20 Kesalahan Mendidik Anak

Kesalahan adalah suatu hal yang wajar dalam kehidupan, dalam bidang
apa pun, entah kata-kata, tindak tanduk, pekerjaan, etika bermasyarakat,
dan bidang lainnya. Termasuk juga dalam mendidik anak. Namun kesalahan
itu bisa ditolelir pada hal-hal yang sudah terjadi, sementara yang belum
terjadi, seyogianya kita tidak pernah mengulang lagi kesalahan yang
sama untuk yang kedua kalinya. 
 
Karena itu, Muhammad Rasyid Dimas, ahli pendidikan anak dari al-Imarat University ini
mengingatkan para orang tua agar menghindari lalu Sehingga Nabi pernah
mengatakan bahwa semua orang bisa khilaf, dan sebaik-baik orang yang
berslah adalah yang bertobat. mun hal itu berlaku jika sudah terjadi.
lama manusia mau berpikir dan merenung tentang berbagai hal, selama itu
pulalah hikmah bertebaran di mana-mana dan sungguh mudah dipetik. Itulah
yang dilakukan oleh Maulana Wahiduddin Khan melalui bukunya ini.
Beragam peristiwa kehidupan yang boleh jadi dianggap remeh dan sepele
oleh sebagian orang, bagi tokoh yang ahli di bidang sains dan
studi-studi keislaman ini menjadi lautan hikmah yang sayang untuk
dilewatkan. Karena berbagai renungan dan pengamatan sosialnya yang
dituangkan dalam buku ini, insya Allah akan mampu mencerahkan dan
melejitkan kemampuan Anda. Dengan reputasi keilmuannya yang telah
teruji, penulis produktif ini menyajikan kupasan yang mengasyikkan
sekali perihal kiat-kiat meraih kesuksesan dalam hidup ini.
Dari beragam peristiwa kehidupan yang dijumpai dan
diamati Wahidudin Khan, penulis lebih dari 200 buku ini menyumbangkan
kearifan yang manis sekali bagi Anda, terutama bagi mereka yang gampang
murung dan lesu dalam menyikapi kegagalan dalam hidup. Padahal kegagalan
adalah hal biasa dalam kehidupan. Hanya bagaimana Anda menyikapi
kegagalan tersebut, sehingga bisa menjadi cemeti dan menjadi tangga
menuju kesuksesan. Itulah kunci yang dimiliki oleh banyak tokoh besar
yang lahir di dunia ini. Sukses gemilang yang berhasil mereka raih
justru buah dari kegagalan demi kegagalan yang menerpa mereka.
Dalam kehidupan manusia, hal yang paling penting
adalah kemauan untuk bertindak. Menurut Wahidudin Khan, itulah pelajaran
yang bisa diambil dari bangsa Jepang. Selain dijatuhkannya bom di kota
Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia Kedua pada tahun 1945, Jepang
juga sesungguhnya pernah dilanda guncangan yang sangat dahsyat, yaitu
gempa bumi di Kanto pada awal September 1923, sehingga menyengsarakan
seluruh penduduk di Jepang bagian timur.
Namun bangsa Jepang tidak mengalah pada rasa
kehilangan dan frustasi, dan tidak membuang-buang tenaga untuk melakukan
protes politik yang sia-sia, karena negara mereka telah dibom yang
menyebabkan keruntuhan dan kehancuran. Tetapi, seperti diketahui, mereka
mampu menguasai perasaan tertindas dan mulai merekonstruksi kehidupan
nasional mereka dengan sebuah keinginan dan cara. Meskipun gempa bumi
telah mengakibatkan kematian dan kerusakan, namun mereka mampu
menggembleng diri untuk membangun kehidupan mereka yang lebih cerah.
Dan kini Jepang telah menjadi suatu pusat aktivitas
teknologi, bahkan melejitkan dirinya dalam bidang industri melampaui
Inggris, Eropa dan Amerika. Menariknya lagi, mengingat Jepang tidak
memiliki sumber daya alam seperti yang dimiliki oleh negara-negara
industri maju lainnya.
Dari kasus Jepang ini, penulis kemudian mengurai
benang merah: bahwa kepuasan diri sendiri dan adanya perasaan nyaman
dapat menjadi faktor-faktor yang sangat merusak dalam proses kemajuan
seorang manusia selama hidupnya. Hal ini bukan berarti kesengsaraan itu
sendiri adalah sesuatu yang menguntungkan. Tidak. Ia justru merupakan
percikan api yang membakar jiwa seorang manusia dan menggerakkannya
untuk melakukan hal yang lebih besar.
Pelajaran hidup tidak hanya tersaji dari siklus
peradaban yang menerpa banyak bangsa di dunia—seperti Jepang itu, namun
hikmah kehidupan juga bisa dicomot dari lakon kehidupan yang dialami
oleh individu manusia. Misalnya dari seorang penjahit, yang dijumpainya
telah mahir sekali dalam menjahit. Kualitas hasil jahitannya sungguh
sempurna, baik terhadap orang yang mempunyai tubuh normal, maupun
terhadap mereka yang bertubuh kurang sempurna atau cacat—seperti
berbadan bungkuk. Dengan kemahirannya itu, si penjahit kemudian bisa
mengelola suatu toko yang makmur di jantung kota.
Namun prestasi yang diraih tukang jahit itu bukan
instan, melainkan hasil dari perjuangan yang lama dan cukup melelahkan.
“Saya telah meraih posisi seperti sekarang ini dengan menaiki anak
tangga dan bukan dengan ift,” ucap penjahit itu. Dan ujaran itulah yang
dicatat dan diingat betul oleh Wahiduddin Khan.
Untuk menggapai kesuksesan dalam hidup ini memang
bukan asal jadi dan serta merta jatuh dari langit. Tidak ada
tombol-tombol yang tinggal Anda tekan dan kemudian secara otomatis
meraih cita-cita Anda. Anda hanya dapat memperoleh kemajuan dengan
selangkah demi selangkah. Kemajuan jarang dapat diraih dengan sekali
lompatan dan hentakan. Dengan menggunakan sarana sebuah tangga, barulah
Anda dapat maju bahkan hingga Anda memiliki lift sendiri. Namun Anda
tidak dapat meraih kesuksesan hidup dengan mulai menaiki lift!
Percikan-percikan renungan seperti inilah yang bertabur dalam buku Psikologi Kesuksesan ini.
Anda beruntung bisa menyimak buku ini, karena Maulana Wahiduddin Khan,
penulis buku ini, sangat cerdas dan tangkas sekali dalam menggugah
pembacanya agar seluruh gelegak kehidupan ini dipandang secara positif.
Intelektual kelas dunia yang lahir di India ini mengobarkan optimisme
yang besar sekali, sehingga tak ada alasan bagi Anda untuk menghadapi
hidup ini dengan murung. Karena di balik jalan buntu yang menjegal Anda
dalam meniti hidup ini, sebetulnya jalan kesuksesan terbentang luas di
hadapan Anda.
________________
•  Dengan reputasi keilmuan yang teruji.
•  Melejitkan optimisme.
•  Mengkaji dengan radikal
•  Banyak masalah sepele, di mata penulis menjadi sesuatu yang berarti dan berlimpah hikmah.
•  Hikmah bertebaran di mana-mana selama manusia mau berpikir dan merenungi tentang segala hal.
Ditulis oleh Rosa Kusuma Dewi
sumber: nasyiah.or.id