Al Qur’an Pedoman Hidup

Al-Qur’an, siapa menyangkal. Kecuali orang awam dan picik pikiran, semua tunduk di bawah kemukjizatan Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang segala yang berdimensi fisik dan moral. Tidak pula Al-Qur’an sekadar memaparkan berbagai fenomena natural-keilmuan. Satu-satunya kitab yang mampu menyingkap semua peristiwa supranatural, berada di luar prediksi intelektual, menjangkau alam astral, menyingkap tabir spiritual, bahkan meneropong misteri setelah semesta ini gulung tikar, itulah Al-Qur’an.

Tepatlah ungkapan yang menyatakan bahwa umat Islam harus kembali kepada Al-Qur’an. Adakah kemajuan peradaban diraih, tanpa berpayung spirit Al-Qur’an? Kurang gamblang apa kisah seputar kaum Nuh, Ad, Tsamud, Sadum, Madyan, Bani Israil, dan Saba. Peradaban mereka luluh lantak akibat meludahi ajaran suci Al-Qur’an. Kaum Jahiliah juga bertekuk lutut di bawah panji-panji Al-Qur’an. Tunggulah sebentar lagi kerontokan peradaban bangsa-bangsa di dunia yang hari ini mulai peringisan dengan sinyal-sinyal Al-Qur’an.
Sekali lagi, tidak ada lain bagi umat Islam, kecuali harus rujuk dengan Al-Qur’an. Boleh jadi umat Islam selama ini kurang, bahkan sama sekali tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan. Manusia modern lebih senang bersandar pada perhitungan hati dan akal. Mereka kerap lupa kalau keduanya tidak akan pernah memberikan jawaban pasti. Jika hati hanya berpihak pada pilihan bersifat moral, akal hanya akan mampu mengatasi persoalan serba fisikal. Tanpa bimbingan Al-Qur’an, keduanya juga sangat potensial terpengaruh oleh dorongan nafsu dan bisikan setan yang binal.
Mustahil rujuk dengan Al-Qur’an, tanpa meningkatkan intensitas interaksi dengannya. Jangan lagi Al-Qur’an hanya sebagai pajangan. Apalagi sebatas digunakan sebagai mantra pengusir setan, yang ditempelkan di Binding atau bagian atas pintu masuk rumah. Ada tiga model dan tingkatan interaksi dengan Al-Qur’an: Tilawah, Qiraah, Tadarus.
Tilawah ialah melafalkan bunyi huruf Al-Qur’an. Ini tingkat terendah, dan paling banyak dilakukan umat Islam. Tilawah tidak mensyaratkan pemahaman, kecuali sebatas melisankan. Jika demikian, berarti yang lumrah dilakukan setiap pembukaan acara, seperti wallmah, sidang, pertemuan, clan serupanya itu, lebih pas disebut Tilawatul Qur’an. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) bergerak di ranah ini. Berbagai metode pelatihan membaca Al-Qur’an, seperti lqra, Al-Barqy, Granada, Tahrir, Ummi, Qiraatus Sab’ah, Tahajji, Qiraati, juga bermaksud menjadikan murid mampu melakukan Tilawah dengan baik dan benar. Peranti ilmunya ialah tajwid, makharijul huruf, gharaibul Qur’an.
Lebih tinggi dari tilawah ialah qiraah. Dalam bahasa Indonesia, berarti membaca. Tentu membaca tidak harus dilafalkan atau dilisankan. Yang terpenting ialah adanya pemahaman terhadap apa yang dibaca. Tidak banyak umat Islam yang mampu Qiraah. Butuh pemahaman bahasa Arab. Sebab itu, semua pesantren dan lembaga pendidikan Islam, pasti mengajarkan bahasa Arab. Tujuannya jelas, agar murid mampu Qiraah, sehingga memahami isi Al-Qur’an. Jangan khawatir. Di era modern ini, AI-Qur’an sudah diterjemahkan ke dalam aneka bahasa. Dengan begitu, umat Islam yang kurang paham bahasa Arab, bisa mengerti maksud Al-Qur’an lewat bahasa lokal.
Tetapi, selain sebagai referensi hukum dan petunjuk hidup, Al-Qur’an juga sumber inspirasi. Jelas, jawaban hukum, petunjuk hidup, dan inspirasi, tidak cukup didapatkan hanya dengan tilawah atau qiraah. Umat Islam harus melakukan tadarus. Itu yang dimaksud berdialog atau berunding dengan Al-Qur’an. Perangkat pendukungnya tentu keterangan ulama, sebagaimana terdapat dalam kitab-kitab tafsir standar. Sudahkah umat Islam melakukan tadarus? Belum. Bahkan, yang selama ini kits tradisikan saat Ramadlan, sesungguhnya baru tilawah atau seclikit qiraah. Belum tadarus.
Terjawab sudah, kenapa Al-Qur’an belum mewarnai sendi kehidupan. Sangat jarang umat Islam terinspirasi dari Al-Qur’an, lalu menyingsingkan lengan untuk melakukan observasi di laboratorium semesta raya. Lantas, apakah tilawah dan qiraah itu dilarang? Tentu ticlak. Bahkan, semua dibalas pahala berganda. Tetapi, jika umat Islam sampai pada tingkat tadarus, maka Al-Qur’an akan benar-benar menjadi kompas hidup, solusi masalah, inspirasi intelektual, bahkan obat duka.
Simaklah firman Allah berikut. “Kami telah mengutus Muhammad ke tengah-tengah kalian sebagai seorang Rasul yang berasal dari bangsa kalian sendiri. Muhammad membacakan ayat-ayat Kami kepada kalian, menyucikan diri kalian, mengajarkan kalian Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan kalian segala yang sebelumnya belum kalian ketahui.” (QsAl-Baqarah [2]: 151).

M Husnaini, warga Muhammadiyah di Takerharjo Solokuro Lamongan. Penulis Buku “Menemukan Bahagia.”