Rekonstruksi Nilai-nilai Muhammadiyah di Kampus UMM

Beberapa waktu yang lalu kita sempat dihebohkan dengan berita dari UIN Sunan Ampel Surabaya yang mengangkat tema kontrofersial pada acara ospek. “Tuhan ‘Membusuk’; Rekonstruksi Fundamentalis menuju Islam Kosmopolitan”, merupakan tema yang sempat ditanggapi dengan pelaporan ke Polisi oleh FPI Surabaya. 
Saya tidak mau sepenuhnya menyalahkan tema tersebut apalagi mengatakannya itu sesat, karena saya yakin, ada makna dibalik tema tersebut ditambah lagi dengan kenyataan bahwa mereka berasal dari Fakultas Usluhuddin dan Filsafat. Terlalu gegabah rasanya ketika kita menyimpulkan hal tersebut sebagai suatu penghinaan, dengan background pendidikan bukan dari filsafat.
Pada postingan kali ini, saya akan mencoba membuat plesetan dari tema tersebut, tapi ini akan lebih berfokus pada Organisasi Muhammadiyah dan kampus saya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Rekonstruksi Nilai-nilai Muhammadiyah di Kampus UMM.”, merupakan judul postingan saya kali ini. Saya tidak bermaksud sama sekali untuk menghina Muhammadiyah karena bagaimana pun saya dewasa dan besar di Muhammadiyah. Saya hanya ingin mencoba untuk menyimpulkan dan meluapkan kegundahan saya terhadap posisi Muhammadiyah di UMM, sekalipun juga bisa menjadi kritikan buat kita bersama sebelum kritikan itu datang dari orang lain.
UMM Sebagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah pasal 7 ayat 1 mengatakan “Untuk mencapai maksud dan tujuannya, Muhammadiyah melaksanakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan.” kemudian dilanjutkan pada ayat 2 “Usaha Muhammadiyah diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program, dan kegiatan yang macam dan penyelenggaraannya diatur dalam ART.”
Ketika kita membuka Anggaran Rumah Tangga (ART) Muhammadiyah, pada dasarnya ada 14 macam amal usaha yang ingin diwujudkan oleh Muhammadiyah. Ketika kita mengamati ke-14 amal usaha tersebut kita dapat mengklasifikasikannya menjadi 8 lahan garap dan salah satunya adalah Pendidikan. Berbicara tentang Pendidikan dan Muhammadiyah tentunya tidak diragukan lagi bagaimana peran dan aksi Muhammadiyah dalam ranah yang satu ini. Mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi, dan dari Sabang sampai Merauke, Muhammadiyah telah memberikan sumbangsih besar untuk Bangsa Indonesia khususnya di sektor pendidikan. Di tanah “Arema” sendiri berdiri sebuah PTM yaitu Universitas Muhammadiyah Malang yang eksistensinya dalam membangun pendidikan tidak perlu dipertanyakan lagi.
UMM Sebagai Lahan Perkaderan atau Lahan Penghasil Uang..?.

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi berbasis “Perkaderan” tentunya harus terus mengepakkan sayapnya sebesar mungkin untuk menjangkau semua kalangan di masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut dibuatlah beberapa Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah yaitu: Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiyatul Asyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Kepanduan Hizbul Wathan, dan Tapak Suci. Ke-7 Ortom Muhammadiyah tersebut diharapkan mampu menjadi perpanjangan tangan Muhammadiyah dalam perkaderan di berbagai kalangan di masyarakat.
Selain disokong dari berbagai Ortom Muhammadiyah diatas, Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sebagai salah satu ranah dalam AUM, tentunya memiliki tanggung jawab yang sama. Tanggung jawab untuk menjadi lahan perkaderan Muhammadiyah. Namun, semuanya terasa berbeda ketika kita berada di UMM. Sebagai PTM, UMM menjadi sangat liberal dalam hal pembumian nilai-nilai Muhammadiyah. Sebagai penguat saya akan membeberkan beberapa fakta yang saya rasakan selama kuliah setahun di UMM:
1. Mahasiswa baru di UMM tidak diperkenalkan tentang apa itu Muhammadiyah..?, posisi Ortom di AUM, dan bagaimana sikap sebagai Mahasiswa di PTM.
2. Penanaman nilai-nilai Muhammadiyah dan ke-Islam-an sangat kurang dan minim. Sehingga, wajar ketika di UMM kita masih bisa menjumpai mahasiswi dengan pakaian yang 11-12 dengan selebritis kelas kakap.
3. Mata kuliah AIK dan pelaksaan Kuliah Ahad Pagi (KAP) masih belum cukup maksimal dalam hal penanaman nilai ke-Muhammadiyah-an maupun ke-Islam-an.
Beberapa fakta yang saya rasakan di atas tentunya sangat melemahkan dan memberatkan pergerakan perkaderan yang menjadi salah satu tujuan Muhammadiyah. Namun, hal-hal di atas tentunya akan sangat memperlancar sumber pemasukan UMM dalam hal segi biaya. Dengan hal-hal tersebut, tentunya tidak menjadi masalah lagi buat para kader organisasi lain untuk memasukkan anaknya di UMM karena kurangnya penanaman nilai-nilai Muhammadiyah.
Ada 1 fakta lagi yang saya rasa bisa menjadi penguat. Di UMM terdapat sebuah gedung pertemuan dengan kapasitan hingga 8.000 orang bernama UMM Dome. Gedung tersebut, dengan segala fasilitas dan kebesarannya tentu bisa digunakan untuk berbagai acara besar termasuk “Konser Musik”. Dalam beberapa kejadian, di UMM Dome dilaksanakan Konser Musik yang menurut saya sangat-sangat melenceng dari posisi UMM sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang lebih dalam lagi sebagai ranah dakwah Islam. Entah pemikiran jenis apa yang digunakan oleh Pimpinan UMM sehingga konser-konser jenis ini bisa lolos masuk di UMM. Apakah karena mereka sanggup bayar biaya penyewaan gedung..??. Kalau begitu timbul pertanyaan besar “UMM Sebagai Lahan Perkaderan atau Lahan Penghasil Uang..?”.
IMM Sebagai Anak yang Tak Dikenal.
Posisi UMM sebagai PTM sudah seharusnya menjadi lahan subur bagi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dalam mejalankan misi perkaderan Muhammadiyah. Lahan subur dalam artian tidak ada lagi kendala teknis dalam hal menjalankan misi perkaderan tersebut, mengingat secara ideologi maupun tujuan sama-sama mengarah ke maksud dan tujuan Muhammadiyah. Tentunya dengan label PTM yang dimiliki UMM harus bisa menjadi bantal empuk buat IMM, berbeda ketika di UB, UIN, UM, dan kampus-kampus lain yang berlabel PTN. Dimana secara posisi IMM masih harus bersaing dengan organisasi kemahasiswaan lainnya.
Dalam Qaidah Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), sudah dijelaskan tentang posisi IMM dalam PTM, yaitu di Bab X Pasal 39 Ayat 3; “Organisasi Mahasiswa dalam Perguruan Tinggi Muhammadiyah yaitu Senat Mahasiswa dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.” Sehingga akan sangat lucu ketika Pengenalan IMM dalam acara Pesmaba FEB-UMM tahun 2014 “dihapuskan” dengan rasionalisasi bahwa ketika IMM dapat kesempatan untuk perkenalan maka organisasi mahasiswa lainnya juga harus diberikan kesempatan. Secara kasat mata organisasi mahasiswa selain IMM memang tidaklah begitu tampak di UMM, namun ketika kita sedikit saja mau jujur dan berani untuk menampakkannya, maka akan terlihat bagaimana permainan cantik ala mafia tingkat internasional.
Permainan pemimpin PTM yang begitu sangat tidak profesional inilah yang kemudian menghambat pergerakan IMM di PTM. Ketika seorang pemimpin PTM yang sangat condong kepada organisasi semasa mudanya dibiarkan, maka wajar ketika IMM masih harus bergelut dan berjuang untuk mengembalikan posisinya. Saya sempat miris ketika melihat dan mendengar beberapa argumen mahasiswa dan bahkan jajaran dosen dan dekanat yang mengatakan IMM itu adalah UKM, LSO, dan sebutan-sebutan lain yang sangat tidak sesuai dengan Qaidah PTM.
Permasalah diatas inilah yang kemudian membuat IMM tidak dikenal di rumah sendiri. Sehingga, sangat perlu menjadi pertimbangan buat PW maupun PP Muhammadiyah untuk mengangkat pemimpin PTM haruslah benar-benar kader dan pernah berjuang di Ortom Muhammadiyah. Saya akan mengutip kalimat KH. Ahmad Dahlan yang saya tujukan kepada seluruh Pemimpin di Muhammadiyah “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah.”
Penulis Oleh: Andi Akbar Tanjung
Andi.akbar17@gmail.com / www.andiakbar.com

September 30th 2014
Malang, East Java – Indonesia
at Kamar Kost tercinta.
( kiriman tulisan pembaca sangpencerah.id)