajian kekinian, menggunakan teori-teori barat yang sudah teruji
secara empiris. Bukan hanya ayat-ayat Al-Quran yang dikaji secara bahasa dan sejarah.
Tetapi bagaimana kita menggunakan pendekatan teori ekonomi, sosial, perspektif
adil gender dan teori lingkungan terbaru.
Begitu
sulitnya mencari kader Muhammadiyah yang mampu mengombinasikan pemahaman agama
dengan pendekatan multiperspektif. Maka saya turut bahagia ketika ada kader
Muhammadiyah yang menciptakan pesantren/ sekolah Trensains. Yang memahami
Al-Quran dengan sains. Sayangnya dari beberapa berita yang saya baca. Justru
yang mengerikan, betapa penemuan itu tidak begitu dihargai di Muhammadiyah.
Namun justru jauh lebih dihargai oleh NU, yang dulu dikenal sebagai organisasi
yang “sangat kultural”. Padahal Muhammadiyah dibangun sebagai gerakan keilmuan.
Yang mempunyai filosofi dasar ilmu amaliah dan amal ilmiah.
Kita
mungkin perlu mengevaluasi. Betapa pengajian Muhammadiyah dimanapun berada.
Mayoritas kini telah bergeser menjadi ritual tanpa makna. Tanpa target jelas
yang terukur. Begitupun pelaksanaannya dibuat begitu seadanya. Seakan-akan
mengaji itu hanya sekadar membaca Al-Quran. Yang penting ada bahasa Arabnya.
Semoga tak begitu.
Samarinda, 20 November 2014.