Spirit Qurban Untuk Kesejahteraan Ummat

Sebagai
sebuah bangsa yang besar, kita patut berbangga diri karena kita telah
69 tahun merdeka. Kita telah melalui masa-masa sulit pada masa
penjajahan Portugal, penjajahan Belanda, dan Penjajahan Jepang. Kita pun
telah melalui beberapa masa tertentu. Masa Orde lama telah kita lewati.
Demikian juga orde Baru. Sekarang kita masih tertatih-tatih dalam orde
reformasi yang telah kita jalani selama 16 tahun. Namun spirit reformasi
itu, selain ada positifnya juga mengandung distorsi.

Kita tentu saja
patut melakukan refleksi, evaluasi dan perenungan atas pengakuan
Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda), Kementerian Dalam Negeri
(Kemendagri), Djohermansyah Djohan, dalam diskusi otonomi daerah yang
merasa prihatin dengan kepala daerah yang dipilih secara langsung banyak
terjerat kasus korupsi. “Dari total 524 kepala daerah, 327 orang yang
terkena proses hukum, 86 persen di antaranya kasus korupsi,” paparnya
sebagaimana dikutip oleh batamtoday.com.

Angka 327 adalah angka yang
fantastis karena melebihi angka 62%. Sebagai rakyat tentu kita patut
bertanya dan mempertanyakan motif di balik keseriusan para calon
pemimpin di pilkada baik bupati/walikota maupun gubernur. Betulkah
mereka mengajukan diri menjadi pemimpin rakyat untuk melayani rakyat dan
umat atau untuk melayani kepentingan pribadi, keluarga dan golongan
mereka sendiri. Selama ini kita menyebut bahwa yang terkena kasus hukum
atau korupsi disebut oknum. Namun oknum biasanya hanya satu dua orang
dalam hitungan jari.

Angka 62% dan 86% adalah angka yang menunjukkan
mayoritas. Inikah mentalitas Negara berpenduduk mayoritas muslim se
dunia?? Benarkah kita telah mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya??
Benarkah kita telah meneruskan perjuangan para pahlawan Nasional
Republik Indonesia yang kita cintai? Seberapa dalam dan tulus cinta
kita? Betulkah kita mengabdi tulus untuk rakyat atau untuk diri kita
sendiri dan kroni?

Marilah kita merenungkan salah satu prediksi Nabi Saw
berikut ini:

سَيَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ هِمَّتُهُمْ
بُطُوْنُهُمْ وَ شَرَفُهُمْ مَتَاعُهُمْ وَ قِبْلَتُهُمْ نِسَائُهُمْ وَ
دِيْنُهُمْ دَرَاهِمُهُمْ وَ دَنَانِيْرُهُمْ اُولئِكَ شَرُّ اْلخَلْقِ لاَ
خَلاَقَ لَهُمْ عِنْدَ اللهِ

Akan datang kepada manusia suatu
masa, yang menjadi perhatian utama mereka adalah kebutuhan perut,
kebanggaan mereka adalah harta-benda, qiblat mereka adalah para wanita
dan agama mereka adalah dirham dan dinar (uang). Mereka itulah
seburuk-buruknya makhluk; mereka tidak mendapatkan apapun di sisi Allah.
[Riwayat al-Daylami dan al-Sulami dari Ali ibn Abi Thalib ra.]

Ujaran dan sabda Rasulullah ini tidak mengada-ngada mari kita lihat
sekeliling kita. Di saat rakyat kecil ngantri bahan bakar minyak (BBM),
ada pejabat terkait yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Ada juga
oknum yang menjual BBM secara illegal bermodus mafia di Batam. Menurut
Kepala PPATK, M. Yusuf, Cara kerja dan modus yang dipraktikkan Niwen
berjejaring dan tidak tunggal. Yusuf menyebut modus Niwen Cs bernuansa
mafia karena melibatkan PNS, pengusaha perminyakan, oknum PHL TNI AL,
oknum karyawan Pertamina dan lainnya.( id.berita.yahoo.com).

Kebocoran Anggaran Negara

Kasus-kasus yang terungkap hanyalah bagian kecil dari ratusan bahkan
mungkin ribuan kasus yang berpartisipasi dalam kebocoran anggaran Negara
hingga 45%. Ada yang menyebut bahwa anggaran Negara bocor hingga seribu
triliun. Jika hal ini benar maka upaya-upaya penyalahgunaan wewenang
untuk memperkaya diri dan golongan bukan isapan jempol. Suatu hal yang
jauh-jauh hari diwanti-wanti oleh Nabi Muhammad Saw:

و إني و الله ما أخاف عليكم أن تشركوا بعدي و لكني أخاف عليكم الدنيا أن تنافسوا فيها

Demi Allah, hal yang aku takutkan bukanlah kalian kembali kepada
kemusyrikan tapi aku khawatir kalian bersaing dalam memperebutkan dunia.
(H.R. al-Bani)

Boleh jadi umat Islam sekarang sudah tak
menyembah patung-patung dan berhala-berhala. Pada zaman sekarang berhala
itu sudah berwujud uang dan kekuasaan. Berhala inilah yang sejatinya
harus mendapatkan porsi yang jelas dalam khutbah Iedul Adha. Karena
Iedul Adha pada hakekatnya adalah menceritakan keluarga Ibrahim. Menurut
Ahmad Chodjim, Nabi Ibrahim adalah sosok pencari kebenaran. Sejak muda
ia kritis terhadap lingkungan hidupnya. Baik lingkungan social maupun
lingkungan fisiknya.

Ketika masyarakat kehilangan orientasi pada jalan
yang benar. Tatanan masyarakat yang korup dan hidup mereka yang
permisif. Ibrahim tampil menegakkan kebenaran. Dia melalkukan protes
terhadap system yang berlaku. Dia menjebol tatanan masyarakat yang tidak
sehat. Pada saat itu tatanan masyarakat sakit tersebut digambarkan
al-Qur’an sebagai penyembah berhala. Padahal yang sebenarnya terjadi
adalah rakyat sudah mendewakan raja dan para elitenya. Rakyat sudah
kehilangan kemerdekaan hidupnya. Maka ia tak segan-segan mendobrak
situasi yang beku dan menggugat moral yang dekaden.

Sedangkan Ismail
adalah kader penerus perjuangan Ibrahim. Ia lah yang meyakini dan
melanjutkan misi dan cita-cita luhur founding fathernya. Ia pemuda yang
menaati Allah dan berbakti kepada orang tuanya. Kedua ayah dan anak ini
adalah dua manusia yang mampu mengorbankan egonya masing-masing. Yang
dijadikan qurban memang domba tapi yang dikorbankan adalah ego atau
keakuan. Dan, orang yang sudah mampu mengorbankan egonya, maka
berdasarkan ujung ayat 37 dinamai dengan al-muhsinun. Orang yang
melakukan ihsan adalah mereka yang berbuat kebajikan karena Allah semata
(ikhlas).

Kriteria Ikhlas inilah yang membedakan qurban habil
diterima sedangkan qurban qabil di tolak. Dalam tafsir al-Baghawi,
diceritakan bahwa Qabil adalah seorang petani ia melakukan kurban hanya
sekedar mengugurkan kewajiban. Dalam hatinya ia bergumam ia tak
memikirkan qurbannya akan diterima atau tidak, yang ada dalam benaknya
adalah bagaimana dapat menikahi Iqlima. Dan Allah pun ternyata hanya
menerima qurban orang yang bersungguh-sungguh melaksanakan perintah
karena-Nya(5:27). Dan predikat kebajikan takkan diterima di sisi-Nya
kecuali dengan mendermakan sesuatu yang dicintai(3: 92). Bahkan ada
larangan mendermakan harta dengan memilih yang buruk (2: 267):

يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ
وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ
مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ (267)

Hai orang-orang yang
beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang
baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk
kamu. Dan jangan-lah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan
daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan
dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah
Mahakaya lagi Maha Terpuji. Setan men-janjikan (menakut-nakuti) kamu
dengan kemiskinan dan menyu-ruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang
Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah
Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 267-268).

Jadi, kurban sejati adalah kurban yang dilakukan dengan penuh
keikhlasan. Kurban sejati bebas dari pamrih atau pujian dari
lingkungannya. Dalam pandangan Achmad Chodjim, kurban demikian tentunya
sudah tidak memadai lagi bila diwujudkan dalam bentuk hewan-hewan
kurban. Kurban hewan hanya memberikan hiburan sesaat bagi mereka yang
tidak punya. Memang secara ekonomi pengurbanan berupa hewan akan
menguntungkan para peternak hewan qurban. Jika ini yang menjadi tujuan
kurban dalam Idul Adha, maka gugurlah makna utama yang terkandung dalam
Q.s 22: 36-38.
Lebih lanjut, menurut penulis Buku Hidup Penuh Makna
tersebut, Di zaman sekarang syiar Allah tidak perlu dibesar-besarkan
melalui pemotongan ratusan ribu hewan (sapi, kerbau, kambing,
biri-biri). Sudah waktunya lembaga-lembaga permasjidan mengelola dengan
benar setoran hewan qurban untuk kesejahteraan umat, membuka lapangan
kerja atau usaha kecil dan untuk menaggulangi kemiskinan. Sehingga tidak
semua hewan harus dipotong pada waktu hari-hari tasyrik Idul Adha.
Sebagian besar hewan dapat dijual kembali dan uangnya dikelola dengan
penuh amanah dan ketakwaan. Uang hasil setoran hewan qurban itu dimenej
secara modern oleh orang-orang yang muhsin yang memiliki keterampilan
dalam bidang manajemen. Dalam bahasa sekarang, dana kurban itu harus
dikelola secara professional.

Dengan memahami ayat 36 dari Surah
al-Haj, qurban yang kita lakukan tidak hanya bersifat konsumtif, karena
permasalahan social kemanusiaan tak selesai dengan pembagian daging
kepada orang miskin baik yang meminta atau tidak. Tujuan lebih lanjut
dari qurban adalah agar pelakunya menjadi orang bersyukur. Dalam bahasa
keseharian kata syukur diberi akhiran “an” sangat akrab ditelinga kita.
Acara syukuran sering dilakukan umat muslim dalam momen-momen tertentu
seperti pernikahan, khitanan, pindah rumah, kesuksesan karir atau ulang
tahun (milad). Biasanya diisi dengan acara makan-makan mengundang
sahabat, mitra, tetangga, kerabat dan yang lainnya. Acara-acara itu
merupakan symbol sebagaimana ucapan tahmid. Karena syukut yang
sebenarnya adalah usaha untuk meningkatkan nilai tambah. Pada masa lalu
kurban unta akan meningkatkan perekonomian yang berasal dari peternakan
unta. Bukan hanya orang-orang miskin yang diuntungkan secara lahiriah,
tapi juga para peternak hewan kurban.

Keuntungan yang diperoleh para
penjual hewan kurban, sebagian dapat digunakan sebagai sedekah atau
zakat dan sebagian lainnya digunakan untuk meningkatkan nilai bisnis
hewan kurban. Ada siklus ekonomi umat yang dibangun melalui system
pengurbanan hewan pada waktu Iedul Adha.
Dari berbagai sumber

Penulis
Abu
Nafiza anggota MTT PDM subang-Jabar