Kisah Pengabdian Pak Untung, Guru Yang Tak Memiliki Tangan

Sumenep- Hari ini, Selasa(25/11/2014) diperingati hari guru. Masih banyak guru di daerah yang memerlukan perhatian pemerintah. Salah satunya Pak Untung, beliau adalah guru honorer di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Miftah, Desa Batang-Batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Sejak terlahir 45 tahun yang lalu, dia tidak memiliki tangan.

Namun keterbatasan itu tidak pernah menyurutkan semangat Untung untuk mencerdaskan anak-anak di desanya. Setiap pagi, dia gunakan waktunya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada anak didiknya.

Cara mengajar Untung tidak berbeda dengan guru-guru pada umumnya. Hanya saja, untuk menjelaskan di papan tulis, dia harus menggunakan kakinya. Meski demikian, tulisannya begitu bagus, tidak kalah dengan tulisan tangan.

Bahkan, Untung juga kerap menggunakan LCD projector untuk menjelaskan materi pelajaran. Untung piawai mengoperasikan laptop dengan kedua kakinya. Lalu menggeserkan pointer dan mengetikkan kalimat memakai kaki.

Untuk mendapatkan informasi terbaru tentang mata pelajaran yang dipegangnya, Untung juga memanfaatkan teknologi internet. Dia berselancar di dunia maya menggunakan laptop milik sekolah dan membagikan hasilnya kepada anak didik.

Untung mengaku pasrah dengan keterbatasan yang dimiliki. Menurutnya itu adalah takdir Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun, dia bertekad untuk mencerdaskan anak bangsa. Terutama anak-anak di sekeliling.

“Walaupun keterbatasan yang ada pada diri saya ini, ya saya pasrah saja. Karena ini memang takdir dari Allah,” ucapnya.

Bagi anak didiknya, Untung dikenal sebagai sosok guru penyabar. Untung juga dikenal nyaman dalam menyampaikan materi pelajaran dan tidak pernah putus asa mengajar mata pelajaran Agama Islam dari kelas empat hingga kelas enam.

“Pak Untung baik, orangnya tidak putus asa untuk mengajari kami semua,” kata salah satu murid Untung, Indah Hasbuna.

Sedangkan menurut Kepala MI Al Miftah, Sya’rani, Untung dikenal sebagai sosok guru yang berdedikasi tinggi. Walaupun memiliki keterbatasan, Untung mengajar sesuai dengan standar kegiatan belajar mengajar (KBM).

“Menurut pengamatan saya apa yang dilaksanakan Pak Untung di madrasah ini sudah sesuai dengan KBM,” tukasnya.(sp/mch/oke)