AL-QUR’AN Sebagai Media Dialog Rohani

Bagi seorang Muslim, dalam mrnghadapi kitab suci Al Qur’an dipakailah cara berpikir deduktif yakni bahwa AI-Qur’an adalah “benar” seratus persen dan menjadi “sumber kebenaran” yang perlu dijabarkan serta dipraktikkan berupa tampilan hidup sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai masuk tidur lagi. Mengapa demikian? Berikut ini antara lain yang menjadi sebabnya.

Bahwa menurut keyakinan seorang
Muslim, hidup ini perlu
senantiasa dikaitkan dengan Tuhan, dalam hal ini Allah SwT. Keyakinan ini didasarkan keyakinan, bahwa manusia tidak lebih dari makhluk (sesuatu yang diciptakan)
dan Penciptanya adalah Allah SwT. Karena sebagai
makhluk ciptaan, maka merupakan sebuah
kemestian kalau manusia taat dan patuh kepada Penciptanya, yaitu Allah
SwT. Apakah kalau manusia mesti harus taat itu lalu ketaatannya sekedar
“taat” begitu saja tanpa makna yang agung di belakangnya? Bahwa Allah
SwT adalah Maha Kaya dan Maha Terpuji dan andaikata
manusia tetap tidak mau bersyukur dan bahkan sampai kufur, yakni tidak
mengakui adanya Allah SwT, maka sebenarnya
Allah SwT tetap Maha Kaya dan Maha Terpuji (Qs. Luqman [31]:12). Dengan
demikian kalau pihak manusia mau bersyukur dan mengakui adanya Allah SwT pada
hakikatnya kemanfaatannya akan kembali kepada
pihak manusia itu sendiri, bukan untuk Allah SwT. Bahwa Allah SwT ticlak
memerlukan pemberian apa pun dari makhluk-Nya, terutama dari manusia (Qs.
Luqman [31]: 12).

Bahwa Allah SwT di depan manusia adalah bersifat
ghaib, dalam arti tidak dapat dideteksi atau dilacak keberadaan-Nya lewat peralatan fisik, seperti dengan memakai
penglihatan (mata), pendengaran
(telinga), pembauan (hidung), pencecapan
(lidah), dan perabaan (kulit). Sementara itu, dalam setiap detiknya
manusia perlu secara terus-menerus melakukan
komunikasi ke hadirat Allah SwT clan bahkan dikatakan bahwa sebenarnya keberadaan Allah SwT itu teramat dekat
dengan manusia yang cligambarkan lebih dekat daripada
urat leher manusia itu sendiri (Qs. Al Waqi’ah [56]: 85 dan Qs. Qaf
[50]:16). Lalu bagaimana caranya agar pihak manusia dapat langsung
berkomunikasi ke hadiratAllah SwT.

Seperti tercermin dalam sifat Rahman-Rahim-Nya,
Allah SwT berkenan Firman-Nya lewat pewahyuan kepada Nabi Muhammad saw diubah
menjadi aksara/huruf yang terbaca. Dalam bahasa yang lebih sederhana Firman
Allah SwT telah berubah menjadi aksara/huruf yang terbaca, yaitu Kitab Suci
Al-Qur’an. Kalau Rasulullah saw dapat berkomunikasi dengan Allah SwT lewat
malaikat Jibril, yaitu ketika proses menerima wahyu,
justru umat Islam yang menjadi pengikut Rasulullah saw dapat langsung
berkomunikasi dengan Allah SwT lewat Kitab Suci AI-Qur’an. Dalam kondisi apa
saja umat Islam bisa komunikasi dengan membaca Al-Qur’an, dengan mencermati ayat-ayat
Al-Qur’an yang relevan dengan kepentingan dan memahami
pesan-pesan yang termuat dalam ayat-ayat tersebut. Komunikasi langsung
kepada Allah SwT ini bersifat kerohanian atau
hidayah (0s, Al-Baqarah [2]: 2-3) yang wujudnya
bisa berupa tangkapan pikiran yang jernih, temuan ilmu yang bermanfaat, kilatan-kilatan inspirasi
yang positif, temuan cara-cara
pemecahan masalah. pencerahan (hati merasa
menclapat pencahayaan yang menyebabkan segala hal menjadi jelas),
kemantapan (hati menjadi sangat stabil), keteduhan
perasaan, dan ketenangan hati. Itulah sebabnya dalam Al-Qur’an
ditegaskan bahwa Al-Qur’an itu menjadi obat (syifaa’un) dan rahmat (rahmatun)
bagi orang yang beriman kepada hal-hal yang gaib (Qs. Al-Isra’ [17]: 82).

Dalam ilmu Studi Tentang Agama-agama (the Study of
Religious) dikatakan bahwa kokohnya keberadaan sesuatu agama, di samping ditentukan oleh kewibawaan tokoh pembawanya,
juga sangat ditentukan oleh ketangguhan ajaran-ajaran
yang dimuat dalam Kitab Suci agama bersangkutan.
Kalau ajaran-ajaran yang dimuat dalam Kitab Suci agama tertentu tangguh
(dalam arti ticlak cepat aus ketika menghadapi kemajuan zaman dan pikiran
manusia sepanjang sejarah), dapat
ditafsirkan ajaran-ajarannya di mana clan kapan saja, dan luwes (dapat
diamalkan dalam segala kondisi, situasi, dan keperluan), maka agama yang
memiliki Kitab Suci yang demikian itu dapat dipastikan akan berumur panjang dan
lestari. Namun, kalau ketiga ciri ini tidak dimiliki sesuatu Kitab Suci, maka
dapat diduga agama yang memiliki Kitab Suci semacam
itu akan gampang goyah, berubah-ubah ajaran, dan dapat menjurus ke arah kemusnahan. 

Alhamdulillah, Kitab Suci
Al-Qur’an dengan seterang-terangnya memiliki ketiga ciri tersebut, yaitu tangguh. senantiasa dapat ditafsiri, dan luwes pengamalannya (Qs, AI-Hijr [15]: 9).
Kekuatan huruf, kosa kata, kalimat,
dan pesan yang termuat dalam Al-Qur’an senantiasa sanggup menantang terhadap
tantangan kemajuan manusia dalam kesejarahannya.
baik di Timur maupun di Barat. Dewasa
ini sekalipun mesin komputer telah sangat membantu kemajuan spektakuler
umat manusia dalam hal ilmu pengetahuan
(sains) dan teknologi, baik dari segi
jumlah/kuantitas maupun mutu kualitas, namun Al-Qur’an siap menantang
terhadap seluruh bentuk tantangan kemajuan tersebut, apalagi dalam hal-hal yang
menyangkut urusan kerohanian umat manusia. Oleh sebab itu, umat Islam yang
dewasa ini berada di tengah-tengan hingar-bingarnya kesibukan zaman yang
berkemajuan ini justru perlu berdialog rohani
dengan Tuhan Pencipta langit dan bumi ini, yaitu Allah SwT lewat
membaca, memahami. mengamalkan, dan menghayati
isi pesan-pesan Al-Qur’an secara intensif. Kalau hal ini menjadi
kebiasaan, betul-betul luar biasa.

Wallaahu a’lam bishshawab. 

Dr
Mohammad Damami, MAg