Memelihara Agama dengan Shalat


Jum’at 10 Oktober 2014 

Sebagai seorang muslim, tugas utama
kita dalam hidup di dunia ini adalah mengabdikan
diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

وَمَا خَلَقْتُ الْـجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku
.” (Q.S.
Az-Zariyat [51] :56)
Salah
satu bentuk pengabdian seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla
adalah dengan shalat. Shalat
dalam agama Islam sangatlah penting. Dia bagaikan pentingnya kepala bagi
tubuh. Tentunya seseorang tidak akan bisa hidup tanpa kepala. Orang yang
memelihara shalat
maka agamanya juga akan
terpelihara. Begitu pula sebaliknya, orang yang meremehkan shalat maka agamanya pun akan rusak pula. 
Umar
bin Khatab radhiallahu
‘anhu
berkata, “Sungguh perkara terpenting bagiku
adalah sh
alat. Barang siapa yang memeliharanya maka
terpeliharalah agamanya.
Barang
siapa yang menyia-nyiakannya maka yang selainnya akan menjadi sia-sia.“
 
Tidak
ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat. Karena kunci surga adalah shalat, miftaahul jannati as shalah. Orang yang meremehkan shalat, maka dia akan meremehkan syariat Islam. Orang yang meremehkan shalat, maka dia akan meremehkan Allah
Subhanahu wa Ta’ala
,
dia juga akan
meremehkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, dia akan meremehkan jihad fii sabilillah, dan dia akan meremehkan iqamatuddin. 
Orang
yang meremehkan shalat, orang
yang mengakhirkan shalat dari waktunya, orang yang melaksanakan shalat dengan
tidak menjaga kekhusyukan, serta orang (laki-laki) yang tidak menjalankan shalat
wajib dengan berjama’ah di masjid,
maka ia tidak akan
serius  menjalankan tugas hidup atau
menjalani misi hidup yang sesungguhnya. Bagi
mereka hidup hanya berkisar antara makan, tidur, mencari makan dan selebihnya
berpindah dari satu hiburan ke hiburan yang lain, dari satu kesenangan menuju
kesenangan yang lain seakan hanya untuk
itulah mereka diciptakan.
Orang
yang meremehkan shalat
tidak akan terbuka mata hatinya untuk melihat penderitaan saudara-saudara
muslim lainnya diberbagai belahan dunia yang kenyang dengan penindasan demi
mempertahankan keyakinannya. Tanah mereka dijajah, hak mereka dirampas,
kehormatan mereka dilecehkan, nyawa mereka dipertaruhkan bahkan banyak yang
harus meregang nyawa dengan cara-cara yang tidak wajar dan biadab.

 

Kita
lihat Suriah
hari ini, Gaza
yang kembali memanas, puluhan
ribu nyawa harus melayang, ribuan lainnya cacat dan cedera, jutaan nyawa anak
terancam, ribuan anak menjadi yatim, jutaan anak putus sekolah, lebih dari
empat ratus gedung sekolah hancur, serta ratusan ribu harus mengungsi. Darah dan air mata terus dialirkan
oleh kelompok- kelompok yang memusuhi 
Islam.
 

Apa yang sudah kita lakukan?! Sudah sejauh mana kepedulian
kita terhadap saudara kita?! Apa yang sudah kita berikan untuk membantu mereka
sebagai bukti keimanan kita?! Sadarlah dan buka mata kita kemudian lihatlah
mereka yang dibantai adalah saudara kita. Mereka yang dibunuh adalah saudara
kita. Mereka yang direnggut kehormatannya adalah juga saudara kita. Jangan
sampai kita menjadi orang yang tidak peduli kepada sesama muslim yang menderita
sebagai dampak nyata dari perbuatan meremehkan shalat.
Seorang muslim yang meremehkan shalat akan dengan mudah
melanggar aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meremehkan ajaran
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka akan dengan mudah
melakukan kezaliman, sehingga kezaliman dengan aneka bentuknya terpampang di
mana-mana. Keadilan begitu sulit ditegakkan. Kejujuran menjadi sesuatu yang
langka akibat kepiawaian dalam memutarbalikkan fakta.
Hari
ini betapa banyak kezaliman
tertutup oleh fasihnya lisan bicara, berapa banyak keburukan terpoles oleh
indahnya susunan kata-kata. Ada lagi yang merasa aman bertingkah dosa lantaran
bisa sembunyi dibalik manisnya lidah dalam berkata-kata, membantah meski jelas-jelas bersalah. Bermain kata untuk menutupi dusta dan
tak jarang mencari kambing hitam untuk mengalihkan tuduhan dosa kepada orang
lain. Korupsi harta yang bukan miliknya. Manipulasi data agar berbeda dari aslinya. Berbagai kolusi dan semisalnya adalah
contoh betapa banyak kejahatan ini terselubung oleh pandainya seseorang
beralasan dengan lisannya.
Suami
yang meremehkan shalat,
suami yang malas ke masjid, suami yang mengerjakan shalat dengan qaamuu kusaalaa -mereka yang melakukan dengan malas- berdiri dengan malas, maka dia akan
meremehkan amalan yang lain. Dia
juga akan meremehkan
istri dan anak-anaknya. 
Seorang
istri  yang meremehkan shalat, dia akan meremehkan suaminya,
dia akan meremehkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia akan meremehkan Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wasallam
,
dia akan meremehkan jihad, dia akan meremehkan iqomatuddin, dia
akan meremehkan jilbab,
dia akan meremehkan
pendidikan anak-anaknya, dan dia akan meremehkan perintah Allah Subhanahu
wa Ta’ala
dan ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Anak-anak yang meremehkan shalat, anak-anak yang
mengabaikan shalat, tidak mungkin dia akan menjadi anak-anak yang birrul
walidain
-berbakti pada orangtuanya, cinta kepada bapaknya, cinta kepada
ibunya, karena shalat telah ia remehkan, perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah ia abaikan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah ia
remehkan, ia tidak bisa berbakti kepada orangtua, tidak akan menjadi anak yang wabil
waalidaini ihsaana –
yang berbakti pada kedua orangtuanya.
Guru
yang meremehkan shalat,
akan menjadi guru yang mengabaikan nilai-nilai moral dalam pendidikan, sehingga moral anak didiknya tidak akan terbangun.
Pejabat
yang meremehkan shalat
akan menjadi pejabat yang zalim,
menguras harta rakyat dengan dalih pembangunan. Menumpuk harta untuk modal melanggengkan kekuasaan.
Tegaknya
syariat Islam yang rahmatan lil’aalamin, hanya bisa terealisiasi dengan usaha kita. Yang
kita mulai pertama kali dengan membenahi diri kita masing-masing. Kemudian
membenahi keluarga dan membenahi masyarakat dengan senantiasa memakmurkan
masjid dalam suasana shalat berjamaah. Bertemu dengan saudara-saudara seiman
dan se-Islam, 5 kali sehari kita datangi masjid, di waktu subuh, dzuhur, ashar,
maghrib dan isya’. Insya Allah ini akan menjadikan kita mudah dalam
mengembangkan serta meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala
dan pada akhirnya dapat memasuki surga-Nya. 
Di dunia ini mungkin kita bisa mendapatkan harta tanpa
kesengajaan. Mungkin juga kita bisa mendapatkan pekerjaan secara kebetulan atau
meraih jabatan tanpa perencanaan. Akan tetapi kita tidak bisa mendapatkan surga
atau jannah secara kebetulan. Jannah
tidak pula bisa didapat dengan undian. Akan tetapi harus ada unsur
kesengajaan. Sengaja untuk mencari jalan, sengaja untuk menempuh perjalanan,
serta sengaja harus
dengan gigih
berjuang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ
أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَـهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ
سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke
arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah
orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.”
(Q.S. Al Isra’ [17] :19)

 

Dan
selanjutnya kita harus sadar bahwa hidup
itu laksana berdiri di escalator (tangga
berjalan).
Meski seseorang diam tanpa gerakan, akan sampai juga di tempat pemberhentian. Begitulah kita
manusia menjalani
kehidupan. Suka atau tidak suka, aktif ataupun diam dari amal kebaikan tetaplah
kita akan sampai pada kematian. Selanjutnya
berpindah pada kehidupan yang sangat panjang. Saat itu manusia akan
mempertanggungjawabkan kesempatan
yang telah diberikan di dunia.
Sekecil apapun perbuatan tersebut pasti
akan menuai balasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
خَيْرًا يَرَه وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan
seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya
. Dan barangsiapa
yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya pula
. (Q.S. Al-Zalzalah [99]
: 7-8)
Pada saatnya kelak kita dihadapkan pada pengadilan Allah
Subhanahu wa Ta’ala
. Kita dikumpulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
di padang mahsyar seperti berkumpulnya kita ditanah lapang yang luas. Di mana
pada saat itu lisan tak kuasa lagi bicara, tak mampu memungkiri kejahatan yang
dilakukan sekujur tubuhnya. Dan seluruh tubuh tak lagi berpihak pada keinginan
manusia tapi menuruti dan taat pada perintah rabbnya. Sebagaimana ditegaskan
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya:
الْيَوْمَ نَـخْتِمُ عَلَى
أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بـِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami
tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu
mereka usahakan.”
(Q.S. Yasin [36] :
65)
Alasan
apa lagi yang bisa dikemukakan bila catatan amal sudah diperlihatkan?! Semua tercatat rapi dan teliti
tanpa satu pun yang ditinggalkan. Kilah apa lagi yang bisa diucapkan lidah jika
anggota tubuh lain sudah bersaksi?!
Lidah dibungkam tak mampu bersuara. Sementara
tangan dan kaki membeberkan semua yang diperbuat selama di dunia.

 

Kini semuanya terpulang kepada kita, jadi hamba Allah Subhanahu
wa Ta’ala
yang taat atau ahli maksiat. Manusia yang semangat mendulang pahala atau
tenggelam dalam lumpur dosa.
Memelihara shalat
atau meremehkannya. Yang pasti semua akan ada catatan dan saksinya dan pasti
kita akan dapatkan balasannya.
 

Semoga
Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa membuat hati kita condong kepada kebenaran
dan dimudahkan melakukan ketaatan. Wallahu a’lam.

Oleh: Nafsir Aspan, M.Si

 

Ketua PR Muhammadiyah Kauman
Guru SD Muhammadiyah
Wonorejo Cab. Blimbing Sukoharjo – Jateng