Muhammadiyah adalah Alat, Bukan Tujuan

Haidir Fitra Siagian
Dosen UIN Alauddin Makassar
Mantan Kepala Kantor PW Muhammadiyah Sulawesi Selatan

* In Memoriam K.H. Djamaluddin Amien

Innalillahiwainnailahirajiun. Telah berpulang kerahmatullah, Ayahanda K.H. Djamaluddin Amien (NBM: 62 669) tadi jelang Ashar di Makassar. Saya bersama keluarga mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang layak di sisi-Nya. Bagi keluarga yang ditinggal, semoga memperoleh kesabaran dan ketabahan. Kepada kita semuanya, mudah-mudahan menjadi ikhtibar, peringatan akan datangnya kematian. Amiin.

Bagi saya, almarhum adalah orang tua sekaligus guru agama yang mengajarkan hakikat Islam dan makna tauhid yang sesungguhnya. Bersama dengan almarhum ayah dan almarhum kakekku di Sipirok, beliaulah yang menanamkan nilai-nilai Islam dalam jiwaku.

Almarhum K.H. Djamaluddin Amiin adalah orang tuaku. Manusia pertama yang saya kenal di Makassar adalah beliau. Ketika pertama kali menginjakkan kaki ke Makassar (dahulu masih Ujungpandang) pertengahan tahun 1990 dalam usia 15 tahun, merantau dari Sipirok Sumatra Utara naik kapal laut, saya mendatangi beliau di Kantor Muhammadiyah Sulawesi Selatan Jl. Gunung Lompobattang No. 201 Kampung Pisang Kecamatan Ujungpandang. Beliau mempersilahkan saya tinggal bersama dengan abangku di kantor tersebut, sekaligus membantu menjaga kebersihan, menyiram taman dan memelihara gedung. Saat itu saya masih sekolah di SMA Muhammadiyah Wilayah Jl. Dr. Ratulangi No. 101, Makassar.

Sepuluh tahun lamanya saya mendampingi beliau, dalam kedudukannya sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan, mulai tahun 1990 hingga tahun 2000, dimana saat itu saya diangkat sebagai staf bagian umum. Banyak hal yang membekas dalam memori saya terhadap kebaikannya. Diantaranya yang cukup penting adalah:

Pertama, ketika akan memulai pembangunan gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Sulawesi Selatan di Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 No. 38 Tamalanrea, depan pintu satu Unhas, di atas tanah wakaf Mr. H. Mustamin Dg. Matutu, S.H., sekitar tahun 1994, beliau mengatakan bahwa kita akan membangun gedung ini dengan tangan kita sendiri, dengan uang recehan warga Muhammadiyah sendiri. Boleh kita menerima bantuan kepada orang lain, tetapi sumber utama adalah warga Muhammadiyah. Sejak awal dibangun hingga sekarang, beliau masih tercatat sebagai ketua panitianya. Alhamdulillah, gedung tersebut sudah selesai dan dimanfaatkan oleh warga Muhammadiyah dan umat Islam. Boleh dikatakan saat ini, adalah kantor Muhammadiyah paling besar dan paling mewah di seluruh Indonesia.

Kedua, pada sekitar tahun 1997, saat Rapat Kerja Pimpinan Muhammadiyah se-Sulawesi Selatan di Masjid Ta’mirul Masjid Jl. Banda Lr. 3 No. 5 Kecamatan Wajo, beliau sempat menangis tersedu-sedu di sela-sela kata sambutannya. Penyebabnya adalah kurangnya peserta yang hadir, terutama pengurus Muhammadiyah dari daerah-daerah. Beliau mengatakan, bagaimana nasib Muhammadiyah dan Islam ke depan di Sulawesi Selatan, jika sekarang saja sudah jarang orang yang berkenan mengurusnya?

Ketiga, di tengah pro-kontra pada saat Pak Amien Rais mendirikan partai, sekitar tahun 1998, dalam forum Tanwir Muhammadiyah di Semarang Jawa Tengah, saya sempat hadir di sana dan mendengarkan beliau mengatakan kira-kira begini : “Jangan takut Muhammadiyah akan rusak gara-gara politik, jika tujuan kita berpolitik adalah untuk kepentingan Islam. Sebab, Muhammadiyah adalah alat, bukan tujuan”.  Lalu beliau bersedia masuk ke dalam partai politik sebagai dewan pakar tingkat pusat, kemudian pernah pula menjadi ketua partai tingkat wilayah Propinsi Sulawesi Selatan, setelah beliau menyelesaikan masa jabatannya sebagai ketua Muhammadiyah.

Keempat, pada sekitar awal 2000. Beliau menugaskan saya berangkat ke Pulau Ternate dan Pulau Tidore, Maluku Utara bersama dengan Saudara Dahlan Sulaeman. Saat itu, Maluku Utara  sedang bergejolak dengan adanya keributan antara sesama penduduk. Tujuan kami ke sana adalah membawa bantuan berupa bahan makanan, pakaian dan obat-obatan  atas permintaan pengurus Muhammadiyah setempat. Sebelum berangkat, beliau berpesan: Jangan ada sedikitpun rasa takut di dalam hati. Jika kalian meninggal di sana, maka kalian akan mati sahid.

Kelima, menyikapi sengketa tanah Universitas Muhammadiyah Makassar di Jalan Sultan Alauddin. Tanah ini sudah bersengketa sejak tahun 1997, ketika beliau masih menjabat sebagai rektor. Suatu ketika, pada sekitar tahun 2001, bersama beberapa pengurus Muhammadiyah dan pimpinan Unismuh, saya turut mendampingi beliau menghadap Kapolrestabes Makassar, saat itu dijabat oleh Kolonel Muhammad Amin Saleh. Situasi sangat tegang, karena Unismuh hampir kalah total di berbagai tingkat pengadilan. Kepada Kapolrestabes, beliau memperlihatkan berbagai tanda bukti pembelian tanah Unismuh dari masyarakat, sambil berkata, kira-kira begini: “Saya yang membeli tanah Unismuh. Saya akan mempertahankan tanah Unismuh hingga titik darah penghabisan”. Alhamdulillah, setelah menempuh berbagai persidangan, Unismuh tetap menjadi miliki Persyarikatan Muhammadiyah atas keputusan Mahkamah Agung.

Keenam, ini yang berkaitan dengan pribadi saya.

Beliau sangat baik hati, sederhana dan tekun. Saya pernah memasak untuk beliau. Kami makan berdua di kantor Muhammadiyah dengan lauk-pauk yang sangat sederhana. Ketika akan rapat, beliau sering meminta dimasakkan indomie, karena belum sempat makan di rumahnya. Dalam setiap rapat, saya senantiasa menyiapkan makanan ringan. Beliau hanya makan sepotong atau sebiji. Sisa jatahnya, dimasukkan ke dalam tissu atau kotak, lalu dibawa pulang. Katanya untuk anak-anaknya yang masih kecil. Mengapa? Supaya anaknya tahu, bahwa mengurus Muhammadiyah itu, adalah enak. Jangan ada kesan mengurus Muhammadiyah membuat kita miskin dan kekurangan.

Yang paling membahagiakan  adalah ketika beliau berkenan menghadiri pesta pernikahan saya dengan Nurhira Abdul Kadir di Somba Majene, pada hari Ahad tanggal 10 Agustus 2003. Bukan main senangnya hatiku, seorang ulama besar menghadiri satu acara pernikahan. Sebelumnya, mendengar saya akan menikah, saya di panggil ke rumahnya dan mengatakan akan menghadiri acaraku dan mempersilahkan saya memakai auditorium Unismuh untuk resepsi pernikahanku, gratis. Ketika akan ke Somba, beliau berangkat tengah malam dari Makassar bersama dengan sebagian rombongan teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) termasuk Pak Mustaqim Muhallim dan Pak Syawaluddin Soadiq. Mereka tiba sekitar pukul 7 pagi. Acara aqad nikah diadakan di Masjid Ridha Allah Somba. Beliau berkenan membawakan khutbah pernihakan. Dalam ceramahnya, beliau sempat mengatakan, kira-kira begini: “Saya kenal baik dengan ananda Fitra Siagian ini. Sepuluh tahun dia mendampingi saya. Pribadinya selama ini saya jamin. Entahlah kalau nanti…..” diiringi tawa hadirin.

Kemudian, pada tahun 2011 yang lalu, menjelang saya berangkat ke Malaysia untuk melanjutkan sekolah, bersama dengan isteri, yang juga akan melanjutkan sekolah ke Australia, kami menghadap beliau di rumahnya Jl. Tala’salapang No. 34. Masih terngiang di telingaku pesan beliau. Meskipun andanda berdua sekolah ke luar negeri dan bekerja di pemerintahan, tetapi jangan lupa Muhammadiyah. Sekembalinya nanti, kalian harus membantu Unismuh. Insha Allah.

Pak Kiyai. Maafkan saya. Semua jasamu akan dikenang dan menjadi jembatan bagimu menuju pintu surga-Nya. Amiin.

sumber: makassar.tribunnews