Majelis Taurat, Pembangkit Stamina Intelektual dan Spiritual Kader IMM

Kalau masalah beraktivitas pagi, tidak hanya agen distribusi surat kabar yang harus menjalankan tugasnya di pagi hari. Agen intelektual muslim yang baik pun demikian. Bedanya, agen intelektual  mengantarkan ilmu pengetahuan dunia dan akhirat, bukan surat kabar. Selain itu, kalau agen koran dari rumah ke rumah, kalau agen intelektual dari masjid ke masjid.
“Agen intelektual muslim yang baik” adalah jargon Majelis Taurat (Majelis Ilmu Pengetahuan Dunia dan Akhirat). Majelis Taurat merupakan kelompok kajian keilmuan yang mengkaji pengetahuan dunia dan akhirat, mulai dari Teologi sampai masalah-masalah kehidupan sosial masyarakat.  Majelis yang terbentuk atas inisiasi Kepala Sekolah Paradigma PC IMM Kota Makassar, Muhammad Solihin S. S.H., melaksanakan forum keilmuan setiap Sabtu pagi. Tempat kajian yang berpindah-pindah, mulai dari Masjid Nurul Ilmi Telkom, sampai Masjid Kampus UIN Alauddin  selalu menghadirkan suasana baru di setiap pertemuannya.
Majelis Taurat sebenarnya juga terinspirasi dari misi One Day One Juz. “Kalau ODOJ satu hari satu juz, maka majelis mengusung misi satu minggu, satu buku.”, ungkap Solihin. Metode yang diterapkan  adalah metode bedah buku. Setiap peserta majelis membedah satu buku yang telah dijadwalkan secara bergilir setiap pekan. Sebelum melakukan bedah buku, sebelumnya ada pengantar yang berupa materi dari pemateri di luar peserta majelis.
Ketika ditanyai buku-buku yang sudah dibedah, Solihin mnyebutkan salah satu judul buku yang pernah dibedah adalah Al Hayy bin Yaqdzon karya Ibn Tufail. Buku ini mengisahkan tentang seseorang yang menemukan Tuhan tanpa agama yang diasuh oleh seekor rusa. “Kami memang berupaya menghidupkan kembali karya pemikiran besar yang tidak tersentuh lagi.”, ungkap Solihin.
Antusias peserta majelis seakan-akan menunjukkan kalau tidak ada hari yang paling ditunggu selain hari sabtu pagi. Wangi pagi yang masih segar-segarnya, rindu dan haus intelektual yang telah mendesak untuk segera terpuaskan membuat para peserta majelis begitu antusias. Ini terlihat dari jumlah peserta yang selalu bertambah dan kedatangan mereka yang selalu lebih awal.
“Peserta terdiri dari alumni Sekolah Paradigma PC IMM Kota Makassar dan kader-kader IMM lainnya. Meski demikian, Majelis Taurat berbeda dengan Sekolah Paradigma yang merupakan agenda Pimpinan Cabang IMM Kota Makassar sejak periode 2013/2014. Peserta Sekolah Paradigma terbatas, kalau forum ini pesertanya bebas. Majelis taurat juga bukan agenda Pimpinan Cabang“, jelas Solihin.
Kehadiran kelompok-kelompok kajian seperti ini memang sangat dibutuhkan untuk pengembangan kualitas intelektual pemuda. Terlebih bagi oraganisasi kader seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang bertujuan untuk meciptakan akademisi Islam. Solihin menambahkan bahwa Majelis Taurat adalah aktivitas dakwah intelektual yang berorientasi pada terciptanya atmosfer intelektual yang bermanfaat dalam mencerdaskan dan mencerahkan generasi insani.
“Majelis Taurat menjadi suatu wadah yang lebih menuntut kesadaran bersama untuk menghidupkan budaya ilmiah. Stamina intelektual dan stamina spiritual adalah nyawanya akademisi Islam yang berakhlak mulia, dan ini lah yang dibangun di sini.”, tegas Solihin. Yusnaeni, S.Pd., M.Pd., yang pernah diundang menjadi pembicara di salah satu pertemuan majelis ini berharap laboratorium pencipta intelektual muhammadiyah yang menurutnya kini jumlahnya sudah berkurang dapat terbentuk melalui Majelis Taurat ini. (sp/Fikar/khittah)