Muhammadiyah Tidak Perlu Repot dengan Kurikulum 2013

Pengamat pendidikan Darmaningtyas menertawakan adanya integrasi nilai agama dalam semua mata pelajaran. Dalam diskusi ‘Mengawal Implementasi Kurikulum 2013′ di Jakarta Pusat, Selasa (26/8/2014) beliau berkomentar kepada Medan Bisnis (online), “Saya kebetulan membantu merumuskan kompetensi di mata pelajaran seni dan budaya. Ada penilaian K1 (spiritual-red). Lucu sekali, seni dan budaya dikaitkan dengan religiusitas. Rumusan pelajaran itu seperti pelajaran agama. Semua berlandaskan agama. Kita jadi seperti kembali ke abad kegelapan, satu-satunya kebenaran adalah agama.”
Minimnya pemahaman agama membuat beberapa pihak kebingungan, termasuk Sekjen Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti yang turut hadir dalam acara tersebut, “Misal olahraga bola besar harus dikaitkan dengan K1 dan K2 (sosial-red), itu ketakwaan. Bagaimana mengukur servis bola voli dengan ketakwaan? Kami sampai bercanda ini seperti teologi. Karakter apa yang mau dibangun seperti ini?”
Hal ini tentu tidak boleh terjadi pada guru-guru di sekolah Muhammadiyah khususnya dan sekolah Islam pada umumnya, seperti Hidayatullah, Al-Irsyad, maupun NU. Sekolah Islam sudah sejak awal berusaha mengintegrasikan nilai Islam ke dalam pendidikan, bahkan boleh dibilang itulah tujuan pendidikan Islam sesungguhnya. “Tujuan pendidikan Islam adalah pembentukan akhlak yang dilakukan melalui proses pembinaan secara bertahap” (Muh. Athiyah Al-Abrasyi, 1974).
PENTINGNYA PENDIDIKAN AGAMA
Banyak pihak yang mengeluhkan meningkatnya jumlah dan skala kenakalan remaja dan mensinyalir permasalahan itu berakar dari kurangnya pendidikan moral atau agama baik di sekolah lebih-lebih di rumah. Pendidikan yang dimaksud tentu bukan hanya berupa ceramah guru, melainkan juga penanaman pemahaman melalui interaksi sehari-hari, teladan guru, adanya hadiah dan sanksi dari guru maupun orang tua, dan sebagainya.
Contoh pendidikan yang interaksional adalah saat siswa membuang sampah sembarangan, guru langsung menegur dengan lemah lembut, mengajak siswa melihat bagaimana dampaknya bila sampah menumpuk di selokan dan menyebabkan banjir, mengotori lingkungan, atau mencemari sungai. Guru juga wajib memberikan teladan, misalnya dalam hal istiqomah berpakaian menutup aurot tidak hanya di sekolah tapi juga di rumah. Jangan sampai siswa mendapati ustadzahnya melepas jilbab saat belanja di pasar dengan alasan seragam hanya perlu dikenakan di sekolah. Atau sesekali sekolah memberikan penghargaan bagi siswa yang dianggap paling jujur di masing-masing kelas, sebab biasanya yang dihargai adalah prestasi akademiknya, dan sebaliknya menghukum siswa yang mencontek supaya tertancap dalam hati kebencian pada sikap curang.
BAGAIMANA INTEGRASI KARAKTER ISLAM
Lalu bagaimana pendidikan itu hendak diajarkan dalam pelajaran non-normatif? (Normatif adalah pelajaran yang menyiapkan kompetensi kepribadian) Inilah beberapa petunjuknya.
  • Guru harus sadar bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menghamba kepada Allah, menjadikan seluruh hidupnya sebagai ibadah kepada-Nya (QS Adz Dzariyat 56), maka sedikitnya guru harus bisa menarik nilai manfaat dari ilium yang diajarkannya untuk Islam. Misalnya, makan dan minum untuk apa? Untuk kesehatan, karena Allah memerintahkan kita untuk menjaga kesehatan, berolahraga untuk apa? Agar badan kuat, karena Allah mencintai Muslim yang kuat, tidur untuk apa? Supaya memenuhi hak badan, karena Nabi memerintahkan Muslim untuk hidup seimbang. Masing-masing terdapat dalilnya baik dalam Al-Qur’an maupun hadits.Lebih jauh lagi, saat berolah raga dipilih jenis olah raga yang sunnah seperti bela diri, berkuda, berenang, memanah, atau bersepeda, mendaki gunung, panjat tebing/pohon, dan menembak sambil menanamkan bahwa tujuan berolah raga salah satunya adalah untuk bersiap jihad fii sabilillah.
  • Mengingat pentingnya niat, maka setiap di awal kegiatan belajar mengajar guru harus meluruskan kembali niat siswa setidaknya dengan mengajak membaca basmallah secara keras dan boleh juga diikuti dengan bacaan doa yang sesuai, seperti doa mau belajar. Bila dibacakan arti dan maknanya, siswa malah akan lebih menghayati doa yang dipanjatkannya itu.Meluruskan niat juga bisa dengan mengingatkan akan tujuan belajar dan manfaatnya baik di dunia maupun akhirat, jadi semacam pengarahan. Metodenya bisa berupa tanya jawab atau lainnya tergantung kreativitas guru. Jangan lupa, di akhir pertemuan pun bisa dilakukan pelurusan niat saat bersama bersyukur dan mengucapkan hamdallah.
  • Mengintegrasikan itu tidak harus semua kegiatan dicari dalilnya dalam Al-Qur’an atau hadits, sebagaimana anggapan pembicara yang awam di atas. Namun juga berbeda dengan menyisipkan ayat atau istilah jawa-nya gathuk mathuk(kebetulan sama kemudian dipasangkan).Mengislamkan bukan mengarabkan, artinya istilah dalam IPA atau Matematika tidak perlu diubah menjadi bahasa Arab seperti bangsa Barat mengubah nama-nama Islam seperti Ibnu Sina menjadi Avicenna karena ketidakfasihan lidah demikian juga sebaliknya. Yang diubah cukuplah pendekatannya, yakni menjadikan pemanfaatan ilmu tersebut selaras dengan tujuan Islam, sebagaimana pesan Nabi, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni). Artinya bagaimana guru mendorong murid untuk menerapkan ilmunya supaya berguna, baik dengan mengajarkannya kembali kepada adik kelasnya, mengajak mereka melakukan penghijauan di rumah, membantu petani menentukan masa panen yang baik, dan masih banyak lagi.
Tentu saja masih banyak konsep lain yang bisa dikembangkan atau bahkan sudah dikembangkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Kita hanya perlu saling berbagi dalam sebuah forum atau media bersama sehingga terjadi percepatan kebangkitan ummat Islam. Oleh karena itu, Muhammadiyah dan sekolah-sekolah Islam lainnya tidak perlu heboh dengan datangnya kurikulum 2013 ini karena justru pendidikan Islam telah mempeloporinya. Demikian pula kalau kurikulum seumur jagung ini kelak akan diganti, jangan sampai kita kehilangan identitas pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap sendi kehidupan dan sekolah.
Mari berlomba dalam kebaikan!
penulis: Gilig Pradhana
*adalah aktivis Muhammadiyah yang mengidamkan pendidikan yang revolusioner. Dulunya pernah menjadi Kepala SMK di Jember, kini mengikuti pelatihan guru di Hyogo University of Teacher’s Education, Jepang. Punya rumah di www.gilig.wordpress.com

( kiriman tulisan pembaca sangpencerah.id)