Mencari Titik Temu Pluralitas dan Pluralisme, Mungkinkah ?

oleh : Muhsin Hariyanto, 
Dosen Tetap FAI UM Yogyakarta dan Dosen Tidak Tetap STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Ketika bertadarus petang hari, tiba-tiba saya terdiam disaat membaca dua ayat Al-Qur’an, Yang pertama, Qs Al ahzAb [33]: 21; kedua, Qs Al-Kafirunn [109]:6. 

Bacaan itu mengingatkan saya pada seorang laki-laki keturunan Tionghoa yang bernama Koh Liem.

Koh Liem, salah seorang saudara sepupu kawan-Muslim saya yang beragama Kristen Protestan, adalah seorang yang sangat memahami arti perbedaan. Tetapi, dia bisa menikmatinya sembari menegaskan bahwa berbeda tidak selalu harus diikuti dengan “kebencian”. Dia masih tetap bisa mencintai dan menghargai diri dan kawan saya yang tengah bersilaturahim, dan bahkan mampu berempati dalam urusan sekecil apa pun, termasuk (dalam urusan) makan.

Beberapa tahun silam, saya bersama kawan saya pernah berkunjung di rumahnya. Sebuah Ruko (Rumah-Toko) di pusat kota Wonosari, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada saat kami mengetuk pintu rumahnya, dia bersama keluarganya sedang makan bersama di sebuah meja makan yang tersedia di ruang makan di samping tokonya. Dengan santun dia bersama anak-istrinya  menyambut kedatangan kami seraya mengucapkan “selamat datang” dan mempersilakan kami untuk duduk di ruang tamu yang bersebelahan dengan ruang makannya.

Tidak banyak yang bisa kami dialogkan di ruang tamu itu, karena setelah dia bersama istrinya menerima kehadiran kami, segera mengajak diri kami (berdua) keluar menuju seberang rumah, ke sebuah rumah makan padang”, yang menyajikan masakan ala Sumatera Barat.

Semula kami diam, ketika mereka mengajak diri kami ke rumah makan itu. Tetapi, karena keduanya membuka dengan sebuah pernyataan, “Maaf, kami harus mengajak Anda berdua ke rumah makan ini untuk melanjutkan bincang-bincang kita, supaya semuanya menjadi’enak’.” Kami pun bertanya, “Kenapa Anda mengajak kami ke rumah makan ini? Apakah kita tidak bisa berbincang-bincang sambil makan-minum di rumah Anda?”

Mendengar pertanyaan kawan saya itu, Koh Liem pun menjawab, “Sekali lagi saya mohon maaf. Tadi saya sedang makan bersama keluarga kami dengan menu makanan yang tidak mungkin Anda nikmati. Sebagai Muslim Anda berdua diharamkan untuk mengonsumsinya. Oleh karena itu, demi kebersamaan kita, kita harus pindah-tempat menuju rumah makan ini.”

Tertegun mendengar jawaban Koh Liem itu, kawan saya pun diam sejenak, kemudian mengucapkan “terima kasih” seraya menyalami tangan kawan Koh Liem. Dan Koh Liem pun tersenyum seraya berkata, Maaf kalau keputusan saya ini tidak berkenan. Saya sekadar ingin tetap bisa bersama, tanpa harus saling mengusik.”

Pengalaman bersama Koh Liem itu merupakan pengalaman yang sangat berharga untuk memahami konsep pluralitas, tanpa jebakan (ide) pluralisme yang—ketika disalahpahami sering melahirkan gesekan antarumat beragama dalam mengekspresikan keberagamaan mereka, bukan saja pada wilayah ibadah, tetapi bahkan dalam wilayah mu’amalah.

Berkaca pada “sikap bijak” Koh Liem, kita pun bisa melacak sejarah “kearifan” Rasulullah saw yang telah memberikan contoh konkret, bagaimana seharusnya “kita” (umat Islam) bersikap toleran.

Pertama, ketika (suatu saat) terjadi keributan antara kaum Muslimin dan Yahudi di Madinah, Rasulullah saw menawarkan sebuah solusi yang sangat bijak, dengan menyusun sebuah piagam bersama, yang dikenal dengan sebutan “piagam Madinah”, yang dimaksudkan untuk mencari titik-temu, kedamaian clan ketenteraman kehidupan di masyarakat. Seperti yang terdapat—misalnya—pada sebuah pasal yang tertulis, “Sesungguhnya prang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan, sepanjang (kaum Mukminin) tidak terdlalimi dan ditentang.” Teks piagam itu menyiratkan sebuah sikap toleran yang dimaksudkan untuk memberikan “keuntungan bagi kedua belah pihak”.

Kedua, pada peristiwa penaklukkan Kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah saw juga menunjukkan sikap toleran yang sangat indah. Penduduk Makkah yang selama ini memusuhinya “khawatir” ketika umat Islam berhasil menaklukkan Kota Makkah itu. Tetapi Rasulullah saw menunjukkan sikap “hilm”- nya, memaafkan mereka tanpa menyisakan kebencian seclikit pun, apalagi “dendam”. Rasul bersabda, “Saya hanya ingin mengatakan sebuah perkataan kepada kalian, sebagaimana ucapan Nabi Yusuf as kepada saudaranya-saudaranya, ‘Tiada celaan atas kalian pada hari ini’. Pergilah! kalian semua dengan sebebas-bebasnya.”

Itulah di antara contoh kearifan Rasulullah saw yang mampu memahami pluralitas, tanpa jebakan “pluralisme tanpa batas”, yang seringkali menjadikan “para penganutnya” lebur dalam identitas yang semakin kabur, menjadi (sosok) pribadi mudzabdzab (ambigu), yang oleh Imam as-Suyuthi disebut sebagai pribadi “munafik” (Lihat: Ad-Durr al-Mants0r, V/83).

Saya tidak berkeinginan untuk membandingkan antara Koh Liem clan Rasulullah saw. Tetapi saya semakin yakin terhadap “kebenaran” firman Allah dalam Qs Al-AhzAb [33]:2, dan Qs Al Kafirun [109]: 6, yang ruh (spirit/semangat)-nya telah dipraktikkan oleh Rasulullah saw dengan sangat sempurna. Dan saya pun perlu mengucapkan terima kasih kepada Koh Liem yang telah menggugah kesadaran kami untuk berittiba’ pada Rasululllah saw dalam mengekspresikan sikap tolerannya tanpa harus “melepas” identitas ke-Islamannya.-