Puisi: “Bulan, Apa Betul Itu, Kau Sulit Dilihat?”

Kelihatan tak
kelihatan

Bulan terus
meluncur di garis pelayangan
Berabad-abad
dalam peredaran
Sangat Patuh tak
ada penyimpangan
Berlayar di
angkasa berdua dengan matahri
Jadwal tanpa
selisih 1/10 detik pun selama ini
Yang satu menyiramkan cahaya,
yang lain menyiapkan keindahan
Bergilir siang
dan malam, tanpa saling mendahului.
Berlayar di
angkasa berziliun dengan bintang galaksi raya
Lihat mereka
tawaf sangat teratur di alam semesta
Berada amat
cantik dengan logika matematika
Dalam diseiplin dingin dan
jelasnya ritma
Seroang anak tiga
belas tahun di bulab Sya’ban
Menjelang suatu maghrib berseru
kepada bulan
“Rembulan, adakah lagi teka-teki yang akan kau
suguhkan
Tentang nama hari apa gerangan, awal dan akhir
Ramadhan?”
Anak itu memasang
teleskop ketika rembulan melihat ke bumi
Di kalbunya sedang tumbuh
iman, diotaknya ilmu falak dan eksak
“Anak muda, saya tak pernah
suka berteka teki
Saya dapat
perintah berlayar, arah sampai detikku, sangat pasti

Kelihatan
tak kelihatan
Bulan terus meluncur di garis
perlayangan
Berabad-abad dalam peredaran

Sangat patuhnya
tak ada penyimpangan
Anak itu mengatur
lensa, lalu mengintip teropong bintang gemintang
Kemudian dengan
bulan terus berdiskusi
“Rembulan, kenapa ketika harus terbit
sebagai sabit
Kamu sekali-kali tak tampak, apakah bersembunyi?”
Bulan tertawa
diatas sana, hampir saja tampak giginya
“Di langit kok sembunyi,
bagaimana ini?
Setiap tanggal satu saya selalu melapor tepat di
tempat
Dan sumpah, melanggar perintah saya takut sekali
Kelihatan tak
kelihatan
Bulan terus meluncur di garis pelayangan
Berabad-adba
dalam peredaran
Sangat patuhnya
tak ada penyipangan
Sang anak
mengamati catatanya, angka-angka astronomi
Melalui lensa
ruang angkasa malam hari dia amati
“Tapi kenapa terkadang bentuk
sabitmu tak kelihatan
Wahai rembulan yang dinanti-nantikan
Kecil sekali
bentukku sebagai sabit., terbit di kali langit
Sudutnya sangat
rendah dan bila langit tak cerah
Misalkan ada saja kabut selayang
dan awan secercah
Wajah sabitku menit itu jadi
tertutuplah

Kelihatan tak kelihatan

Bulan taerus
meluncur di garis pelayangan
Berabad-abad dalam peredaran
Sangat patuhnya
tak ada penyimpangam
Sang Al-Biruni
kecil tetap saja masih penasaran
Dia masih juga mengajukan
pertanyaan
Apakah
terdapar perbedaan situasi
Cakrawala empat belas abad lalu dengan
yang kini?”
Tentu saja
keadan berbeda sekali
Dahulu kala langit sangat jernih tak ada
cemar polusi
Betapa luar biasa seimbang secara fisika dan kimiawi
Paling paling
sesekali awan dan kabut tipis melapisi
Kini berjuta pabrik di
dunia menyisakan emisi
Ratusan gas limbah jadi tabir menghalangi
Terapung-apung
diatas kulit bumi
Sehingga kaki
langit tak sebersih dahulu lagi
Seperti ada selaput tipis
menabiri
Sehingga terhalang pandan bulan sabit pertama hari
Itulah
yang kami kira saya tak menampakkan diri”
Kelihatan tak
kelihatan
Bulan terus meluncur di garis pelayangan
Berabad-abad
dalam peredaran
Sangat patuhnya tak ada penyimpangan
Sang ulug bek
kecil sangat kritis cara berfikirnya
Kepada bulan
diajukan lagi sebuah tanya
“Bila bulan sabit tak tampak pada
waktunya
Mengapa Rosul menyuruh menggenapkan bilangan bulannya?”
Kamu muda, cerdas
dan luas logikamu
Itulah yang harus terus tak jemu kau renungkan
selalu
Apa akna lebih
dalam yang Rasul maksudkan
Tentang urusan dunia kita ini yang
mesti kita fahamkan
terima kasih
rembulan, menarik benar diskusi ini”
Ujar sang cendekia sangat
muda di ujung teropong bintangnya
“Banyak soal jadi jelas
sekarang bagi saya. Trims ya
Sekarang apa rencanamu, wahai
rembulanku?”

Rembulan yang bijak itu tersenyum kini, tapi
giginya sembunyi
“Wah, kamu meledek saya, ya, anak bumi
Tentu
saja saya terus melayang tak henti-henti

Berdua dengan
sejoli saya sang matahari
Berziliun dengan
gemintang raya di galaksi
Di garis edar yang ditentukan Maha
Pencipta Semesta ini
Di setiap titik
ruang angkasa, jadwal saya sudah di tentukan pasti
Bermilyar
kilometer, berjuta tahun cahaya
Tidak ada kosak kata berhenti bagi
kami
Kecuali bila datang perintah dari Yang Maha
Tinggi
‘Berhenti!’
Dan kiamatpun jadi

Rembulan, rembulan! Tunggu!
Jadi kalau kiamat nanti
Kamu
tidak ada lagi?”

“Tidak ada, anak bumi, tidak ada
lagi
Masa dinas saya selesai sudah, kita tak ketemu lagi
Karena
itu, puas-puaskan melihat wajah saya ini
Tulislah agak sebagir
puisi
Dah-dah, anak bumi!”
Dah-dah, anak bumi!”

*
Puisi ini ditulis oleh Taufik Ismail pada hari Rabu, 14 Ramadhan
1420/12 Desember 199 17.20 di Masjidil Haram Makkah, Lantai 2, shaf
79 depan dinding barat Hijr Ismail dan Rukun Yamani, dimuat dalam
harian Republika, Sabtu 15 Desember 2002