Meneladani Bapak Tauhid, Ibrahim ‘alaihis salam

Jum’at 10 Oktober 2014 
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah
salah satu nabi dan rasul yang paling mulia. Nama beliau disebut Allah Subhanahu
wa Ta’ala
dalam Al-Qur’an sebanyak 69 kali. Tersebar dalam 26 surat; 17
surat-surat Makkiyah dan 8 surat-surat Madaniyah. Terbanyak disebut dalam surat
Al-Baqarah (15 kali), kedua dalam surat Ali Imran (7 kali), ketiga dalam surat
An-Nisa’, Al-An’am, Hud dan Al-Anbiya’ masing-masing 4 kali, selebihnya antara
tiga, dua dan satu. Bahkan ada satu surat dalam Al-Qur’an yang dinamai dengan nama
Ibrahim ‘alaihis salam sendiri, yaitu surat ke-14.
Surat Ibrahim diturunkan di Makkah sebelum
Hijrah, terdiri dari 52 ayat. Meskipun dinamai dengan Ibrahim, surat ini tidak
sepenuhnya berisi tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Bahkan nama
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam hanya disebut satu kali, yaitu pada ayat 35,
mengawali serangkaian doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang berlanjut
sampai ayat 41. Berikut ayat pertama dari tujuh ayat tersebut, Allah Subhanahu
wa Ta’ala
berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim
berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman,
dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”
(Q.S. Ibrahim [14]: 35)

NASAB NABI
IBRAHIM ‘alaihis salam
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berasal dari
Haraan (sekarang tempat itu terletak di Propinsi Nashiriyah, Iraq), kemudian
pindah ke Babilonia. Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang nama bapak Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam. Menurut Ibnu Sa’ad rahimahullah, namanya Tarah
bin Nahur bin Sarukh bin Arghuwa bin Faligh bin ‘Abir bin Syalikh bin
Arfakhsyad bin Sam bin Nuh. Sedang menurut Ibnu Jarir At Tabari rahimahullah,
namanya Azar. Sebagaimana disebutkan Allah Subhanahu
wa Ta’ala
dalam Al-Qur’an:
“Dan (ingatlah) di waktu
Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, “Pantaskah kamu menjadikan
berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu
dalam kesesatan yang nyata.”
(Q.S. Al An’am
[6]:74)
 KETAATAN
NABI IBRAHIM ‘alaihis salam
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam telah diberi hidayah
oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala semenjak beliau masih kecil. Sehingga meskipun
orangtua dan lingkungannya musyrik tidak sedikitpun berpengaruh kepada keyakinannya
dalam mentauhidkan Tuhan pencipta alam semesta. Allah Subhanahu wa
Ta’ala
berfirman:
“Dan sesungguhnya telah
Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan
adalah Kami mengetahui (keadaan)nya.”
(Q.S. Al Anbiya’
[21] : 51)
Menyikapi kemusyrikan yang
menyebar di masyarakatnya, Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam
dengan tegas menolak kemusyrikan
yang dilakukan oleh kaumnya tersebut. Keyakinan dan tindakan mereka
mempertuhankan bintang-bintang, bulan dan matahari, bahkan membuat
berhala-berhala untuk disembah adalah kemusyrikan yang wajib ditinggalkan. Allah
Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ketegasan sikap Nabi Ibrahim ‘alaihis salam terhadap kemusyrikan tersebut dalam ayat berikut:
“Sesungguhnya aku
menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan
cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan.”
(Q.S. Al-An’am [6] : 79)
Hari Raya ‘Idul Adha tidak
bisa dilepaskan dari sejarah ketaatan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam adalah figur
pemimpin yang senantiasa taat kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala
setiap saat. Karena
ketaatannnya yang terus menerus itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
dengan ummatun qanitan. Qanit artinya dawamuth tha’ah,
yakni selalu istiqamah di dalam ketaatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman:
“Sesungguhnya Ibrahim
adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan
hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan
(Tuhan).”
(Q.S. An Nahl [16] : 120)
Bermodalkan dengan husnudhan
billah
(berprasangka baik kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala
) apapun perintah-Nya selalu
ditaati sekalipun dangkalnya akal manusia tidak dapat menjangkaunya.
Diantara sekian banyak
perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dikerjakan dengan ketaatan, ada dua hal yang
sangat menakjubkan, yaitu:
1.
Meninggalkan
istri dan anaknya diantara bukit Shafa dan Marwa yang tandus lagi kering
kerontang. Peristiwa ini dikisahkan Allah Subhanahu
wa Ta’ala
sebagai berikut:
“Ya
Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah
yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang
dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,
maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah
mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
(Q.S. Ibrahim [14]: 37)
Istri
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam (Hajar) dan anaknya (Ismail ‘alaihis salam) yang
ditinggalkan di tanah tandus kenyataanya juga tidak terlantar dan bahkan
tertolong. Bahkan kini peristiwa Hajar yang naik turun bukit Shafa dan Marwa
untuk mencari air minum anaknya tersebut justru diperagakan jutaan jamaah haji
dalam proses sa’i.
Selain
sa’i masih banyak lagi prosesi manasik haji yang merupakan peragaan simbolik
meniti jejak Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Seperti meminum air zam-zam, shalat di belakang maqam
Ibrahim ‘alaihis salam, berdoa atau shalat di hijr Ismail.
2.
Membenarkan
mimpi nubuwwah agar menyembelih putranya (Ismail ‘alaihis salam). Kisah
tersebut dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai berikut:
“Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa
aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai
bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

(Q.S. Ash Shaffat [37] : 102)
Kemuliaan
dunia dan akhirat akhirnya diperoleh Nabi Ibrahim ‘alaihis salam karena ketaatannya
pada agama tanpa membantah. Termasuk peristiwa penyembelihan Ismail ‘alaihis salam (yang ternyata
diganti Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyembelih hewan ternak) ini juga diabadikan
Allah ‘Azza wa Jalla dalam syariat Qurban yang dilaksanakan kaum
muslimin seluruh dunia setiap tahunnya. Melempar jumrah dalam prosesi haji juga
keteladanan yang diambil dari peristiwa penyembelihan Ismail ‘alaihis
salam
yang saat itu digoda oleh syetan agar melawan
perintah ayahnya untuk disembelih.

PELAJARAN
DARI IBRAHIM ‘alaihis salam
Dari uraian yang telah lalu,
kita para generasi penerus Islam ini seharusnya dapat mengambil pelajaran dari
Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Diantaranya sebagai berikut: (1) Memiliki tauhid yang
lurus dan jauh dari syirik. Karena Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam
adalah “Bapak Tauhid” kita; (2) Selalu
taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sanggup menjalankan semua perintahnya apapun
resikonya; (3) Selalu beramar makruf nahi munkar. Nabi Ibrahim ‘alaihis
salam
sangat intens dalam bernahi munkar sehingga menghadapi
berbagai macam bahaya termasuk dibakar hidup-hidup oleh raja yang zalim; (4) Selalu
memiliki kemauan yang keras, pantang menyerah dan tentu saja dengan disertai
kesabaran yang tinggi untuk mencapai ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala; (5) Selalu bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
meskipun meninggalkan istri dan putranya di padang tandus. Tapi
karena semuanya diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka semuanya berakhir dengan khusnul khatimah; dan (6) Dimuliakan
oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala baik di dunia
maupun di akhirat karena ketaatannya yang mutlak tanpa mengenal batas kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wallahu a’lam bish shawab
Oleh:
H. Sholahuddin Sirizar, Lc, M.A
Ketua
Majelis Tarjih&Tajdid PW Muhammadiyah Jawa Tengah,
Direktur
PonPes Muhammadiyah Imam Syuhodo Blimbing Sukoharjo,
Dosen
Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Surakarta