Dakwah Kepada Anak Muda

Anak Punk, Sasaran Dakwah Islam
Oleh: KH Azhar Basyir M.A (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1990-1995)
Bangsa Kita Religius
Kita patut bersyukur karena bangsa Indonesia termasuk bangsa religius. Sebanyak 86% diantaranya memeluk Islam. Dalam kondisi seperti itu sekarang muncul gejala yang menggembirakan. Yaitu makin meningkatnya kehidupan beragama di kalangan anak muda. Mereka tampak lebih bersemangat dalam menjalankan agamanya. Gejalan ini membesarkan hati kita semua. 
Disamping gembira dan bersyukur, kita harus melihat masalah ini sebagai masalah yang serius. Anak muda itu senantiasa membutuhkan dakwah kita. Mereka membutuhkan pedoman yang jelas tentang apa yang harus mereka lakukan dalam beragama Islam. Masalahnya, berdakwah keada anak muda tidak mudah. Mengapa? kecerdasan mereka meningkat dan lebih cepat di banding waktu-waktu lalu. Mereka lebih terdididk dan lebih kaya akan informasi. Dengan demikian tampaknya untuk berdakwah kepada mereka tidak dapat lagi kita sampaikan keterangan tentang Agama Islam secara tradisional. Keterangan yang tradisinonal ini sudah tidak sesuai dan tidak mencukupi lagi.
Kepada mereka hendaknya kita sampaikan keterangan keterangan tentang Agam Islam yang dapat dicerna oleh pikiran mereka yang telah maju. Keterangan yang tepat bagi mereka yang telah terbiasa menyerap informasi dari berbagai sumber, dari media massa, koran, televisi atau lainnya. Anak muda ini telah menjadi bagian dari dunia yang sedang mengalami globalisasi.
Meski begitu, kita hendaknya tetap ingat bahwa di masyarakat kita, juga di kalangan anak muda, masih ada dan banyak yang membutuhkan dakwah dengan cara dan bahasa yang sederhana. Untuk kalangan seperi ini kita tidak tepat jika menyampaikan keterangan Agam Islam dengan cara dan bahasa yang tinggi dan sulit dimengerti.
Untuk ini kita bisa berpedoman kepada apa yang disampaikan Nabi Muhammad; “Bicaralah kamu sekalian kepada kaum dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan akal mereka”. Jadi jika cara dakwah kita tidak menggunakan bahasa yang sesuai dengan akal dengan akal orang yang didakwahi kita akan menemui kesulitan.
Pemikiran Islam.
Gejala lain yang akhir-akhir ini muncul, berbarengan dengan meningkatnya kecerdasan, khususnya dikalangan anak muda, adalah sering dilontarkannya pemikiran tentang Islam secara perseorangan. Bahkan cara melontarkan pemikiran Islam itu cenderung Liberal. Pelontaran pemikiran seperi ini seharusnya menuntut pula dihargainya pemikrian orang lain. Gambaran seperti ini mungkin merupakan gambaran dari masyarakat industri. Yaitu masyarakat yang cenderung bebas dan mengacu pada individualisme. Jadi pikiran-pikiran mereka pun cenderung individualistik.
Persoalannya apakah bisa dalam berpikir tentang agama kita bebas secara individualisti, secara bebas untuk kemudian kita mengatakan bahwa semuanya bermanfaat bagi pedoman beragama di masyarakat? ini harus menjadi perhatian kita bersama.
Alhamdulillah, dikalangan Muhammadiyah, semangat bermusyawarah masih tetap dipelihara. Dalam upaya melahirkan susatu pedoman kehidupan beragama dalam berbagai aspeknya kita selalu bersama-sama, tidak secara perseroangan. Tentu saja pedoman-pedoman yang dilahirkan secara bersama ini lebih mantap, dibandingkan pikiran yang dilontarkan secara persorangan.
Kearifan Tinggi.
Dalam kaitan itu Muhamamdiyah dituntut untuk menghadapi kemungkinan liberalisasi pemikiran Islami dengan kearifian tinggi dan penguasaan yang mendalam akan agama. Sebab geala munculnya pemikiran seperti itu sesungguhnya bukan hal yang baru. Pada akhir abad ke-19 dan awal ke 20 pemikiran keagamaan banyak muncul. Misalnya di India dan Mesir.
Hanya bedanya, kita sekarang, demikian juga anak mudanya. Berhadapan dengan makin majunya teknologi modern. Teknologi yang dapat memberi manfaat positif, tetapi juga berdampak negatif. Lebih-lebih teknologi yang berkaitan dengan industri media massa yang multi dimensional sifatnya. Dalam sekejap kita bsia menjangkau dunia luar.
Media massa yang mendunia inilah yang banyak mempengaruhi anak muda. Sayang media masssa milik ummat Islam masih kalah jauh dibanding milik ummat non-Islam. Kondisi seperi ini juga perlu kita fahami sebagai bahan pertimbangan berdakwah kepada anak muda. (saif/sp)

*Dikutip dari buku “Uswah Hasanah dalam Muhamamdiyah” oleh KH Azhar Basyir, M.A