Membangun Militansi Kader Aisyiyah

Aisyiyah sebagai
organisasi islam yang bergerak dalam bidang dakwah islam dari zaman Nyai
Ahmad Dahlan, sampai sekarang ini banyak memiliki kendala dalam
beberapa hal. Salah satunya tantangan yang di hadapi adalah
pengkaderan. Kader Aisyiyah yang mumpuni sebagi dai sangat dirasakan
semakin berkurang. Bahkan nihil.

Inilah hal yang perlu dilakukan
dengan tindakan nyata oleh semua punggawa Aisyiyah. Ibarat ayam
mengeram, telor-telor tidak dierami dengan sempurna. Sehingga
telor-telor ayam itu tidak sempurna menetasnya. Bahkan ada yang busuk,
kopyor, bahkan tidak menetas sama sekali. Toh seandainya menetaspun,
maka anak ayam itu segera dibesarkan dikandang lain, jauh dari induknya.

Begitulah analogi mampatnya militansi kader Aisyiyah termasuk
juga Muhammadiyah saat ini. Kenyataannya, anak para tokoh organisasi ini
nyaris jauh dengan militansi kader yang dibutuhkan. Bahkan mereka,
termasuk keluarganya yang tidak percaya diri dengan amal usaha yang
mereka dirikan. Mereka lebih percaya diri pada lembaga lain yang justru
tidak memberikan kontribusi strategis untuk besarkan organisasi ini. 
Dan
akhirnya, anak-anak tersebut tidak mengenal dan buta sama sekali
tentang amal usaha yang dirintis orangtuanya. Nah dari sinilah dapat
kita pahami , kenapa kader militant organisasi ini meredup dan mulai
pudar?

Sekarang marilah kita analisa ke dalam -masuk pada- setiap
amal usaha yang ada. Selanjutnya, di setiap amal usaha itu pasti ada
orang per orang pengurusnya. Nah dari masing-masing kepala itu,
kira-kira lebih didominasi oleh kepala pasar, atau kepala masjid?
Tentu
saja, kalau yang mendominasi adalah ‘para kepala pasar’, maka tentu saja
amal usaha ini hanya berakhir dipusaran perut saja (maaf). Akan tetapi
jika –yang mendominasi- adalah kepala masjid, maka (pasti) bakal
tercipta kesalihan sosial, kesalihan diri, kesalihan keluarga, kesalihan
masyarakat, dan kesalihan berusaha. Dan goalnya adalah terciptalah
kader-kader murni atau kader-kader militant yang tidak akan goyang
imannya untuk besarkan organisasi ini.

Aisyiyah perlu banyak
belajar dengan wanita Jepang. Di Jepang kita mengenal “kyoiku mama” (ibu
pendidikan) yang rata-rata mereka lulusan S1/S2. Mereka sekolah tinggi
bukan untuk berkarier tapi untuk “mendidik anak” agar anak-anaknya
menjadi anak yang baik, itulah karier mereka yang tertinggi. 
Tak heran
jika anak-anak di Jepang , pria dan wanita, sangat sayang dan mengagumi
ibu-ibunya selain itu ad juga Ryosai Kentro (istri yang baik dan ibu
yang arif) yakni suatu kebijakan yang memposisikan kaum wanita sebagai
‘penguasa rumah’, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
terjadi di rumah. 
Dari mulai pekerjaan- pekerjaan rumah tangga, masalah
keuangan, dan pendidikan anak. sehingga wajar pemerintahan Jepang sangat
memberi tempat terhormat pada peranan ibu rumah tangga yang berkualitas
karena pemerintah menyadari bahwa kemajuan bangsanya tetap ditopang
oleh kualitas ibu-ibu rumah tangganya sebagai pembentuk kualitas
karakter anak anak mereka.

Berbeda dengan ibu rumah tangga di
Indonesia. Kebanyakan para perempuan merasa gengsi jika pendidikan
tinggi mereka hanya berakhir di pekerjaan rumah tangga saja. Maka mereka
pilih cari pekerjaan di luar rumah, manca negara sasarannya, yang
penting bekerja walau hanya pembantu rumah tangga dan baby sitter saja. 
Akhirnya anak-anak mereka diasuh dan dididik oleh pembantunya. Ibu
hanya berikan kesenangan berupa uang yang melimpah. Pola pikir dan jiwa
anaknyapun bukan duplikasi dari orang tua mereka , tetapi pola pikirnya
duplikasi dari pembantunya yang notabene berpendidikan rendah. 
Nah dari
sinilah Aisyiyah perlu menjadi pelopor, bagaimana agar ibu Indonesia
itu tidak lari ke luar negeri hanya untuk mencari sesuap nasi, tetapi
tetap kerasan di negaranya, dekat dengan anak-anak dan keluarganya,
hidupnya makmur, dan mampu mendidik putra putrinya menjadi generasi yang
unggul. ( Ki Setyo )