FAI UMS dan JIMM Adakan Workshop Internasionalisasi Muhammadiyah

Muhammadiyah telah memasuki abad kedua. Tantangan dakwah abad ini tentu tak kalah  rumit  jika  dibandingkan  abad  pertama.  Pasalnya,  Muhammadiyah yang merupakan gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid tidak  lagi berdiri sebagai ormas modern berbasis sosial kemasyarakatan di Indonesia, tetapi kini berhadapan dengan  berbagai  persoalan  serius  internasional.  Persoalan internasional  itu  merupakan peluang bagi Muhammadiyah untuk semakin berkiprah untuk umat secara global.
Sebagai gerakan Islam yang dikenal sebagai gerakan purifikasi di satu sisi dan gerakan pembaharuan di sisi lain, dengan tantangan global yang semakin kompleks menuntut Muhammadiyah untuk merumuskan kembali visi, misi dan strategi gerakan dakwah tajdidnya dalam ranah global dan internasional, yang diharapkan dapat menjadi agen perubahan dan motor peradaban utama yang berlandaskan ajaran Islam yang memiliki sifat rahmatan lil alamin. Tantangan ini di antaranya adalah bagaimana memelihara paham dan gerakan pemurnian untuk tidak mengarah kepada gerakan radikal dan menjaga visi dan pandangan tajdid-pembaharuannya tidak tergerus oleh infiltrasi paham liberal-sekular.  Posisi ini tidak mudah bagi Muhammadiyah, karena memang kenyataanya radikalisme yang merusak dunia seringkali membonceng pada gerakan puritanisme, sebagaimana paham liberal-sekular membonceng dan membiasi konsep tajdid dan pembaharuan Islam.
Dengan bekal pengalaman berorganisasi selama seabad, Muhammadiyah diharapkan mampu mewarnai jagat pemikiran dan praksis sosial yang dibawa sebagai role model ditingkat global. Meminjam istilah Haedar Nashir (2011) dengan fondasi ideologi reformis dan moderat yang  menjadi  karakter  gerakannya  plus  pandangan Islam yang berkemajuan dan berbagai potensi sumberdaya manusia, amal usaha, dan jaringan yang dimiliki, Muhammadiyah akan mampu menghadapi masalah dantantangan yang menghadang betapapun kompleksnya.
Inilah tantangan Muhammadiyah. Mencoba memberikan sesuatu kepada publik internasional dengan modal sosial yang telah dimiliki. Setidaknya, Muhammadiyah dapat berperan dalam tiga hal utama. Yaitu, ranah politik, ekonomi, dan kultural.
Untuk mengkaji peroalan-persoalan di atas Prodi Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah), Prodi Ilmu Alquran dan Tafsir (Ushuluddin) dan Prodi Hukum Ekonomi Syariah FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta bekerjasama dengan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) menyelenggarakan workshop dan diskusi nasional dengan tema “Internasionalisasi Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah” yang berlangsung pada hari Jumat-Sabtu, 31 Oktober – 1 Nopember 2014 di Kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diikuti sekitar 75 orang dari kalangan tokoh muda Muhammadiyah yang seluruhnya dating sebagai narasumber, dengan pidato pengantar oleh Rektor UMS, Prof Bambang Setiaji.

JADWAL
PRESENTASI WORKSHOP
“Internasionalisasi Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah”

Solo, 31 Oktober – 1 Nopember 2014

WAKTU
TOPIK DISKUSI
NARA SUMBER DAN JUDUL MAKALAH
Jumat, 31 Oktober
10.00-11.30
Perlunya Internasionalisasi Pemikiran dan Gerakan Muhammadiyah:  Muhammadiyah for Internatlization of
Thought
(Makro)
1.       Dr. M Abdul Fattah Santoso
2.       Ahmad Najib Burhani, Ph.D.
3.       Agus Purwanto, D.Sc.
4.       Hilman Latief, Ph.D.
Fasilitator: Andar
Nubowo
11.30-13.00
Ishoma
13.00-14.30
Muhammadiyah dalam Arus Politik dan Media: Muhammadiyah
Contribution for Indonesia
(Makro)
1.       Arief Hanafi
2.       Syifaul Arifin dan Sholahuddin
3.       Ahmad Sholikin
4.       Choiruz Zimam dan Azaki
5.       Ahmad Fuad Fanani
Faislitator: Sarbini
14.30-15.00
Ishoma
15.00-17.00
Best Practices Pendidikan untuk Internasionalisasi  Muhammadiyah (1): Beyond the Selfie;
Critic to Developt (Education)
1.       Mohamad Ali-Nursalam
2.       Syamsul Hidayat
3.       Vella Rohmay ani
4.       Rijal Ramdani
5.       Ari Nur Azizah
Fasilitator: Azaki
Khoruddin
17.00-19.00
Ishoma
19.30-21.30
Best Practices Filantropi untuk Internasionalisasi
Muhammadiyah (1) (Beyond the Selfie; Critic to Developt (Filantropi)
1.       Ahmad Su’ud, M.Si.
2.       Marpuji Ali, M.S.I
3.       Sukamto, SE.
4.       Dodok Sartono, SE.
5.       Hafidz Arfandi
Fasilitator: Zuly
Qodir
21.30-03.00
Istirahat
03.00-07.00
Shalat dan persiapan
Sabtu 1 Nopember
08.00-10.00
Moderasi pemikiran keagamaan Muhammadiyah (Jump to
be Worldwide)
1.       Muhammad Azhar
2.       Ahmad Rizky Mardhatillah Umar
3.       Budi Asyhari
4.       Hasnan Bachtiar
5.       Irfan Anshori
Fasilitator: Syifaul Arifin
10.00-12.00
Best practices pendidikan dan filantropi untuk internasionalisasi
Muhammadiyah (Modified than Now)
1.       Azaki Khoiruddin dan Maarif Jamuin
2.       Mahasri Shobahiyah
3.       Arin Setyowati
4.       Satria Unggul
5.       Intan Khoirunika
6.       Najib Al-Faruq
Fasilitator: Budi Asyhari
13.00-14.30
Muhammadiyah Studies untuk internasionalisasi (To
Aclered to be Internationalizated Referens)
1.       Ghifari Yuristiadhi
2.       Mutohharun Jinan
3.       Diska Arlina Hafni
4.       Muhammad Asratillah Senge
5.       Achmad Hidayatullah
6.       Zaenal Abidin dan Swinanrno
Fasilitator: Benni Setiawan
14.30-15.00
Ishoma
15.00-16.00
RTL: Strategi internasionalisasi Muhammadiyah
(Lima tahunan. Capaian per semester (6 bulan). Monev
dua bulan; Batas usia JIMM maksimal 35 tahun; Pasca JIMM, Muhammadiyah
Schoolars for Internalization 
Movement)
Semua
peserta
Fasilitator:
Pradana Boy, Zuly Qodir
16.00-17.00
Ramah Tamah dan Penutupan