Motivasi Islami Mencapai Kebahagiaan

Perjuangan …….
Dirintis dan dipikirkan oleh orang alim
Diperjuangkan oleh orang orang ikhlas
Dimenangkan oleh para pemberani

Seorang pria terbangun dari tidurnya. Dia mencoba menarik nafas
panjang, tetapi ketika dia menarik nafas panjang, dia merasakan bau yang
tidak enak. Dia pikir mungkin ruangannya yang sumpek. Karenanya dia
membuka jendela kamarnya lebar lebar dan membiarkan udara pagi menembus
celah kamarnya. Setelah merasakan segarnya udara pagi, dia mencoba
menarik nafas lagi, baunya tetap sama dan tidak berubah. Karena tidak
tahan, akhirnya dia keluar dari kamarnya dan masuk keruang tengah yang
lebih luas. Betapa kagetnya karena di ruang tengah dia juga mencium bau
yang sama.

Akhirnya dia memutuskan untuk keluar rumah dan berlari
menuju taman yang ada di depan rumahnya. Dia hirup udara sedalam
dalamnya. Namun sialnya dia masih merasakan bau yang sama. Kemudian
dengan marah dia berteriak keras, “ DUNIA INI BAU “.

Ternyata pria
itu tidak menyadari bahwa diujung hidungnya tertempel kotoran cicak yang
menetes dari atas langit langit ketika dia tertidur tadi malam. Apa
makna cerita itu? Ya,tidak semua yang kita nggap benar adalah benar, dan
tidak semua yang kita anggap salah itu salah. Ibarat ketika kita
memakai kaca mata hitam, kita akan melihat sekeliling kita dengan nuansa
gelap, namun tidak bagi orang yang sedang memakai kacamata warna hijau.
Apapun anggapan kita, tak ada kata lain yang dapat kita simpulkan
selain BERUBAH.

Intinya adalah perubahan. Mengubah dari yang biasa
menjadi luar biasa. Mengubah keterbatasan menjadi kemelimpahan. Mengubah
kekalahan menjadi kemenangan. Mengubah resiko menjadi peluang. Mengubah
kesedihan menjadi kebahagiaan. Mengubah musibah menjadi keberkahan.
Barang siapa tidak mau mengubah dirinya maka dia tidak akan menemukan
kebahagiaan hidupnya.

Ikatan yang baik, tidak lepas dari peran para
pejuang yang tidak pernah berhenti untuk terus berkarya, berjalan
menjalankan amanah, berjuang untuk kehidupan . Sebagian mereka malah
harus mengorbankan aspirasi dan fikirannya agar ikatan yang dijalankan
harus tetap ada dan berkembang. Cita cita yang dibentangkan, visi misi
yang ditegakkan, administrasi yang dijalankan dan kepedulian yang harus
selalu ditanamkan, harus terus dipupuk agar tetap tumbuh dan bertahan.

Untuk menjadi pahlawan diperlukan sebuah proyek besar. Sistem yang
terintegral. Agar dapat menjadi pahlawan militan dimasa depan. Karena
kita adalah pahlawan itu sendiri, ia akan rela mengambil peran ditengah
kesulitan, menapaki resiko disaat orang menghindar, meraih momentum saat
manusia masih terkagum kagum, dan menyusun kerja besar saat orang lain
belum tersadar.

Memang perlu diingat, seringkali ruh kepahlawanan
muncul begitu menggelora hingga tak terfikirkan untuk menemukan cara
untuk menyelesaikan kerja besar itu. Sebagaimana sering terjadi
perjuangan yang dirintis oleh orang orang alim, diperjuangkan oleh orang
ikhlas, dimenangkan oleh orang pemberani, akhirnya akan dinikmati oleh
para pengecut.

Itulah realitasnya. Mengapa? Karena kerja kerja besar
itu tak menyiapkan kader kader untuk mengisi pos pos yang bakal diraih
dimasa depan. Bukankah kita akan kehilangan momentum pasca kemenangan
itu, karena lagi lagi kita hanya menjadi pendorong mobil mogok, tanpa
sadar siapa berada dibalik kemudi.
“Wahai orang orang yang beriman,
jika kamu menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kamu dan
mengokohkan kedudukanmu”(QS.Muhammad:7)

Belajar menjadi yang terbaik

Bersama kaumnya, Ustman bin Al Ash ia ingin menghadap Rasulullah SA.
Tapi, kaumnya itu berebutan untuk lebih dulu menemani Rasulullah.
Setelah mengadakan pembicaraan, disepakati Utsman bersedia menjaga
kendaraan mereka, dan mereka menemui Rasul terlebih dahulu. Lalu
akhirnya tiba giliran Utsman. “ Wahai Rasulullah,” kata Ustman ketika
menghadap, “ Berdoalah kepada Allah agar saya faham dan mengerti agama
islam.” “ Apa yang engkau katakan?” Tanya Rasul SAW. 

Setelah Ustman
mengulai pertanyaannya lagi Rasul bersabda “Engkau meminta sesuatu
yang tidak diminta oleh salah seorang dari sahabatmu. Berangkatlah
engkau adalah pemimpin mereka dan orang orang yang mendatangimu dari
kaummu” (HR .Thabrani )
Kisah ini merupakan cara pandang yang
cerdas bagaimana menumbuhkan kepribadian khas pemimpin. Profil kader
yang menjadi harapan dan andalan di masa depan. Dia adalah kader juang
yang siap memimpin dan dipimpin.

Yakin,Optimis dan Miliki Impian

Disadari atau tidak, memang memilik impian memiliki tantangan
tersendiri. Setiap orang akan cenderung menentang impian kita, dan
tantangan terbesar justru datang dari orang orang tedekat kita. Sebagian
mungkin akan mengatakan bahwa impian kita terlalu muluk muluk. Sebagian
mengatakan impian kita mustahil, sebagian bahkan mencemooh dan
menertawakannya. Tapi disitulah peran yakin dan optimis mendominasi.
Impian yang tidak berdasar keyakinan dan optimis maka akan runtuh dengan
berbagai gelombang yang menerpa. Sebagai seorang kader, kita harus
dituntut untuk selalu memiliki impian dan visi kedepan, melangkah dengan
keyakinan, bergerak dengan keoptimisan dan impian yang akan mewujudkan.

Ikhlas, Percaya, dan Selalu tawadhu’

Ciri orang cerdas adalah orang yang tidak rela menyerah kalah dari
segala bentuk kekurangan, serius melakukan perbaikan, bersungguh sungguh
dalam menggunakan kesempatan dan istiqomah dalam menggandakan kebaikan.
Sayyid Quthb mengatakan,”Orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan
hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tapi orang
yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati
sebagai orang yang besar”

Berani Berprinsip, Sabar dan Tidak Mudah Menyerah

Pemimpin itu imam. Orang yang tampil di depan. Beresiko paling berat.
Ia harus siap menjadi teladan dalam mempelopori kebaikan, menciptakan
ide ide kreatif serta paling awal menjauhi kemungkaran dan itu tentu
butuh keberanian. Keberanian bukan sebatas pada perkara perang dan
jihad, tapi keberanian untuk jujur mengakui kekurangan dan kesalahan,
mau menerima kebenaran darimanapun datangnya. Ia juga harus berani
mengambil sikap yang cepat, akurat dan tepat pada saat yang tepat. Tidak
gamang dalam melangkah, tidak gampang marah, serta tidak pengecut,
melarikan diri dari masalah. Berani menampilkan diri apa adanya karena
dirinya untuk anggota dan umat sehingga tak perlu menyembunyikan diri
dari anggota dan umatnya. Ia pun rela dikritisi bahkan siap menerima
hukuman paling dulu bila melakukan kesalahan.

Sebagai pelopor dalam
setiap gerak gerik anggotanya, sebagai pelangsung tujuan ikatannya dan
penyempurna diakhir perjuangan panjangnya. Untuk itu diperlukan prinsip
yang kuat dan tegas sebagai penguat perjalanannya, agar tidak mudah
terpengaruh hal hal yang meracuni sekitarnya. Cita cita yang jelas,
tujuan yang konkrit akan memberikan peranan penting kepada kelangsungan
kepemimpinannya, menumbuhkan kepercayaan dihati para anggotanya sehingga
akan membentuk sistem kepemimpinan yang semestinya.

Sabar sebagai
pengendali perjalanannya. Agar tetap percaya bahwa suatu ketika kita
akan menghadapi aral yang melintang, tujuan yang terpinggirkan dan masih
banyak onak yang harus kita selesaikan. Masalah satu selesai akan
timbul masalah masalah baru yang lebih rumit penyelesaiannya, lebih
menantang sepak terjangnya, dan kita masih terus dituntut untuk
menyelesaikannya. Dan sabar sebagai kuncinya. Jangan pernah menyerah dan
tetap semangat.

First they ignore you, then laugh at you, then they fight you,
Then You Win
– Mahatma Gandhi –

Irvan Shaifullah
Sekum PD IPM Lamongan, Ketua BEM Stikes Muh Lamongan