Islam Sebagai Dasar Negara : Seruan Sunyi Seorang Ulama

Buku : Islam Sebagai Dasar Negara dan
Achlaq Pemimpin
yang ditulis
 oleh Ki Bagus Hadikusumo
Buku
ini tipis. tak sampai 44 halaman. Namun perannya menjadi penting. Ia
menjadi sebuah mata rantai sejarah yang hilang. Kepingan teka-teki
yang terkubur. Apa sebab? Sajian utama buku ini adalah sebuah pidato
Ki Bagus Hadikusumo di depan sidang BPUPKI tahun 1945. Tak perlu
dijelaskan panjang lebar, sidang itu dilakukan untuk menentukan dasar
negara tanah air kita. Ia hadir sebelum pancasila dilahirkan. Endang
Saifuddin Anshari melukiskan, sidang itu terbagi menjadi 2 golongan.
Nasionalis Islam dan Nasionalis sekuler. Masing-masing berpidato
membentangkan pendiriannya. Anehnya semua pidato pihak Islam tidak
tercatat dalam arsip risalah sidang yang dibukukan. Raib entah
kemana. Termasuk pidato Ki Bagus Hadikusumo.
Adalah
sebuah buku yang diterbitkan oleh Djarnawi Hadikusumo (putra Ki bagus
Hadikusumo), dalam menyambut sidang konstituante tahun 1957
memberikan sebuah pencerahan. Sebuah pidato Ki bagus Hadikusumo pada
sidang BPUPKI itu tersaji dalam buku tipis ini. Bab lain dalam buku
ini berisi tulisan Ki Bagus berjudul Achlaq
Pemimpin
. Dan satu sajian lainnya mengenai masyarakat
Islam yang ditulis oleh Djarnawi Hadikusuma berjudul Masyarakat
Islam yang Sebenarnya
.
Pidato
tersebut disunting oleh Djarnawi seperlunya. Termasuk menghilangkan
kalimat pembuka berupa ucapan terima kasih kepada pemerintah Jepang.
Namun tidak menghilangkan esensi dari pidato Ki bagus, yaitu meminta
agar bangsa ini berdiri di atas dasar Islam.
Lahir
di Yogyakarta tahun 1890, Ki Bagus Hadikusumo, lahir dari keluarga
Islami. Ayahnya seorang Lurah Kraton bernama Haji Hasjim Ismail.
Tinggal di Yogyakarta, di sebelah utara pekarangan, dekat rumah KH
Ahmad Dahlan. Anak-anak Haji Hasjim Ismail inilah termasuk yang
pertama-tama menorehkan namanya, dalam sejarah pergerakan Islam
modern di Indonesia.
Anak
Haji Hasjim yang kedua bernama bernama Daniyalin, kemudian dikenal
sebagai Haji Syuja. Beliaulah yang menjadi ketua
pertama Hoofdbestur Muhammadiyah,
Bagian Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Kemudian adiknya bernama
Dzajuli, yang kelak kemudian dikenal sebagai Haji Fachrodin. Seorang
pemimpin pergerakan Islam, pegiat di surat kabar, pemimpin kaum
buruh, yang kemudian terjun pula menjadi tokoh Sarekat Islam. Dan
adik Haji Fachrodin, bernama Hidayat, kelak dikenal sebagai pemimpin
Muhammadiyah, bernama Ki Bagus Hadikusuma.
Pada
awal pidatonya Ki  Bagus Hadikusuma menekankan, bahwa manusia
itu hidup bermasyarakat. TIdak bisa hidup, jika tidak menerima
pertolongan orang lain. Dan Allah mengirimkan para Nabi agar memimpin
masyarakat. Menurut Ki Bagus Hadikusuma, wakil rakyat dalam
bermusyawarah, harus dapat berlaku sebagai waris para Nabi dan segala
perbuatan harus berdasarkan keikhlasan, suci dari sifat tamak dan
mementingkan diri dan golongan sendiri.
Begitu
pentingnya sidang BPUPKI karena menentukan dasar negara, sehingga
ditengah pidatonya, Ki Bagus Hadikusumo mendoakan para peserta
sidang,
Ya
Allah berikan kami petunjuk ke jalan yang benar, yaitu jalan yang
telah engkau beri nikmat dan bukan jalan orang-orang yang engkau
murkai, bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”
Beliau
kemudian melanjutkan, “Bagaimanakah
dan dengan pedoman apakah para Nabi itu mengajar dan memimpin umatnya
dalam menyusun negara dan masyakarat yang baik? Baiklah saya
terangkan dengan tegas dan jelas, ialah dengan bersendi ajaran
agama.”
Ki
Bagus kemudian meminta, “…bangunkanlah
negara diatas ajaran Islam.”
 Sebagai dasar, beliau
mengutip surar Ali Imron ayat 103 dan Al Maidah ayat 3.
Menurutnya, “Agama
adalah pangkal persatuan, janganlah takut di mana pun mengemukakan
dan mengetengahkan agama.”
Ia
menyindir orang yang takut sekali dan berhati-hati jika hendak
membentangkan dan mengetengahkan agama, karena takut terjadi
perselisihan. Ia menegaskan, padahal bukan perkara agama saja, yang
jika dibicarakan dengan tidak jujur, suci dan ikhlas, akan
menimbulkan akibat demikian. Republik, monarki, sarekat atau kesatuan
pun dapat menyebabkan hal itu. Menurutnya, semua ini terjadi sebagai
akibat dari politik penjajahan yang memecah-belah.
Ki
Bagus Hadikusuma juga menyoroti soal pemerintahan yang adil dan
kebebasan beragama. Pemerintahan yang adil dan bijaksana berdasarkan
budi pekerti yang luhur dan bersendikan permusyawaratan, tidak akan
memaksa tentang agama. Ia mendasarkan pada surat An Nisa ayat 5, Ali
Imron ayat 159, dan Al-Baqarah ayat 256.
Diakhir
pidatonya, ia menukaskan, bahwa, “Agama
Islam membentuk potensi kebangsaan lahir dan batin, serta menabur
semangat kemerdekaan yang menyala-nyala. Jadikan Islam sebagai asas
dan sendi negara!”
Umat
Islam, menurutnya “…karena
pengaruh imannya,. Benar-benar mempunyai hidup yang bersemangat, yang
pada tiap saat dapat dengan amat mudah dapat dibangkitkan serentak,
dengan mengeluarkan api yang berkobar-kobar untuk berjuang
mati-matian membela agamanya, serta mempertahankan tanah air dan
bangsanya.”
Ia
lalu mempertanyakan, jika ada yang berkata agama itu tinggi dan suci,
dan tidak pantas diterapkan untuk mengurus negara, maka apakah mereka
mau bernegara diikat oleh pikiran yang rendah dan tidak suci?
Diakhir
pidatonya Ki Bagus Hadikusumo menutup dengan kalimat, “Mudah-mudahan
Negara Indonesia baru yang akan datang itu, berdasarkan agama Islam
dan akan menjadi negara yang tegak dan teguh, serta kuat dan kokoh.
Amien!”
Senafas
dengan “Islam sebagai Dasar Negara”, tulisan lainnya dalam buku
ini, berjudul Achlaq
Pemimpin
menyempurnakan pandangan Ki Bagus tentang
sifat-sifat pemimpin. Beliau mengutarakan setidaknya ada delapan
sifat seorang pemimpin, yaitu, Istiqomah; Tawakkal; Selpkoreksi (self
correction
-pen) serta tidak mencari-cari kesalahan dan
cela orang lain; Adil dan jujur; Tawadlu dan tidak takabbur; Menetapi
janji; Sabar dan halim (lembut hati dan peramah); dan Hidup
sederhana.
Begitu
pula tulisan tambahan Djarnawi Hadikusumo mengenai masyarakat Islam
yang berjudul Masyarakat
Islam yang Sebenarnya
 (The
True Islamic Society)
. Beliau mengungkapkan banyaknya
ketakutan akan kalimat “Masyarakat Islam.” Biasanya akan
dibayangkan dengan Sultan yang sewenang-wenang dan memiliki
beratus-ratus gundikAtau
ketakutan akan dikurungnya wanita di dapur dan terkekang. Kejam dan
sebagainya. Menurutnya ketakutan ini karena mereka tak tahu tentang
masyarakat Islam itu.
Masyarakat
Islam yang sebenarnya ialah masyarakat di mana hukum Allah berlaku
dan dijunjung tinggi menjadi sumber segala hukum lainnya”
Menurutnya,
dengan menyelaraskan perkembangan masyarakat dengan hukum-hukum Allah
yaitu tidak hanya menghasilkan teraturnya masyarakat (sociale
orde) 
tetapi juga akan membuahkan kebahagiaan dan
keadilan yang sempurna, yang tidak dicapai oleh norma-norma ciptaan
manusia. Djarnawi juga menambahkan, semakin dalam mempelajari hukum
Islam, terlihat bahwa hokum Islam tidak hanya,
“…merupakan
perlindungan bagi kaum yang mempunyai milik, dari gangguan timbulnya
dari mereka yang tidak bermilik, tetapi perlindungan bagi kedua
pihak.”
Keadilan
hanya akan didapatkan dengan hukum yang diciptakan oleh Allah, bukan
buatan manusia. Djarnawi kemudian mengingatkan, bahwa ciptaan
manusia,
 “…pada
akhirnya, makin tua umur dunia, semua menjadi relatif. Akhirnya
segala norma-norma sosial akan menjadi kabur dan hilang sama sekali,
dan manusia akan hidup tanpa norma.”
Pokok-pokok
yang dibahas dalam buku ini sesungguhnya masih berhubungan dengan
tantangan umat saat ini. Keragu-raguan akan hukum Islam sejak dahulu
sampai sekarang masih saja sama. Lagu lama yang terus diputar
berulang-ulang.
Semua
tulisan yang tersaji dalam buku ini walaupun ditorehkan dalam waktu
yang berbeda-beda, tetap terangkai menjadi satu susunan pedoman bagi
umat untuk penyelenggaraan negara ini. Buku Islam
Sebagai Dasar Negara
 tidak saja berharga sebagai
pedoman umat, namun menunjukkan kepada kita betapa dihargainya ulama
pada saat itu. Namun kini, lebih dari setengah abad kemudian, seruan
beliau hampir tak terdengar. Tertelan diantara riuhnya hiruk pikuk
sejarah yang meminggirkan umat Islam. Menjadi seruan sunyi seorang
ulama.
Sumber: http://jejakislam.net/?p=72