Mengenang Sosok KH Djamaluddin Amien

KH Djamaluddin Amien (Tokoh Muhammadiyah Sulsel)
Oleh: Asri Salam
Ahad sore kemarin di tengah – tengah kesibukan bersih – bersih rumah, ponselku berdering mengabarkan berita duka langsung dari Private Center RS Wahidin Sudirohusodo Makassar yang di kabarkan oleh Adik saya yang kebetulan ada disana.
Telah berpulang ke Rahmatullah sosok KH Djamaludddin Amien salah satu ulama kharismatik yang ada di Sulawesi Selatan, setelah beberapa minggu di rawat dirumah sakit akibat penyakit yang di idapnya kini beliau telah meninggalkan para keluarga, kerabat hingga murid – muridnya.
Beliau adalah mantan PW Muhammadiyah di Sulawesi Selatan yang cukup lama dengan tangan dinginnya membangun organisasi yang dipimpinnya dengan sifat – sifat kesederhanaan dan ketegasannya sehingga Muhammadiyah salah satu ormas Keagamaan yang cukup berkembang di Sul–Sel, Beliau juga mantan Rektor di Universitas Muhammadiyah Makassar dengan kompetensi bidang  yang memadai Ia mampu meletakkan pondasi – pondasi dasar yang kokoh sehingga Kampus Biru terus berkembang menuju kejayaanya dan saat ini di Indonesia Timur menjadi salah satu kampus swasta terbesar dan di favoritkan sehingga tiap tahun pendaftar selalu membludak.
Sosok Kiyai yang menghembuskan nafas terakhirnya di usia ± 85 Tahun telah berbuat banyak yang untuk kepentingan – kepentingan ummat, beliau salah satu inisiator dalam deklarasi dan pendirian KPPSI di Sul-Sel, beliau juga adalah politisi karena pernah memimpin Partai Amanat Nasional (PAN) di Sul-Sel.
Keluarga besar Muhammadiyah cukup kehilangan bahkan hampir semua kalangan mulai dari keluarga, kerabat, politisi, birokrat, dan civitas Universitas Muhammadiyah para staf, dosen beserta mahasiswanya karena tak akan ada lagi yang akan mengisi kajian – kajian agama yang akan di bawakan sang Kiyai yang cukup menguasai kitab gundul ini, tak ada pemberi wejangan dan pecerahan sekaligus petunjuk beserta motivasinya.
Dari Sisi Saya Mengenang Beliau..
Sosok Kiyai adalah Guru sekaligus Sahabat dari Almarhum Ayah saya beliau bersama – sama membangun Organisasi Muhammadiyah di Sul-Sel kalau Ayah saya di Daerah di Kabupaten Bantaeng bahkan sempat menjadi Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Kiyai dengan ranah yang lebih luas di Wilayah.
Sepeninggal Ayah saya, ada beberapa anak – anak yatim yang mendapatkan santunan pendidikan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah termasuk saya atas rekomondasi dari KH Djamaluddin Amien kurang lebih 5 Tahun saya mendapatkan santunan itu untuk biaya pendidikan saya mulai dari kelas 4 SD Muhammadiyah hingga di Madrasah Tsanawiyah Darul Arqam Gombara, dan untuk mencairkannya ada kisah – kisah khusus yang cukup saya kenang karena Kiyai adalah orang super sibuk sementara untuk mencairkan dana santunan itu membutuhkan tanda tanganya maka setiap bulannya atau setiap triwulan saya bersama ibu saya menyambangi rumahnya di Talasalapang pagi-pagi buta Ba’da Shubuh untuk meminta tanda tangannya, atau juga saya sering menemui di kantor PW Muhammadiyah di JL Gunung Lompo Battang sebelum beliau mengajar di kampus atau pergi kunjungan kerja lainnya,  dan dengan begitu barulah bisa di cairkan di Bendahara PW Muhammadiyah di RSB Siti Khadijah JL Kartini Makassar dan dengan santunan itu cukup membantu pendidikan saya karena saat itu Ibu saya yang guru PNS gajinya tidak seberapa untuk membiayai saya dan adik-adik saya.
Kisah lainnya adalah mungkin sekitar 3 Tahun lalu Ba’da Ashar saya bersama Phai dan Ubhe mendatangi rumah beliau untuk mewawancarainya meminta wejangan sekaligus petunjuk untuk Tabloid yang kami buat, saat itu waktu yang sedikit tak terasa karena seakan terhipnotis dengan petuah – petuah beliau, dan mungkin itulah terakhir kali bertemu secara dekat karena saya masih sempat berjabat tangan.
Dan yang paling saya ingat ketika cucunya yang juga sahabat saya menceritakan kisah suatu ketika di kampus Unismuh di salah satu ruangan staff dan dosen, Kiyai datang dan mendapati staff dan dosen masih bekerja sementara di Masjid Kampus sudah terdengar suara Adzan dengan spontan memanggil cucunya yang kebetulan juga ada di ruangan itu yang masih bekerja dan menamparnya karena tak mengindahkan suara Adzan sontak staf dan dosen segera keluar ruangan menuju Masjid.
Peristirahatan Terakhirnya..
Setelah disemayamkan di rumah duka beliau di bawa ke Kampus Unismuh yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari rumahnya untuk di shalatkan di Masjid Kampus yang menurut kabar beliau di shalatkan hingga puluhan kali karena banyaknya pelayat yang ingin menshalati jenazahnya setelah itu jenazah di lepas oleh pejabat pemprov Sul-Sel dan di berangkatkan ke Bantaeng untuk di semayamkan sejenak di rumahnya di JL Nenas Bantaeng kemudian di Shalatkan di Masjid Raya Bantaeng kemudian di antar ke peristirahatan terakhirnya di pekuburan keluarga di samping pusara Istrinya di kampung Beloparang Bantaeng.
Jalan poros macet polisi sempat kewalahan mengatur arus lalu lintas karena iring-iringan pengantar yang membludak, Ku sempatkan diri mengangkat keranda mayatnya hingga ke liang lahat sebagai penghormatan terakhirku  kepada salah satu tokoh yang kukagumi di tengah membludaknya para pengantar
Selamat jalan jasadmu bisa terbujur kaku terkubur tanah keberkahan tapi jiwamu akan tetap terus ada mengisi relung relung kehidupan yang pernah Kiyai semaikan biar kami sebagai penerus yang terus menjaga hingga tumbuh dan berkembang sehingga menuai hasil  yang kita cita-citakan bersama.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan serta merta mencabutnya dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pimpinan-pimpinan yang bodoh. Kemudian para pimpinan bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan”. (sumber; kompasiana.com)