Kisah Guru Yang Tidak Pernah Ambil Gaji, Bangun Gedung Dengan Uang Pribadi


Pagi 
di
awal Juli 1995 menjadi hari yang bersejarah bagi Sudarusman. Saat itu
dia kali pertama menginjakkan kaki di SMP Muhammadiyah 2. Sebagai guru,
yang dia bayangkan adalah gedung sekolah yang memadai sehingga bisa
mengajar dengan baik. Namun, kenyataan yang dia lihat jauh berbeda.

Yang
dia lihat adalah lahan parkir yang dipenuhi kendaraan roda empat milik
warga sekitar. Tidak tampak gedung sekolah. Setelah melewati area
parkir, lagi-lagi yang dia lihat bukan gedung sekolah, tapi deretan
rumah tinggal warga. Ketika dia mendekat, tampak beberapa anak
berseragam sekolah, putih-biru. Di salah satu ruang, beberapa anak itu
sedang memegang buku.
Sudar muda baru ngeh bahwa
sekolah yang akan menjadi tempat dirinya mengajar tidak mempunyai
gedung khusus. Sekolah tersebut menyewa rumah warga untuk pembelajaran
siswa. Kala itu ada sekitar empat rumah yang disewa sebagai gedung
sekolah. Selain tidak mempunyai gedung, sekolah tersebut hanya memiliki
sekitar 27 siswa, mulai kelas 1 sampai III SMP.
Siswa
yang belajar di sekolah di Jalan Genteng Muhammadiyah 28 itu tidak
membayar SPP alias gratis. Para guru yang mengajar juga tidak digaji.
”Saya juga tidak pernah digaji. Saya terima karena mengajar adalah
panggilan hati,” ucap Sudar.
Untunglah, saat itu dia nyambi bekerja karena itu, dia masih bisa
membiayai hidup keluarganya. Sudar berbeda dengan guru lain, yang
kebanyakan kesulitan di bidang ekonomi sehingga kadang mereka tidak
masuk sekolah karena harus bekerja.
Sudar
miris melihat kondisi sekolah. Namun, sebagai guru biasa, dia tidak
bisa berbuat banyak. Tapi, dia tidak hanya berpangku tangan. Suatu hari
dia mengusulkan kepada sekolah untuk merenovasi salah satu rumah yang
disewa sebagai gedung sekolah yang layak. Kepala sekolah akhirnya
setuju. Kondisi ekonomi sekolah menjadi kendala.
Demi
renovasi gedung sekolah, Sudar rela mengeluarkan uang dari hasil kerja
sebagai konsultan untuk merenovasi gedung itu. Dia juga meminta
perusahaan konstruksi rekan kerjanya untuk membantu pembangunan.
Akhirnya, salah satu rumah direnovasi menjadi gedung sekolah. ”Para
siswa senang sekali melihat gedung sekolah yang cukup bagus,” kata pria
kelahiran 15 Februari 1960 tersebut.
Tiga
tahun setelah itu, dia dipercaya sebagai wakil kepala sekolah. Tidak
lama setelah itu dia diminta menjadi kepala sekolah sementara untuk
menggantikan kepala sekolah sebelumnya yang pindah karena diterima
sebagai PNS di Sidoarjo. Baru pada 2000, SK sebagai kepala sekolah
keluar. Sudar pun secara resmi menjadi kepala sekolah.
Pria
pencinta olahraga dan seni itu menghadapi kendala cukup berat. Siswa
sering tidak masuk, begitu juga guru. ”Jadi, banyak kelas yang kosong,”
kata dia. Dia tidak memarahi guru maupun siswa. Dia kemudian mengambil
langkah untuk menghapus mata pelajaran matematika dan fisika. Dua
pelajaran itu yang menjadi momok siswa.
Menghapus
dua pelajaran itu cukup berat karena Sudar sendiri sebagai guru
matematika dan fisika. Setelah keduanya dihapus, dia menggantinya dengan
pelajaran olahraga dan seni. Trik tersebut ternyata manjur. Banyak
siswa yang mau masuk sekolah. Bahkan, mereka mengajak siswa lain untuk
datang ke sekolah. Mereka senang sekali bermain olahraga sepak bola dan
pencak silat.
Sekolah
itu mulai menerima siswa mutasi yang tertarik dengan kegiatan olahraga
dan seni. Dia juga membuat ruang khusus untuk bermain musik. Peralatan
musik yang dia miliki diboyong ke sekolah. ”Saya juga disumbang alat
musik oleh teman,” ungkapnya.
Selain
bekerja keras untuk mengembangkan sekolah, dia berusaha tetap
mendapatkan uang untuk membiayai keluarga. Jika pagi sampai sore untuk
kegiatan sekolah, pada malam dia gunakan untuk bekerja sebagai
konsultan. Bahkan, kadang pada dini hari dia bekerja. Suatu hari dia
pernah berangkat ke lokasi proyek di Trawas pukul 03.00 untuk memberikan
pengarahan kepada para pekerja. Kemudian, setelah subuh, dia langsung
pulang ke Surabaya. ”Pukul tujuh pagi saya masuk sekolah,” kata dia.
Setelah
siswanya berjumlah 70 orang, pada 2004 dia mulai menarik SPP dari
siswa. Kala itu setiap siswa diwajibkan membayar Rp 25 ribu per bulan.
Tiga bulan berikutnya, SPP naik menjadi Rp 50 ribu. Sudar mulai bisa
membayar gaji guru.
***
Rabu
pagi lalu (2/7) Sudar sudah berada di SMP Muhammadiyah 2. Siswa sedang
libur setelah ujian nasional. Namun, Sudar tetap pergi ke sekolah untuk
melihat pendaftaran siswa baru. Sebenarnya, kuota pendaftaran siswa baru
sudah penuh. Dia hanya membutuhkan 100 siswa untuk mengisi empat
rombongan belajar (rombel) yang disiapkan.
Ya,
Rabu pagi itu, jumlah pendaftar sudah mencapai 120 siswa. Dia tidak
heran dengan banyaknya siswa yang mendaftar. Banyak yang menarik di
sekolah tersebut. Walaupun sudah penuh, pria yang menjabat sebagai ketua
harian Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Surabaya itu tidak
menolak siswa yang mendaftar.
Pendaftaran,
kata dia, baru ditutup pada 14 Juli mendatang. Dia terpaksa membuka
satu rombel lagi untuk menampung siswa yang melebihi kuota. Sebelum
pendaftaran ditutup, dia tidak akan menolak siswa. Sebab, baginya,
setiap siswa mempunyai bakat dan keistimewaan.
Dia
akan memanfaatkan gedung sekolah yang terdiri atas tiga lantai itu.
Sebenarnya, gedung tersebut sudah sesak karena jumlah siswanya mencapai
500 orang. Mereka dibagi dalam 18 rombel. Dia berencana membangun gedung
baru di belakang gedung yang ada sekarang.
Menurut
Sudar, gedung tiga lantai tersebut dibangun pada 2004. ”Itu gedung baru
pertama yang kami bangun,” kata dia. Ketika itu sekolah tidak mempunyai
uang untuk membangun gedung. Dia pun nekat membangun gedung di lahan
yang dahulu digunakan sebagai lahan parkir.
Dari
mana uang untuk membangun? Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Simokerto
itu mengatakan, gedung tersebut dibangun dengan uang fee yang
dia terima sebagai konsultan. Gedung tersebut tidak langsung dibangun
tiga lantai, tapi hanya satu lantai. Jadi, pembangunannya dilakukan
secara bertahap.
Setelah
pembangunan selesai, ternyata lahan yang ditempati sebagai gedung
sekolah disengketakan warga. Mereka mengklaim lahan itu milik warga.
Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, dia pun membeli lahan seluas
1.000 meter persegi itu dengan harga Rp 1 miliar. Dia membayar uang muka
pembelian tanah tersebut Rp 300 juta. Uang itu berasal dari kantongnya.
Sisanya meminjam ke bank.
Untuk
mendapat pinjaman, dia harus meyakinkan bank bahwa sekolah itu akan
berkembang dan bisa mengembalikan utang tersebut. Setelah berhasil
meyakinkan bank, pinjaman cair. Lahan itu pun bisa dibebaskan sepenuhnya
dan menjadi milik sekolah.
Selain
getol membangun gedung, dia melakukan inovasi dengan membuka kelas
olahraga. Beberapa cabang olahraga dikembangkan. Mulai pencak silat,
sepak bola, bola voli, basket, anggar, baseball,
hingga hoki. Berbagai prestasi diraih. Bahkan, sebelum kelas olahraga
dibuka, para siswa pernah menjadi juara umum pada kejurnas pencak silat
tapak suci di Bekasi pada 2003.
Setelah kelas diluncurkan, semakin banyak prestasi yang dicapai. Sudar juga meluncurkan brand sekolah
prestasi. Beberapa prestasi olahraga yang pernah diraih, antara lain,
medali emas pencak silat dalam SEA Games 2012, juara satu lomba anggar
di Malaysia dan Thailand pada 2012, juara umum hoki Jatim 2013, dan
medali emas dalam kerjurda panahan Jatim pada tahun ini.
Tidak berhenti di situ saja, ayah lima anak itu juga membuka Sunday school,
sekolah Minggu pada 2010. Program tersebut menggunakan pengantar bahasa
Arab dan Inggris. Materi yang mereka pelajari dalam program itu adalah
agama, pengetahuan umum, dan bahasa. Dalam pelajaran agama, mereka
mendapatkan materi ilmu falak, akhlak, fikih, dan materi lainnya.
”Pengajarnya para ulama tarjih Muhammadiyah,” terang dia.
Untuk
pelajaran pengetahuan umum, siswa diarahkan untuk bisa menghasilkan
penemuan ilmiah. Sudar menjadi salah seorang pengajar bersama guru lain
serta pengajar dari ITS. Beberapa karya dihasilkan. Di antaranya, rumah
sensor hujan, rumah SMS, dan detektor gempa.
Karya
itu sudah dipresentasikan di beberapa tempat. Mulai sekolah sampai
perguruan tinggi. Setelah delapan kali dilakukan presentasi di dalam
negeri, karya tersebut kemudian dipresentasikan di depan siswa di
sekolah luar negeri. Beberapa sekolah yang menjadi sister school adalah Sekolah Al Amin Malaysia, Mahad Hamidiya Malaysia, dan Sekolah Al Junaid Singapura.
Pada 2012, Sudar juga membuka talent executive class.
Yang masuk program itu adalah kelas jurnalisme, presenter, fotografi,
dan musik. Uniknya, pembelajarannya dilakukan di mal. Anak pasangan
Supii dan Kasiatun tersebut tidak lelah melakukan inovasi. Pertengahan
Ramadan ini, dia akan meluncurkan program seni membaca Alquran. Walaupun
sekolah yang dia pimpin cukup berkembang, dia tidak mengambil sepeser
pun gaji yang disiapkan untuknya. Gaji tersebut digunakan untuk
membiayai anak asuhnya.

Kisah ini semoga bisa
menginspirasi semua pelaku pendidikan terutama di lingkungan
Muhammadiyah, kisah keikhlasan warga muhammadiyah seperti pak sudarusman
tentu masih banyak ini membuktikan semangat al ma’un yang dipelopori
oleh KH Ahmad Dahlan masih diteruskan generasi selanjutnya, hal ini
sekaligus sebuah tamparan bagi para oknum – oknum di lingkungan Amal
Usaha Muhammadiyah yang masih melakukan praktek memperkaya diri atau
hanya memanfaatkan AUM untuk kepentingan pribadi bukan untuk kepentingan
persyarikatan dan umat islam [jppn/sp]