Dr.Haedar Nashir : Islam Agama Yang Mencerahkan

Masyarakat Indonesia dengan mayoritas umat Islam belum menampilkan diri sebagai masyarakat yang berkemajuan tinggi, baik kemajuan mental-spiritual maupun fisik-jasmaniah. Demikian halnya untuk kemajuan dalam kehidupan politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan budaya dengan bingkai nilai-nilai luhur
keis­laman. Usaha-usaha
dakwah selama ini telah dilakukan sepanjang kemampuan, namun proses clan hasilnya tentu harus
terus dimaksimalkan sehingga mencapai kondisi kehi­dupan umat dan bangsa yang
berkemajuan di segala bidang kehidupan.

Karenanya diperlukan usaha terus-menerus dalam mencerahkan kehidupan umat Islam pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya sehingga tercapai Indone­sia
berkemajuan yang bersifat utuh dan menyeluruh. Dalam konteks inilah maka
semakin penting dan strategic peranan gerakan-gerakan
Islam dalam mencerahkan kehidupan umat dan bangsa menuju kondisi
berkemajuan. Tampilkanlah Islam sebagai agama yang mencerahkan kehidupan
semesta.
Islam yang
Mencerahkan
Islam sesungguhnya agama yang
mencerahkan (din at-tanwir). Kehadiran Islam membawa
misi penting untuk mengeluarkan umat manusia dari segala bentuk kegelapan (kejahiliyahan) menuju pada keadaan terang-benderang,
takhrij min al-dhulumat ila al-nur (Qs. Al-Baqarah-. 257). Pesan­ pesan Islam seperti perintah iqra (Qs. Iqra: 1-5),
AI-Quran sebagai hidayah-bayan-furqan
(Qs. Al-Bacarah: 189), agar setiap umat mengubah nasib dirinya dan memperhatikan
masa depan (Qs. Ar-ra’du: 11; AI-Hasyr: 18), membebaskan kaum dhu’afa-mustadh’afin
(Qs. Al-Ma’un: 1-7: AI-Balad: , dst), men­jadi khalifah di muka bumi untuk
membangun dan tidak untuk merusak (Qs. Al-Baqarah: 30; Hud: 61; Al-Baqarah: 11;
dst.); merupakan bukti dari ajaran yang
menawarkan pencerahan bagi umat manusia semesta.
Pesan
Islam yang mencerahkan capat ditemukan dalam pecan terakhir Nabi pada Khutbat
al-Wada atau Khutbah Pamungkas, yang artinya berikut ini:
“Wahai manusia sekalian!
Perhatikanlah kata-kata ini! Saya tidak tahu,
kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi saya akan
bertemu dengan kamu sekalian.
“Saudara-saudara! Bahwasannya darah kamu dan
harta­ benda kamu sekalian adalah suci buat
kamu, seperti hari ini dan bulan ini
yang suci, sampai datang masanya kamu sekalian
menghadap Tuhan. Dan pasti akan menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggungjawaban atas segala
perbuatanmu. Ya, aku sudah menyampaikan ini!
“Barang siapa telah diserahi amanat, tunaikanlah
amanat itu kepada yang berhak menerimanya.
“Bahwa semua riba sudah
tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali
modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya
terhadap orang lain, dan jangan pula kamu berbuat dlalim merugikan orang
lain, dan jangan pula kamu teraniaya dirugikan. Allah telah menentukan bahwa
tidak boleh ada lagi riba dan bahwa riba ‘Abbas bin Abdul-Muthalib semua sudah
tidak berlaku.
“Bahwa semua tuntutan
darah selama masa jahiliyah ticak berlaku lagi,
clan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibnu Rabi’ah bin
al-Haris bin Abdul­Muthalib!
“Kemudian daripada itu saudara-saudara. Hari ini
nafsu setan yang meminta disembah di negeri
ini sudah putus untuk selama-lamanya. Tetapi, kalau kamu turutkan dia walaupun
dalam hal yang kamu anggap kecil, yang berarti merendahkan segala aural
perbuatanmu, niscaya akan senanglah dia. Oleh karena itu peliharalah agamamu
ini balk-balk.
“Saudara-saudara. Menunda-nunda berlakunya
larangan bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Dengan itu orang­ orang
kafir itu tersesat. Suatu tahun mereka langgar dan pada tahun lain mereka
sucikan, untuk di sesuaikan dengan jumlah yang sudah disucikan Allah. Kemudian
mereka menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah clan mengharamkan mana yang
sudah dihalalkan.
“Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit
dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut
Allah ada dua belas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan suci, tiga
bulan berturut-turut dan bulan Rajab itu
antara bulan Jumadilakhir clan Sya’ban.
Kemudian
daripada itu, saudara saudara sebagaimana kamu
punya hak atas istri kamu, juga istrimu sama mempunyai hak atas kamu.
Hak kamu atas mereka ialah untuk tidak men­gizinkan
orang yang kamu tidak sukai menginjakkan kaki di atas lantai rumahmu,
dan jangan sampai mereka secara jelas membawa
perbuatan keji. Kalau sampai mereka melakukan itu Allah mengizinkan kamu berpisah ranjang dengan me­reka dan
boleh menghukum mereka dengan suatu hukuman yang tidak sampai mengganggu. Bila
mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka kewajiban kamulah memberi nafkah
dan dan pakaian kepada mereka dengan sopan santun. Berlaku baiklah terhadap istri kamu, mereka itu mitra yang
memban­tumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu
mengambil mereka sebagai amanat Allah, dan kehormatan mereka di halalkan buat
kamu dengan nama Allah.
“Perhatikanlah kata-kataku
ini, Saudara-saudara. Saya sudah menyampaikan ini.
Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan di tangan kamu, yang jika kamu pegang
teguh, kamu tidak akan resat selama-lamanya;
Kitabullah dan Sun­nah Rasulullah.
“Wahai manusia sekalian!
Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan, Kamu
akan mengerti, bahwa setiap Muslim saudara Muslim yang lain, dan bahwa Muslimin
semua ber­saudara. Seseorang tidak
dibenarkan (mengambil sesuatu) darim saudaranya, kecuali jika dengan
senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.
“Ya Allah,
sudah kusampaikan (ajaran-Mu) ini.
Pada haji wada itulah Nabi
menyampaikan wahyu Allah yang pamungkas, yang
artinya: “Pada hari ini telah Kusem­purnakan
untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah
Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs Al-Maidah: 3).
Peradaban
Mencerahkan
Islam sebagai agama yang
mencerahkan kehidupan memiliki
rujukan model uswah hasanah pada pada zaman Nabi
lima betas abad yang lampau dan era pencerahan Islam sesudahnya. Risalah Nabi Muhammad bersama kaum Musli­mun selama 23 tahun telah membawa pencerahan dari
bangsa Arab yang terstruktur dalam
sistem jahiliyah menjadi bangsa yang tercerahkan sehingga
IahirAI-Madinah Al-Munawwarah, yakni kota peradaban yang cerah dan mencerahkan.
Nabi berhasil mengubah Yasrib sebagai kawasan pede­saan
menjadi kota yang berperadaban utama di segala bidang kehidupan. Bangsa Arab
yang bertuhan politheis diubah men­jadi masyarakat bertauhid. Bangsa yang
semula merendahkan men iadi menjunjung tinggi martabat perempuan. Bangsa yang
amoral menjadi berakhlaq mulia. Fath al-Makkah menjadi sim­bol dari lahirnya peradaban umat manusia yang
tercerahkan itu. Dari titik peradaban
“al-munawwarah” itulah kemudian Islam meluas ke seluruh kawasan dunia. yang melahirkan era
kejayaan !slam sebagai puncak peradaban yang utama
selama
lima sampai enam abad lamanya, tatkala dunia Barat kala itu masih teridur lelap
di era kegelapan.
Pada era kejayaan Islam itu
umat Islam unggul dalam moral
dan keadaban, sekaligus dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Para
ilmu­wan Islam lahir
sebagai sosok-sosok pencerah peradaban sebutlah
Al-Farabi, Ibn Maskaweih, Al-Khawarizmi, AI-Kindi, AI-Ghazali, Ibn Khalclun, Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibn Bathutah, dan ilmuwan-ilmuwan kelas dunia lainnya.
Universitas Al­Azhar di Cairo Mesir
tampil sebagai perguruan tinggi tertua di dunia, yang berdiri tahun 920
M di era Dinasti Fatimiyah. Cordoba di
Spanyol dan kota-kota lain seperti Bagdad di Iraq, Turki era Dinasti
Othoman, dan lain-lain menjadi simbol kemajuan dunia Islam. Sejak itu peradaban
Islam meluas ke jazirah Afrika, Eropa, Asia, termasuk ke Indonesia sebagai
peradaban global dan kosmopolitan.
Islam sebagai agama yang mencerahkan menawarkan jalan perubahan dari kehidupan yang tertinggal atau terbe­lakang
menuju pada kemajuan hidup dalam segala bidang kehidupan yang dijiwai
nilai-nilai universal Islam. Agama yang mencerahkan ini dalam konteks keumatan
menawarkan jalan transformasi (strategi perubahan yang progresif) menuju ter­wujudnya
umat terbaik atau khaira ummat (Qs Ali Imran: 110). Khaira ummah memiliki watak
sebagai ummatan wasatha dan syuhada ‘ala al-nas (Qs AI-Baqarah-. 143). Inilah
idealisasi masyarakat yang diidam-idamkan
dalam konstruksi teologi Islam yang mencerahkan.
Meminjarn referensi AI-Farabi,
umat terbaik adalah umat yang utama
(al-mujtama’ al-fadhilah), yang mem­bedakannya dari umat-umat yang lain. Sedangka dalam rujukan Muhammadiyah, khaira ummah adalah masyarakat Islam
yang sebenar-benarnya. Ciri masyarakat Islam yang sebenar-benarnya menurut Muhammadiyah ialah masya­rakat yang
berketuhanan dan beragama, berpersaudaraan, berakhlak dan beradab, berhukum
syar’i, berkesejahteraan, bermusyawarah,
berihsan, berkemajuan, berkepemimpinan, dan berketertiban.
Karenanya,
usaha-usaha dakwah yang dilakukan oleh gerakan-gerakan
Islam untuk mewujudkan Islam dalam kehidupan
yang bersifat kekinian haruslah membawa dan bersifat mencerahkan. Sejatinya, dengan sifatnya yang demokratis dan membawa perubahan menuju ke jalan
Allah yang menyelamatkan kehidupan umat manusia di dunia dan akhirat,
maka setiap gerakan dakwah Islam harus berwatak transformasi pencerahan. Sebaliknya, bukanlah gerakan dakwah kalau tidak menyinari atau tidak
mencerahkan kehi­dupan, balk kehidupan
para pemeluknya maupun umat ma­nusia keseluruhannya. Di situlah fungsi
gerakan Islam untuk menyebarluaskan dan mewujudkan Islam sebagai manifestasi risalah rahmatan lil-‘alamin menuju terwujudnya
peradaban yang mencerahkan di muka bumi sepanjang zaman.•

Dr. H. Haedar Nashir , Msi