Mary Kagum dengan Kebenaran Al Qur’an, Rasulullah, dan Hijab

Hidayah bisa Allah berikan kepada siapa yang dikendaki-Nya. Mary lahir di Oklahoma, Amerika Serikat. Ia dibesarkan dalam keluarga
Kristen yang taat. “Ibu saya selalu menjaga saya dari hal buruk.
Keluarga kami setidaknya tiga kali mengunjungi gereja,” kata dia seperti
dilansir Onislam, Senin (27/10).

Mary mengaku bangga
dengan keluarganya yang mempraktikan ajaran agama dalam kehidupan
sehari-hari. “Kami diajarkan tidak mengkonsumsi alkohol, rokok, atau
narkoba. Tidak dibolehkan mengumpat apalagi melakukan seks bebas,”
kenangnya.

Mary sendiri hampir hapal seluruh isi Alkitab. Ia juga
aktif mengisi kegiatan gereja, seperti menjadi anggota paduan suara,
bermain organ dan lainnya.

Pertemuan Mary dengan Islam terjadi
ketika bertemu dengan mahasiswa Muslim. Usia Mary saat itu 49 tahun. Ia
pun masih menjadi pelayan gereja yang aktif. Di luar pertemuan itu, Mary
memang senang membaca, utamanya terkait masalah Ketuhanan.

Ketertarikan
membaca literatur Islam inilah, yang akhirnya membawa Mary menemukan
kebenaran Islam. “Sejak kecil saya tidak pernah membaca buku-buku
Islam,” kata dia.

Lulus SMA, kabar tidak mengenakan datang dari kedua orang tuanya.
Mary begitu sedih lantaran kedua orang tuanya bercerai. Untuk
menghindari hal negatif karena emosinya yang labil, Mary memilih untuk
bekerja dan menikah. Namun, usia pernikahannya tidak lama. Di perceraian
keduanya, teman dan kolega Mary mendorongnya untuk mengikuti tes
beasiswa di Universitas Tusla.

Ketika membaca sebuah buku di
perpustakaan, ia menemukan sosok Muhammad. Lalu, ia mendapati ajaran
Nabi Muhammad SAW yang diketahuinya bernama Islam. “Buku itu menulisnya
bukan Islam tapi Muhammadisme. Saya tidak tahu memang kalau nama agama
yang dibawa Rasulullah itu Islam,” kata dia.

Suatu hari, ketika
ia berada di kampus, ia bertemu dengan mahasiswa Muslim asal Malaysia.
Rasa kagum muncul dalam benak Mary ketika bertemu dengan mereka. “Saya
berpikir, agama yang mereka peluk sepertinya begitu indah. Ini bisa
dilihat dari cara hidup mereka,” ucap dia.

Rasa kagum itu menjadi
ketika diantara mahasiswa asal Malaysia itu ada yang mengenakan hijab.
Awalnya, kekaguman Mary hanya sebatas gaya berbusana. Mary belum tahu
bahwa hijab itu merupakan  cara Allah melindungi Muslimah.

Selama
bertahun-tahun, Mary bermasalah dengan sakit di kepalanya. Ketika
sakitnya kambuh, ia merasa sedih karena tidak ada seorang pun yang mamu
membantunya. Mary selalu berdoa agar penyakitnya hilang. Ia baca
Alkitab, tapi tetap saja rasa sakitnya tidak hilang.

Suatu hari,
ia bertemu dengan Amina, salah seorang Mahasiswi Muslimah berhijab dari
Malaysia. Amina meminta Mary membantunya untuk mengajari menulis bahasa
Inggris. Amina lalu mengajak kedua temannya Saif (Yaman), Tariq dan
Khalid (Oman), dan Yousif (Uni Emirat Arab).

Saat mengajari
mereka menulis bahasa Inggris, lagi-lagi muncul rasa kagum dalam diri
Mary. “Mereka memiliki sopan santun. Mereka seperti dekat padahal
berbeda negara,” ucapnya.

Mary pun bertanya soal agama yang
dianut mereka. Lalu salah seorang dari mereka memberikan Mary Alquran
terjemahan bahasa Inggris. Ketika Mary hendak membacanya, Saif meminta
Mary untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Kemudian Mary diminta
menyebut nama Allah sebelum membaca Alquran.

“Saat membacanya jujur, saya takut dan gemetar,” kata dia.

Mary
mengaku terkejut ketika membaca Alquran. Berulang kali, Alquran
menyebut kata Yesus (Isa). Dikatakan Alquran, Yesus itu manusia biasa
yang dipilih menjadi Nabi. Bukan anak Allah yang sering ia ketahui
ketika membaca Alkitab.

“Saya biasa diajarkan Yesus itu anak Allah dan ia datang ke bumi untuk menembus dosa manusia,” kenang dia.

Mary
yang gundah merasa tidak sabar meminta keterangan anak didiknya yang
Muslim. Ketika berada di apartemen, Mary pun memutuskan memeluk Islam.
Usai bersyahadat ia lakukan sujud syukur ke arah kiblat, meski
sebenarnya Mary tidak tahu dimana Makkah itu berada.

“Saya
berdoa. Ya Allah. Kau tahu saya lebih baik dari saya sendiri. Kau tahu
dosa saya. Kau tahu saya telah mencari kebenaran sepanjang hidup saya.
Kau tahu, saya mempelajari Islam,” kenang Mary.

“Saya selalu
menyebut nama-Mu selama bertahun-tahun, namun saya baru tahu nama Engkau
adalah Allah. Saya mencoba menyembah-Mu namun dengan cara yang salah.
Tapi saya tidak ingin masuk neraka karena tidak percaya Yesus seorang
Nabi, saya tidak ingin masuk neraka karena tidak menyembah-Mu dengan
cara yang benar. Saya ingin masuk surga ketika maut menjemput,” doa
Mary.

“Tapi saya percaya Islam adalah kebenaran. Engkau, adalah
Tuhan yang pantas disembah. Engkau tidak memiliki anak. Engkau utus
kekasih-Mu Muhammad SAW untuk membawa saya menyembahmu dengan cara yang
benar. Ya Allah, saya takut kepada-Mu. Tapi saya percaya, Engkau Maha
Pemaaf lagi Maha Pengampun,” tambahnya.

Selesai berdoa, Mary
merasa damai. Begitu damai hingga ia tertidur. Saat bangun, mary merasa
terkejut. Tidak ada lagi sakit kepala. Ia pun berterima kasih kepada
yang Maha Kuasa atas kesembuhan itu.

Sejak itu, Mary mulai
menutupi tubuhnya dengan pakaian yang sopan. Ia kenakan hijab. Agar
merasa mantap, ia meminta anak didiknya membimbingnya menjadi Muslim
dengan cara yang benar. “Lalu saya dengan terbata-bata mengucapkan dua
kalimat syahadat,” kata dia.

Usai mengucapkan syahadat, Mary
didatangi banyak mahasiswa Muslim. Mereka bawa makanan, pakaian dan
Alquran. “Ya Allah, terima kasih telah membuka hati dan pikiran saya
untuk Islam. Terima kasih ya Allah telah mendatangkan saya seseorang
yang mengenal Islam dengan baik. Maafkan saya atas kesalahan dimasa
lalu. Ya Allah, bantu saya dan umat Islam untuk terus mencintai Engkau,
mencintai Rasulullah, mencintai Alquran, dan selalu menyebarkan pesan
damai kepada orang lain, amin,” kata Mary. [sp/rol]