Refleksi Sumpah Pemuda : Pesan Buya HAMKA kepada Angkatan Muda Islam

Rabu, 29/10/2014 – Angkatan Muda saya serukan, seruan yang saya sendiripun berjanji
hendak melaksanakannya pula, sebelum kamu, sekedar tenaga yang ada
padaku.

Kalian adalah harapan Islam di zaman depan.
Sebab itu pelajarilah Islam. Pelajarilah dasar aqidahnya sehingga
mantap, lalu kuatkan dengan ibadah, sampai menjadi darah daging.
Benamkan
dirimu kedalamnya sampai ideologi (Islam) itulah kekayaanmu. Hingga
kamu ridha melarat, ridah dikucilkan bahkan ridha mempunyai pendirian
sendiri di dalam menilai segala soal, walaupun orang kiri-kananmu tidak
berani lagi menyatakan pendirian itu.
Dengan tegaknya
aqidah, dikuatkan dengan ibadah, kian lama kian leburlah diri ke dalam
cita-cita. Sehingga kian tumbuhlah dalam jiwamu kepercayaan, kita
manusia ini hanya alat Tuhan belaka, buat menegakkan apa yang
diperintahkan-Nya.
Kalau orang komunis seperti Sudisman
berdiri tegak, dengan muka tenang menunggu hukuman mati, kalau Nyono
masih sempat bersyair seketika mendengarkan vonis, padahal mereka hendak
menghancurkan agamamu, mengapa kamu yang mempertahankan ajaran Allah,
menjaga agama pusaka akan ragu menghadapi segala kemungkinan di dalam
keyakinan?
Sebabnya ialah karena belum banyak yang membenamkan dirinya kedalam cita-citanya sebagaimana cita-cita orang komunis itu.
Islam
kita terima sebagai agama, dan kita marah kalau dikatakan tidak Islam.
tetapi Islam itu sendiri belum meresap ke dalam jiwa. Kita belum
merasakan lezatnya iman, kita belum merasakan nikmatnya ideologi.
Ketahuilah,
yang utama dalam menegakkan ideologi bukanlah mesti bergelar alim,
bukanlah harus ahli fiqh atau memiliki titel kesarjanaan, melainkan
karakter (Quwwatul-Khulqi). Orang yang dapat menghapal Qala Ta’ala, Qala
Rasulullah, menurut Imam Syafi;i begini, menurut Imam Hanafi begitu
belum tentu dapat mempertahankan agama kalau karakternya tidak ada.
Ideologi
menimbulkan iradah, cita2 menuju maksud yang mulia. Ideologi
menimbulkan harga diri yang jauh lebih mahal dari harta dan tahta.
Ideologi menimbulkan rasa khidmat dan kewajiban. Maka orang-orang yang
memiliki cita-cita ideologi tidak akan mau menukarnya walaupun dengan
harta dan kekuasaan.
Binalah diri ini terlebih dahulu
dengan memperdalam aqidah dan ibadah, perteguh hubungan dengan Tuhan.
dengan pertalian yang teguh dengan Tuhan, hadapilah tugasmu dalam hidup.
Maka apapun yang terjadi, kalian akan tetap merasa bahagia. Sebab didalam jiwa mu ada kekayaan.
(Rangkuman tulisan HAMKA dalam Artikel Panji Masyarakat; Benamkan Diri ke Dalam Cita-Cita…) (sp)