Kader Muhammadiyah Kok Jarang Menulis Buku?

Ahmad
Rizky Mardhatillah Umar *)
Syahdan, Kyai Dahlan dulu pernah
berpesan, “Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan
Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi
Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut
ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. Menjadilah dokter
sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan
(propesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu.
Kemarin, saya menemani Bapak ke sebuah
toko buku Muhammadiyah di bilangan Kauman. Toko bukunya memang sudah sering
saya datangi, tetapi kali ini ada sesuatu yang mengusik hati: soal buku-buku.
Seperti biasa, ketika masuk ke toko buku, saya langsung bertemu dengan
buku-buku “kemuhammadiyahan”: serial idelogi-nya Haedar Nashir,
sejarah cabang dan ranting, pengajian, hingga materi-materi ibadah mahdhah. Selain
itu, ada banyak buku agama, baik dari penerbit yang berafilasi dengan
Muhammadiyah maupun dari organisasi lain. 
Mungkin karena profesi yang saya tekuni
sekarang menuntut saya untuk banyak menulis dan membaca literatur, saya jadi
tertarik untuk memberikan catatan soal buku-buku ini. Muhammadiyah dikenal
banyak punya universitas dan sekolah. Konsekuensinya, dosen dan profesornya
juga pasti banyak. Tentu saja karena jangkauan Muhammadiyah yang memang
mensional dengan struktur organisasi “raksasa”, universitas itu
tersebar di seluruh Indonesia. Wajar jika Muhammadiyah kemudian dikenal sebagai
organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia: jumlah universitasnya besar,
mahasiswanya berdatangan dan keluar setiap tahun. 
Namun, agak ironis ketika saya datang ke
toko-toko buku Muhammadiyah, saya mendapati sesuatu yang kosong: ternyata tidak
banyak buku-buku ilmiah yang ditulis baik oleh kader, civitas akademika di
Universitas-Universitas Muhammadiyah, maupun para peneliti yang
berkolaborasi/menulis tentang Muhammadiyah.
Ada dua toko buku Muhammadiyah di Kauman
yang menjual buku-buku Muhammadiyah. Namun, dari dua toko buku berlantai dua
tersebut, saya tidak menemukan banyak buku-buku “ilmiah” atau hasil
riset. Yang saya temukan, selain buku-buku “ideologis” tersebut,
justru bertolak belakang dengan semangat “Islam Berkemajuan” yang
dibawa Muhammadiyah: buku “harakah”, zikir, maupun polemik-polemik fiqh ibadah yang seharusnya sudah
selesai melalui forum Tarjih.
Minim
Produksi Pengetahuan?
Ini fenomena yang agak menyedihkan. Baru
dua bulan yang lalu, di sebuah Konferensi di UIN Ciputat, saya bertemu dan
berdiskusi dengan Prof. Mitsuo Nakamura, seorang Indonesianis asal Jepang yang
banyak menulis tentang Muhammadiyah. Beliau memuji, sedikit banyaknya,
perkembangan Muhammadiyah yangbegitu pesatnya terutama di Yogyakarta (beliau
menulis tentang Muhammadiyah di Kotagede). Namun, agaknya perkembangan pesat
Muhammadiyah ini justru tidak dibarengi oleh pengembangan sumber daya dan basis
pengetahuan yang kuat.
Hal ini bisa dilihat pada satu masalah
yang sering dikeluhkan oleh warga Muhammadiyah: “hilangnya” kader dan
masjid Muhammadiyah ke tangan gerakan lain yang juga berebut kader muda: PKS,
contohnya. 
Bagi saya, kekhawatiran dan keluhan yang
berulang-ulang disampaikan di forum-forum perkaderan Muhammadiyah tersebut sebetulnya
berlebihan dan, semestinya, diselesaikan dengan evaluasi dan perbaikan
internal. Jujur saya akui bahwa saya adalah salah satu “warga”
Muhammadiyah yang dulu sempat tertarik ke salah satu harakah. Selepas lulus
kuliah dan berdinamika dengan banyak entitas, saya justru baru sadar bahwa
persoalannya tidak sepenuhnya terjadi karena “kader yang lari” atau “ideologi
yang keropos” (seperti sering disinggung pak Haedar), melainkan juga karena
dinamika zaman yang kini semakin penuh tantangan.
Persoalan yang dihadapi oleh banyak kader
muda Muhammadiyah, berkaca pada pengalaman saya, sebenarnya sederhana: tidak
banyak wadah artikulasi yang diberikan oleh Muhammadiyah sehingga akhirnya
kader banyak yang lari.Tidak adanya wadah artikulasi itu mungkin bukan salah
kader-kadernya, tetapi bisa jadi soal kegagapan lembaga menghadapi
tantangan-tantangan zaman yang semakin berkembang. 
Fenomena yang saya contohkan di atas
sebetulnya agak menemukan kedekatan dengan fenomena yang saya contohkan di toko
buku Muhammadiyah di Kauman tersebut. Saat ini, kita menghadapi pertarungan
wacana yang begitu kuat, baik dalam hal media maupun produksi pengetahuan.
Banyak gerakan-gerakan Islam yang merespons pertarungan wacana ini
denganproduksi buku dan wadah pengkajian. Akibatnya, toko buku Muhammadiyah
banyak diserbu oleh buku-buku harakah Ikhwanul Muslimin, Salafi, dan
sebagainya.
Sementara itu, apa yang disediakan oleh
Muhammadiyah? Bisa jadi, sedikit buku tentang Muhammadiyah yang diproduksi
melalui Suara Muhammadiyah dan itu pun dengan skala produksi dan jangkauan yang
tidak luas, desain dan konten yang bisa jadi tidak begitu menarik di mata anak
muda. 
“Diaspora”
Intelektual Muhammadiyah
Di sisi lain, saya menemui sesuatu yang
“paradoks”: banyak buku yang ditulis oleh intelektual dan anak-anak
muda Muhammadiyah yang justru diterbitkan oleh Gramedia,  PustakaPelajar,  Ombak, Paramadina,  hingga di penerbit di
luar negeri semacam ISEAS, Routledge, atau Palgrave (ini terjadi pada disertasi
para intelektual yang hasilnya bagus), tapi justru tak mendapatkan tempat
pembacaan di kalangan internal Muhammadiyah! Kajian mereka menjadi
“asing” justru di Muhammadiyah sendiri.
Padahal, apa yang mereka lakukan
sebetulnya justru mengikuti “wasiat” KH Ahmad Dahlan yang sayakutip
di atas. Buku-buku mereka justru saya temukan di Social Agency dan Gramedia.
Nama-nama mereka, mungkin semacam Zuly Qodir, Najib Burhani, Zakiyuddhin
Baedhowy, atau banyak nama lainnya, lebih sering terdengar di luar
Muhammadiyah, tapi jarang disebut di, misalnya, pengajian malam selasa yang
notabene dikelola oleh Majelis Tabligh Muhammadiyah.
Kita pun akhirnya menemukan satu fenomena
baru: ada semacam “diaspora” bagi intelektual-intelektual Muhammadiyah yang tak
terwadahkan dalam Persyarikatan, baik di Komunitas maupun struktur
organisasional.
Padahal hal ini penting di masa depan. Semestinya,
kita bisa sama-sama lebih paham bahwa di masa yang akan datang, pergulatan
pemikiran Islam ini bakal jauh lebih hebat. Intelektual-intelektual muda
Muhammadiyah, baik dari kalanhgan progresif macam JIMM maupun yang lebih “Salafi
macam Majelis Pemikiran Islam mungkin perlu ruang yang mestinya hadir di Muhammadiyah.
Suara Muhammadiyah harus menjadi lebih dari sekadar penerbitan majalah ataupun
“buku ideologi” dan, secara lebih ekspansif, memproduksi wacana dan
pengetahuan.
Saya kira, dengan modal sumber daya yang
dimiliki sekarang, toko buku Muhammadiyah harus memproduksi pengetahuan.
Hasil-hasil riset yang dilakukan di Universitas Muhammadiyah mestinya
diterbitkan oleh Muhammadiyah sendiri. Lebih jauh lagi, Muhammadiyah harus
punya jurnal. Sehingga, “akademisi” di Muhammadiyah bukan hanya
bekerja di amal usaha, tetapi juga memproduksi pengetahuan yang, meminjam
istilah Profesor Kuntowijoyo, bisa mencerahkan dan membebaskan umat
Islam. 
Dua
Agenda untuk Muktamar
Maka, ada dua hal penting yang harus menjadi
bahan pikiran dan otokritik pada Muktamar Muhammadiyah yang akan digelar tahun
2015 mendatang. 
Pertama, mengoptimalkan lembaga Litbang atau
Pengembangan Pemiikiran Islam di PP Muhammadiyah tidak hanya pada fungsi
internal, tetapi juga pengembangan pengetahuan. Muhammadiyah mesti
“mewadahkan” para peneliti dan pemikir di dalamnya agar bisa
produktif menghasilkan pengetahuan. Hal ini tidak hanya di wilayah pengkajian
Islam, tetapi juga secara interdisipliner dan melibatkan ilmu-ilmu yang lebih
luas. Tak ada yang meragukan bahwa Muhammadiyah tentu tidak kekurangan
akademisi dan peneliti. Muhammadiyah hanya perlu wadah bagi mereka untuk
mengartikulasikan inisiatif akademik-intelektualnya, dan secara kelembagaan ini
perlu dikembangkan di struktur Muhammadiyah.
Kedua, Muhammadiyah juga perlu punya penerbitan,
baik penerbitan ilmiah ataupun Komunitas. Mungkin, Muhammadiyah perlu belajar
dari “tetangga sebelah”, NU, yang punya LKiS walau juga tidak begitu
kental afiliasinya dengan NU. Muhammadiyah perlu memikirkan untuk, misalnya, punya
Muhammadiyah University Press yang
profesional dan akademik untuk menerbitkan hasil-hasil penelitian para
akademisi di dalamnya. Atau, misalnya, Suara Muhammadiyah bisa lebih difokuskan
untuk menjadi penerbitan Komunitas.
Dengan demikian, produksi pengetahuan
menjadi terlembaga dan punya output yangj elas. Hal ini akan
mendorong kader-kader muda Muhammadiyah untuk giat menulis dan berpikir.
Selama ini, kita mungkin punya beberapa
penerbitan semacam UMM Press yang dikelola oleh Universitas Muhammadiyah
Malang, Al-Wasath yang dikelola aktivis Muhammadiyah di Jakarta, atau
mungkin beberapa jurnal macam Tsaqafa (milik LSBO PP Muhammadiyah) dan
jurnal pribadi semacam Muhammadiyah Studies yang dikelola mas Najib
Burhani.
Hal semacam ini sebetulnya positif.
Namun, satu hal juga perlu dicatat: model penerbitan ini terkesan
“avonturir”, tercecer, mengandalkan inisiatif personal, dan lepas
dari Muhammadiyah secara struktural. Kita perlu wadah penerbitan yang
profesional dan bisa mengakomodasi tantangan intelektual ke depan.
Ala Kulli Hal, saya berharap
Muktamar Muhammadiyah ke depan tidak hanya menjadi wadah perebutan kepentingan
politik, tetapi juga bisa menjadi semacam wadah pertemuan untuk mengembalikan
ruh Muhammadiyah sebagai organisasi pergerakan ‘moderen’ Islam terbesar
diIndonesia. Alangkah sayangnya jika Muhammadiyah punya nama yang besar, tapi
potensinya tidak dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh.
Nashrun Minallah wa Fathun Qariib. 

*) Ahmad Rizky
Mardhatillah Umar
saat ini bekerja sebagai Asisten Peneliti di ASEAN
Studies Center, Universitas Gadjah Mada dan aktif dalam forum-forum pengajian
Muhammadiyah. Ia bisa dihubungi via
ahmad.rizky.m@mail.ugm.ac.id