Diaspora Membawa Berkah, Catatan Pengalaman Prof Dien Syamsuddin Hidup Sebentar di Amerika (Bag.1)

Prof. Dien Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

“Mimpi di waktu remaja tidak selalu hampa. Sewaktu duduk di bangku Pondok Moderen Darussalam Gontor Kelas Tiga Intensif (setingkat kelas dua SMA) pada tahun 1973, saya pernah bermimpi bisa melanjutkan studi ke luar negeri, khususnya negara-negara Eropa. Ini pengaruh pelajaran Bahasa Inggeris yang mengajarkan cerita tentang Piccadely Circus di Kota London, Inggeris. Pikiran langsung melayang-layang membayangkan taman itu dengan keramaian serta keindahan Kota London. Dalam hati terbersit keinginan untuk bisa suatu waktu melihat langsung tempat terkenal itu, baik sambil bekerja maupun bersekolah.


Tiga belas tahun kemudian mimpi itu menjadi kenyataan. Suasana hati tidak dapat dibahasakan. Bahasa manusia tidak cukup kaya menggambarkan nuansa jiwa, yg memadukan bahagia dan sedih beririsan. Betapa tidak bahagia, hari ini, 8 Peberuari 1986 saya bertolak ke Negeri Paman Sam untuk melanjutkan studi pasca sarjana. Di tangan sudah ada paspor dan tiket Garuda Indonesia Jakarta-Singapura, kemudian American Airlines yang akan membawa ke negeri impian banyak orang itu. Bayangan akan kotakota Amerika Serikat termasuk kampus universitas-universitasnya yang besar dan indah membuat hati tak sabar tiba.

Pada rongga jiwa bagian sebelah, hati diliputi gita-gulana. Betapa tidak, saya harus berpisah dengan isteri tercinta, Fira Beranata, yang baru dinikahi 2 Pebruari 1986, seminggu sebelumnya. Dia tidak ikut berangkat. Selain karena dia masih harus menyelesaikan SMAnya setahun lagi, juga karena belum tahu medan secara pasti. Peluk cium dan lambaian tangan isteri serta keluarga di Terminal Satu Bandara Soekarno Hatta (terminal internasional waktu itu) tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, kecuali airmata. Doa ibunda mertua agar saya sukses dalam studi, dan doa ibunda kandung agar saya tidak melupakan isteri, sungguh membuat diri kehilangan keseimbangan memasuki bandara. Pimpinan Fakultas Ushuluddin (kini dan Filsafat) IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, beserta sejumlah sahabat karib membuat hati sedikit berbangga, bahwa saya termasuk satu dari sedikit dosen yang memproleh kesempatan melanjutkan studi ke luar negeri, apalagi Amerika Serikat.


Saat itu dari UIN Jakarta ada tiga dosen muda yang berangkat pada program yang sama, yaitu Azyumardi Azra dan Mulyadi Kartanegara, dan saya sendiri. Bersama tiga rekan lain, yaitu alm Qodri Azizi (IAIN Walisongo, Semarang), Faisal Ismail (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta), dan Toha Hamim (IAIN Sunan Ampel, Surabaya). Kami berenam lulus seleksi baik Bahasa Inggeris maupun potensi akademik lewat wawancara, dari 30 dosen IAIN-IAIN se Pulau Jawa untuk ikut program Special Project in Islamic Studies ke Amerika Serikat lewat Beasiswa Fulbright. Program ini terwujud atas jasa Menteri Agama Munawir Sjadzali yang berhasil meyakinkan Duta Besar Amerika Serikat Paul Wolfowitz waktu itu. Mereka sepakat tentang perlunya peningkatan kapasitas akademik dan pengalaman dosen-dosen IAIN bagi pengembangan kualitas lembaga pendidikan tinggi Agama Islam itu.

Perlu dijelaskan di sini bahwa studi Islam di Amerika Serikat atau di Dunia Barat sebenarnya lebih menekankan aspek kultural Islam, dari pada aspek doktrinal. Untuk itu lebih ditekankan pada metodologi atau analisa terhadap kehidupan atau kebudayaan umat Islam. Pada titik inilah perguruan tinggi di Dunia Islam, termasuk di Indonesia, menghadapi kelemahan mendasar. Mereka piawai membaca ayatayat kitab suci, tapi kurang mampu membaca ayat-ayat kebudayaan dan peradaban umat. Maka pisau analisa terhadap yag terakhir inilah yang ingin dipelajari secara kritis dari universitas Dunia Barat.

Kami berenam semacam membagi diri dalam memilih universitas dan bidang minat. Azyumardi Azra dan Faisal Ismail ke Columbia University, New York, masing-masing memilih bidang sejarah; Qodri
Azizi dan Mulyadi Kartanegara ke University of Chicago, masingmasing memilih bidang pemikiran hukum Islam, dan teologi-filsafat Islam; Toha Hamim dan saya sendiri ke University of California Los Angeles (UCLA), masing-masing memilih bidang Bahasa Arab, dan pemikiran politik Islam.

Program ini dapat dikatakan berhasil. Keenam kami menyelesaikan studi Program Magister dengan baik dan tepat waktu. Kesemua kami (kecuali Toha Hamim yg melanjutkan dan menyelesaikan program doktor di McGill University, Montreal, Kanada) menyelesaikan studi program doktor di universitas masing-masing. Kami berenam kini sudah menjadi guru besar di almamater masing-masing. Prof. Azyumardi Azra pernah menjadi rektor dan kini Direktur Sekolah Pasca Sarjana, begitu pula Prof. Qodri Azizi, alm, pernah menjadi rektor sebelum menjabat Dirjen Binbaga Islam, Kemenag. Faisal Ismail pernah menjadi Sekjen Kemenag , sebelum menjadi Duta Besar di Kuwait. Toha Hamim menjadi Direktur Program Pasca Sarjana di kampusnya, dan Mulyadi Kartanegara menjadi ahli teologi dan filsafat Islam yang bisa dikatakan langka. Saya sendiri, selain tetap mengajar di kampus, juga diberi amanah memimpin ormas Islam Muhammadiyah.

Memperoleh kesempatan belajar di luar negeri adalah cita-cita banyak dosen muda. Tidak terkecuali saya yang pada waktu berangkat berusia 27 tahun. Maka kesempatan yang ada saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Setiba di Amerika Serikat saya, seperti semua Fulbrighter, mengikuti pre-academnic orientation di beberapa tempat selama beberapa minggu. Saya menempuhnya di University of Texas, Austin, sebelum kemudian memulai studi di UCLA pada Fall Quarter 1986.” (Bersambung . .)

chapter 2 : Diaspora membawa berkah catatan Prof Dien Syamsuddin ( bag 2 – selesai – )