JIMM: Proyek Abad ke-2 Muhammadiyah adalah Internasionalisasi

Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) menyelenggarakan workshop “Internasionalisasi pemikiran dan gerakan Muhammadiyah” pada 30 Oktober-1 November 2014. Acara yang bekerjasama dengan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merupakan follow up dari pertemuan JIMM di Universitas  Muhammadiyah Malang (UMM) pada Ramadan tahun (Hijriah—red) lalu.
Menurut presidium JIMM Pusat, Boy Pradana ZTF tema internasionalisasi wajib digelorakan oleh Muhammadiyah dalam perjalanan di abad ke-2 ini. Pasalnya, Muhammadiyah sudah cukup modal dan potensi besar untuk berkiprah di ranah internasional, dari segi pemikiran maupun gerakan.
Ia menambahkan bahwa, upaya ini juga berangkat dari refleksi atas studi komparatif Muhammadiyah dan Gulen Movement yang pernah dilakukan oleh Abdul Munir Mulkhan. Data menunjukan, Gulen Movement yang baru berusia sekitar 20 tahun sudah bisa menginvasi 100 negara, melalui proyek pendidikannya berupa PASIAD. Muhammadiyah yang sudah lebih tua berusia 1 abad belum berbuat banyak, maka sudah selayaknya Muhammadiyah mewacanakan hal ini.
“Yang kita punyai hanyalah PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah—red). Itupun PCIM hanyalah diaspora aktivis/pelajar Muhammadiyah semata yang bersekolah di luar negeri, tidak ada yang baru. Maka, jika semua mahasiswa sudah berpulang kembali ke Indonesia maka terjadilah kevakuman (PCIM—red). Kita menginginkan bagaimana orang Mesir, Amerika, Paris, berkebangsaan “asli”-lah yang menjadi anggota Muhammadiyah, selayaknya gerakan Ikwanul Muslimin beserta Hizbut-Tahrir di Indonesia yang memiliki anggota asli orang Indonesia,” paparnya, Sabtu (01/11).
Berdasarkan hal tersebut, paling tidak ada tiga hal yang menyebabkan Muhammadiyah dan terutama Islam di Indonesia sulit menginternasional. Pertama, geopolitik Indonesia yang dianggap Islam periferal (baca: pinggiran) sehingga dianggap tidak layak dijadikan rujuan utama Islam, yang biasa berasal dari Timur Tengah. Kedua, minimnya publikasi tentang gerakan-gerakan Muhammadiyah di wilayah internasional, padahal gerakan Muhammadiyah tidak kalah hebat dengan gerakan Islam lain. Ketiga, mentalitas orang Indonesia yang inlander, artinya selalu merasa minder untuk menginvasi gagasan. Hal itu bisa disebabkan akibat Indonesia yang tidak memiliki sejarah imperium Islam dunia, layaknya Turki (Turki Utsmani), Irak (Bani Abasiyah) dan lainnya. Juga dibarengi dengan tantangan bahasa. 
Adapun, acara tersebut dihadiri oleh puluhan aktivis muda Muhammadiyah, seperti Hilman Latif, Ahmad Najib Burhani, Andar Wibowo, Boy Pradana ZTF, Ahmad Fuad Fananie serta aktivis dari ortom-ortom lain. Beberapa tokoh Muhammadiyah yang berpartisipasi diantaranya, Agus Purwanto (Penggagas Trensains), Marpuji Ali (Sekretaris PP Muhammadiyah), Syamsul Hidayat (Wakil Ketua MTDK), Abdul Fattah Santoso (Dekan FAI UMS), Mahli Zainuddin Tago (Sekretaris MTDK), Asep Purnama Bakhtiar (Ketua MPK Pusat) serta tokoh lokal lainnya.
Menurut Muthohharun Jinan selaku ketua panitia, terdapat sekitar 40 paper yang diloloskan oleh panitia dari sekian banyak yang masuk melalui email panitia. Adapun, seluruh paper tersebut mempunyai misi tentang pemikiran maupun gerakan yang bisa dipromosikan oleh wajah Muhammadiyah ke ranah internasional.  Pada workshop ini  panitia tidak memfokuskan kepada wacana yang melangit, melainkan best practice yang formatnya bisa dipromosikan ke luar negeri serta menjadi ciri khas Muhammadiyah.
Adapun, beberapa poin tersebut adalah: Muhammadiyah for Internationalization of Thought (makro), Muhammadiyah Contribution for Indonesia (makro), Beyond The Selfie; Critic to Developt (Education), Beyond the Selfie; critic to Developt (Filantrophy), Moderasi Pemikiran keagamaan Muhammadiyah, (Jump to be Worldwide), Best Practice pendidikan dan internasionalisasi Muhammadiyah (Modifier than Now) serta Muhammadiyah Studies for internasionalisasi (To Aclered to be Internationalized Referens). 
Sekretaris PP Muhammadiyah, Marpuji Ali dalam sambutan penutupan acara tersebut menyampaikan apresiasinya atas gagasan yang dibangun oleh anak-anak muda Muhammadiyah, terutama tentang internasionalisasi. Menurutnya, Muhammadiyah perlu ditopang oleh berbagai kalangan, diantaranya adalah para intelektual. “Kita harus saling bersinergi. Namun, jika menyampaikan kritik, hendaknya disampaikan dengan cara bersahabat. Dari hati ke hati,” ungkapnya, Sabtu (01/11).
Rekomendasi dari acara ini antara lain, proyek pendidikan yakni dengan membuka peluang bagi kader-kader Muhammadiyah agar bisa bersekolah di luar negeri. Kemudian, penerbitan jurnal Muhammadiyah Studies sebagai alat promosi Muhammadiyah di ranah internasional. Saran kepada Muhammadiyah adalah, mengoptimalkan peran pusat studi Muhammadiyah serta pembangunan lembaga penerjemah di Perguruan Tinggi Muhamadiyah (PTM) se-Indonesia. 
Irfan Ansori
Mahasiswa S1 Fakultas Agama Islam UMS
Ketua Umum PK. IMM Pondok Hajjah Nuriyah Shobron
Foto-foto Kegiatan..