Muhammadiyah Memandang Islam Berkemajuan ( Persfektif Teologis )

Sebagai gerakan Islam yang menjadikan dakwah dan tajdid sebagai peran
dan fungsi utamanya, Muhammadiyah sejak awal berdirinya merupakan
gerakan Islam yang berkemajuan. Jadi, ideologi Muhammadiyah itu adalah
ideologi gerakan yang berkemajuan. Memasuki abad kedua dari
pendiriannya, Muhammadiyah tidak hanya perlu merevitalisasi konsep
“Islam berkemajuan” (Islam progresif) dalam formulasi dan aktualisasinya
yang lebih mapan dan holistik, melainkan jugs perlu
mentransformasikannya ke dalam kehidupan “Indonesia berkemajuan”.


Kita meyakini bahwa Islam yang kita anut ini adalah agama yang unggul
atau berkemajuan dan tidak tertandingi keunggulannya (al-Islamu ya’lu
walaa yu’la alaih), namun perilaku umatnya tidak selalu mencerminkan
keunggulan dan kemajuan Islam. Islam itu agama rahmat bagi semesta
(rahmatan lil ‘alamin), namun tidak semua pengikutnya memahami dimensi
dan aktualisasinya dalam kehidupan nyata. Islam ideal clan Islam faktual
tidak selalu berbanding lurus karena Islam itu memang
“terhalangi/terhambat” oleh orang Islam itu sendiri (al-Islamu mahjubun
bil muslimin).

Masalah utamanya kemudian adalah bagaimana Islam
berkemajuan itu dapat ditransformasikan dan diaktualisasikan ke dalam
“Indonesia berkemajuan?” Paham teologi seperti apakah yang dapat menjadi
landasan dalam transformasi “Islam berkemajuan” ke dalam Indonesia
berkemajuan di masa mendatang?

Memaknai Islam sebagai Rahmatan li
al-‘alamin, barangkali ini kuncinya. Kata Islam berasal dari kata kerja
aslama-yuslimu yang artinya menyerah, tunduk, atau patuh (submission)
dengan sepenuh hati, tulus ikhlas, dan setia. Kata aslama ini mempunyai
beberapa derivasi yang memberi karakter ajaran Islam, yaitu: salamah
(keselamatan), taslim (penyerahan), salam (kedamaian, kesejahteraan),
sullam (titian/tangga) dan silm artinya perdamaian.

Implikasi
teologis dari makna Islam tersebut adalah, pertama, seorang Muslim harus
menyerahkan diri (tunduk dan patuh) secara total terhadap Allah sebagai
pembuat syari’at (Muslim harus taat, bukan berbuat maksiat). Kedua,
Muslim harus bersikap dan berperilaku damai, tidak berlaku kekerasan
dan kerusakan di muka bumi (Muslim itu cinta damai). Ketiga, cita-cita
dan orientasi hidupnya ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan lahir
dan batin, dan kebahagiaan dunia akhirat. Keempat, beragama Islam
mengharuskan meniti tangga (memiliki etos jihad) dalam rangka mewujudkan
keselamatan, kedamaian, kemuliaan,dan kebahagiaan bagi semua.


Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Qs. Al-Anbiya’ [21]: 107, adalah
agama rahmah (kasih sayang). Kerahmatan Islam tidak hanya diperuntukkan
bagi pemeluknya semata, melainkan diperuntukkan bagi seluruh makhluk
yang ada di semesta raya. Rahmah adalah kasih sayang yang tanpa pamrih
yang bersifat memberdayakan. Salah satunya adalah senang melihat orang
lain sukses dan tidak menderita, bukan sebaliknya. Jadi, agama rahmah
adalah agama yang mengembangkan kasih sayang tanpa membedakan agama yang
dipeluk, asal usul etnis dan kebangsaan serta kelas sosial.

Allah
telah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh manusia agar mereka
mengambil petunjuk atau syari’at Allah. Manusia tidak akan mendapatkan
petunjuk-Nya, kecuali yang bersungguh-sungguh mencari keridlaan-Nya.
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami,
benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,”
(Qs. Al-‘Ankabut: 69). Sebagai wujud nyata dari rahmat Islam adalah
bahwa ketika Rasulullah berdakwah di Thaif dilempari batu hingga
berdarah kakinya, Malaikat berkata: “Jika engkau menginginkan agar aku
menimpakan gunung ini kepada mereka, niscaya aku akan laksanakan. “Maka
Rasulullah saw bersabda: “Ya Allah, berilah hidayah pada mereka karena
sesungguhnya mereka belum mengetahui.” lalu Jibril berkata: “Maka benar
Allah yang menamakanmu ra’ufur rahim.

Sebagai rahmatan Ii
al-‘alamin, rahmat Islam mengandung nilai kelembutan hati yang
mengharuskan berbuat kebajikan kepada yang dirahmati. Sebagai agama
rahmah, Islam mempunyai dan mengembangkan karekter dan nilai-nilai;
seperti nilai saling mengingatkan (Qs. Ali Imran [3]: 104. Qs. Al-Ashy
[103]:1-3), peduli clan saling memberdayakan jasmani dan ruhani), sikap
welas asih, tidak keras kepala, dan punya tradisi syOrA dalam
menyelesaikan berbagai masalah (Qs. Ali Imran [3]:159 clan 191).
berj4a’izzah/penuh kewibawaan (Qs. A]-Maidah [5]: 54). berpaham
keagamaan moderat dan dapat memberikan teladan: tidak permisif dan tidak
kaku dalam menjalankan syariah (Qs. Al-Baqarah [2]: 143 dan Qs.
AI-Fatihah [1]: 6-7). pasrah dan siap diatur oleh Islam (Qs. Al-Baqarah
[2]: 128).- (Muhbib Abdul
Wahab/SM-15/sp)