Apakah Khabar Ahad Bisa Menghapus Ayat Al-Quran ?

Penanya: Apa dasar yang digunakan untuk menilai sebuah ayat itu telah dimansukh?
Ust Rifqi Arriza: Dasar untuk mengetahui nasikh mansukh adalah melalui riwayat, karena masalah nasakh mansuh bukan terkait dengan logika. Ia termasuk pembahasan yang “la majaala li al-ra’yi fihi”.

Nasikh-mansukh dapat diketahui melalui riwayat langsung dari Nabi Muhammad saw, bisa juga dari sahabat, atau tabiin yg belajar al-Quran kepada sahabat. Contoh hadis yang mansuh, yaitu konteks naskh sunah bi sunah tentang hadis ziarah.

Penanya: Adakah contoh nasih mansuh?

Ust Rifki Arriaza:
Berikut kami sampaikan contoh ayat yang dinasakh:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْواجاً وَصِيَّةً لِأَزْواجِهِمْ مَتاعاً إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْراجٍ
“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, [yaitu] diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah [dari rumahnya]..” (al-Baqarah: 240).

Ayat di atas dinasakh oleh ayat waris yang berbunyi:


وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَٰجُكُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّهُنَّ وَلَدٌۭ ۚ فَإِن كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌۭ فَلَكُمُ ٱلرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ ۚ مِنۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍۢ يُوصِينَ بِهَآ أَوْ دَيْنٍۢ ۚ وَلَهُنَّ ٱلرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِن لَّمْ يَكُن لَّكُمْ وَلَدٌۭ ۚ فَإِن كَانَ لَكُمْ وَلَدٌۭ فَلَهُنَّ ٱلثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُم ۚ مِّنۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍۢ تُوصُونَ بِهَآ أَوْ دَيْنٍۢ ۗ وَإِن كَانَ رَجُلٌۭ يُورَثُ كَلَٰلَةً أَوِ ٱمْرَأَةٌۭ وَلَهُۥٓ أَخٌ أَوْ أُخْتٌۭ فَلِكُلِّ وَٰحِدٍۢ مِّنْهُمَا ٱلسُّدُسُ ۚ فَإِن كَانُوٓا۟ أَكْثَرَ مِن ذَٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَآءُ فِى ٱلثُّلُثِ ۚ مِنۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍۢ يُوصَىٰ بِهَآ أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَآرٍّۢ ۚ وَصِيَّةًۭ مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌۭ
“Dan bagimu [suami-suami] seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau [dan] sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau [dan] sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki [seibu saja] atau seorang saudara perempuan [seibu saja], maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat [kepada ahli waris]. [Allah menetapkan yang demikian itu sebagai] syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (al-Nisa: 12).

Dulu, orang yang ditinggal mati suaminya, akan mendapatkan nafkah dari harta suaminya selama setahun, kemudian dinasakh dan diganti dengan warisan untuknya sebesar seperempat dan seperdelapan dari peninggalan suami.

Penanya: Berdasarkan keterangan di atas, berarti ada ayat al-Quran yang kandungan hukumnya sudah tidak berlaku lagi berdasarkan keterangan dari sebuah riwayat. Pertanyaannya, apakah artinya sebuah hukum yang terkandung dalam ayat al-Quran yang mutawatir bisa dihapuskan hanya berdasarkan informasi dari riwayat yang ahad?

Ust Rifki Arriza: iya, bisa.


Ustadz Muhammad Rifqi Arriza
Ketua PCIM Kairo